JK Bertemu Tokoh Perdamaian Malino Poso-Ambon Respons Polemik Ceramah di UGM

kumparan.com
3 jam lalu
Cover Berita

Wakil Presiden ke-10 dan ke-12 RI, Jusuf Kalla (JK), menggelar pertemuan dengan para pelaku sejarah perundingan damai Malino I untuk Poso dan Malino II untuk Maluku di Kuningan, Jakarta Selatan, Selasa (21/4). Pertemuan ini dihadiri oleh perwakilan tokoh Muslim dan Kristen dari kedua wilayah tersebut.

Pertemuan ini dilakukan di tengah polemik potongan video ceramahnya di Universitas Gajah Mada (UGM) yang berujung pada pelaporan polisi.

"Terima kasih untuk pertemuan, pertemuan ini untuk memberikan situasi lebih baik," ujar JK dalam pertemuan tersebut.

"Saya mengundang bapak-bapak, teman-teman dari Ambon dan Poso untuk memberikan pengertian kepada kita semua, berbagi pengalaman," tambahnya.

Dalam kesempatan itu, JK menjelaskan bahwa ceramahnya di UGM sebenarnya membicarakan tentang proses perdamaian dunia dan nasional. Ia menyebut di Indonesia terdapat 15 konflik besar, di mana salah satu pemicunya adalah persepsi yang salah mengenai ajaran agama saat terjadi konflik.

"Saya bilang ada konflik karena agama. Konflik karena agama itu, kenapa? Karena tiba-tiba orang merasa bahwa kalau dia berjuang, mati atau mematikan, dia akan masuk surga. Itu kasus di Poso dan Maluku bukan keseluruhan, bukan keseluruhan," jelas JK.

Sejumlah tokoh agama yang hadir dari Poso di antaranya Pendeta Rudolf Metusala, Pendeta Rinaldi Damanik, Pdt. Jetroson Rense, Pdt. Dajaramo Tasiabe, Ustaz Sugianto Kaimuddin, Ustaz Muh. Amin, Ustaz Samsul Lawenga, dan Ustaz Mualim Fauzil.

Sementara dari Maluku hadir Pdt. Prof. John Ruhulessin, Prof. Hasbullah Toisutta, dan Ustaz Hadi Basalamah.

Sebelumnya diberitakan, potongan video ceramah JK di UGM pada Maret 2026 dilaporkan ke Polda Metro Jaya oleh Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI) atas dugaan penistaan agama.

Namun, pihak JK menegaskan bahwa pernyataan tersebut dipotong dan tidak utuh, karena tujuan aslinya adalah menceritakan pengalaman meredam doktrin keliru yang memicu konflik di masa lalu.

"Mudah-mudahan Allah memaafkan para pemfitnah itu. Al-fitnatu asyaddu minal qatl. Fitnah itu lebih kejam dari pembunuhan. Semua memfitnah saya," kata JK di kediamannya, Sabtu (18/4).

Terkait substansi pidatonya di UGM, JK juga sempat meluruskan bahwa dirinya sama sekali tidak sedang menistakan ajaran agama Islam maupun Kristen. Kalimat yang ia lontarkan adalah rekam jejak fakta sosiologis mengenai strateginya dalam konflik berdarah di Poso dan Ambon puluhan tahun silam.

"Jadi konteks pernyataan saya di UGM itu cuma dua kalimat menceritakan kenapa mereka mau saling membunuh, karena mereka salah paham menganggap itu jalan ke surga. Saya membantah pemahaman mereka yang salah itu," pungkasnya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Tinjau Sentra Pendidikan di Mimika, Gibran Soroti Minimnya Penerangan
• 3 jam laluviva.co.id
thumb
Matangkan Rencana Pembangunan "Giant Sea Wall", Presiden Libatkan Perguruan Tinggi
• 19 jam lalukompas.id
thumb
KLH Tempuh Jalur Pidana, Mantan Kepala Dinas LH Jakarta Tersangka Kasus Longsor Bantargebang
• 18 jam lalubisnis.com
thumb
Jika Harga Minyak Tetap Tinggi, Pertamax Berpotensi Naik
• 18 jam lalukompas.id
thumb
Elite PSI Peringatkan JK: Jokowi Jadi Presiden Bukan Satu Orang Faktor Penentu
• 20 jam lalujpnn.com
Berhasil disimpan.