Bisnis.com, BALIKPAPAN — Lapangan Usaha (LU) pertambangan dan penggalian batu bara Kalimantan Timur mencatatkan pertumbuhan positif 0,45% secara tahunan (year on year/yoy) pada kuartal IV/2025, sekaligus membalikkan kontraksi 0,19% di periode sebelumnya.
Kendati demikian, lonjakan curah hujan hingga 317,7 mm per bulan yang notabene melampaui rata-rata tahunan menjadi penghambat utama pencapaian potensi produksi optimal.
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Kalimantan Timur Jajang Hermawan menyatakan permintaan dari negara mitra dagang sebenarnya meningkat, terutama untuk pemenuhan kebutuhan energi di musim dingin.
"Perkembangan tersebut membuka ruang kebutuhan pasokan tambahan dari negara mitra, sehingga turut mendukung kinerja ekspor batu bara Indonesia pada periode pelaporan," kata Jajang Hermawan dalam keterangan resmi, Selasa (21/4/2026).
Dia menambahkan, volume ekspor batu bara mengalami kenaikan 0,93% (yoy), mencerminkan pulihnya permintaan negara mitra dagang.
Dinamika ini semakin terbuka lebar seiring dengan kontraksi produksi batu bara domestik China sebesar 0,63% (year-on-year/yoy) pada periode yang sama.
Baca Juga
- Petani Sawit Kaltim Kebanjiran Rezeki di Tengah Gejolak Geopolitik
- Daya Beli Petani Kaltim Tergerus 0,72% pada Maret 2026
- Ekspor Kaltim Naik, Impor Ambruk di Februari 2026
Celah pasokan tersebut membuka ruang bagi Indonesia untuk mengisi kebutuhan energi kawasan.
Kendati demikian, intensitas hujan tinggi mengganggu kelancaran aktivitas penambangan dan logistik di area operasional.
Akibatnya, peningkatan produksi tidak dapat sepenuhnya menyerap lonjakan permintaan yang tersedia.
Di sisi perbankan, penyaluran kredit sektor pertambangan tercatat mengalami kontraksi 0,60% (yoy), meskipun memperlihatkan tren perbaikan dibandingkan triwulan sebelumnya.
Adapun, dia menuturkan kinerja LU pertambangan menunjukkan sinyal pemulihan yang perlu didukung dengan strategi antisipasi kendala operasional akibat faktor cuaca.





