Kisah Siti Jadi Tulang Punggung Keluarga, Jual Aset demi Suami Sembuh Stroke

kompas.com
18 jam lalu
Cover Berita

BOGOR, KOMPAS.com - Peringatan Hari Kartini selalu berulang setiap tahun, tepatnya 21 April. Perjuangan Kartini sangat dikenal dalam emansipasi wanita dan pendidikan bagi bangsa Indonesia.

Kini, perempuan di seluruh wilayah mewariskan tekad Kartini untuk tidak menyerah pada nasib.

Mereka memiliki caranya masing-masing dalam mencerminkan semangat dari pejuang bagi kaum perempuan.

Baca juga: Kisah Iin, Kartini Penakluk Lumpur dan Sampah di Sungai Jakarta Barat

Tekad Kartini tecermin oleh Siti Maesaroh (49) yang memilih melepas hartanya untuk biaya pengobatan sang suami yang terkena stroke sejak 2016 lalu sampai saat ini dan membiayai kedua anaknya.

Sejak pertama kali serangan stroke suaminya yang berumur 54 itu, alarm pada gawainya belum berbunyi tapi tubuh Siti sudah bangun duluan.

Sudah 10 tahun tubuhnya memiliki alarm sendiri.

Sekitar pukul 04.00 WIB, rutinitas pertamanya bukan membuka warung seluas sekitar 5 meter x 2,5 meter itu di wilayah Bogor Utara, Kota Bogor, melainkan menyalakan kompor untuk mempersiapkan air hangat guna minum sang suaminya.

"Kalau lagi ada kegiatan mau ke rumah sakit, karena kita punya orang sakit, masak air. Masak lah sebelum solat subuh, bantuin ayah mandi juga," kata Siti Maesaroh saat ditemui Kompas.com di Bogor Utara, pada Selasa (21/4/2026).

Kemudian, mempersiapkan sarapan bagi kedua anaknya yakni Rangga (24) dan Sella (16).

"Ngurus yang sakit, yang sekolah, semuanya. Sudah jadi kepala keluarga," jelas dia.

Dirinya selalu memeriksa jadwal check up ke dokter saraf untuk mengobati suaminya.

Baca juga: Gaji UMP Tak Cukup, Kadang Utang Cerita Putri Single Parent yang Hidupi Dua Anak

Catatan jadwal itu tergabung pada sebuah buku catatan utang warungnya.

Lalu, pengobatan fisioterapi dipaksa dihentikan karena terkendala biaya untuk ongkos pergi ke rumah sakit yang dituju.

"Fisioterapi udah enggak ambil karena kita kepentok sama ongkos, itu seminggu dua kali, kalau ongkos enggak ada ya enggak berangkat," jelasnya.

.ads-partner-wrap > div { background: transparent; } #div-gpt-ad-Zone_OSM { position: sticky; position: -webkit-sticky; width:100%; height:100%; display:-webkit-box; display:-ms-flexbox; display:flex; -webkit-box-align:center; -ms-flex-align:center; align-items:center; -webkit-box-pack:center; -ms-flex-pack:center; justify-content:center; top: 100px; }

Saat memiliki rezeki untuk pengobatan, Siti Maesaroh memilih untuk menempuh terapi alternatif seperti akupunktur maupun fisioterapi dengan merogoh kocek sekitar Rp 150.000.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Purbaya Klaim S&P Beri Sinyal Rating Utang RI Tak Berubah 2 Tahun ke Depan
• 23 jam lalubisnis.com
thumb
Propindo: Pembahasan RUU Advokat Harus Menggandeng Organisasi Profesi
• 6 jam lalujpnn.com
thumb
Wall Street Babak Belur kala Investor Pesimistis AS–Iran Tak Kunjung Damai
• 10 jam lalukatadata.co.id
thumb
Denda Rp 91 Juta dan Larangan Masuk Saudi Selama 10 Tahun bagi Jamaah Haji Ilegal
• 9 jam lalurepublika.co.id
thumb
Kerawanan Selat Malaka dan Kontingensi Konflik Asimetris di Kawasan
• 44 menit laludetik.com
Berhasil disimpan.