REPUBLIKA.CO.ID, MOSCOW— Seorang analis Rusia, Vasili Zaitsev, berpendapat gencatan senjata dalam perang Amerika-Israel melawan Iran merupakan momen yang memperlihatkan kehinaan Washington, yang maknanya mirip dengan apa yang secara historis dikenal sebagai Momen Suez.
Dalam artikelnya di surat kabar Rusia Gazeta dikutip Aljazeera, Rabu (22/4/2026), dia menjelaskan istilah ini digunakan untuk menggambarkan momen kejatuhan, ketika pada1956, wibawa kekaisaran tampak sedang berjaya, seperti yang terjadi pada Inggris setelah krisis Suez tahun 1956.
Baca Juga
Bukan Perang Pura-pura, Aljazeera Ungkap Pertarungan Iran VS Israel Penuh Darah Berbalut Teknologi
Muncul Seusai Hormuz Ditutup, Mojtaba Khamenei: Iran Siap Beri AS dan Israel Kekalahan Lagi
Setelah Burung Gagak, Kini Puluhan Ribu Lebah Mendadak Kepung Israel Selatan
Inggris memang menang secara militer atas Mesir, namun pada akhirnya kalah secara politik, setelah dipaksa oleh Amerika Serikat untuk mundur dan menyerahkan Terusan Suez kepada mendiang Presiden Mesir, Gamal Abdel Nasser.
Menurut penulis, rencana tersebut—yang mengingatkan pada apa yang dikatakan Trump saat ini—berdasarkan pada penghancuran peradaban Mesir melalui melumpuhkan perekonomian dan menempatkan penguasa yang lebih patuh.
.rec-desc {padding: 7px !important;}
Dengan demikian, Zaitsev berpendapat bahwa kemiripan dengan perang Iran sangat jelas. Trump memasuki perang dengan janji-janji besar, yaitu menggulingkan rezim, merebut uranium yang telah diperkaya, dan menaklukkan Iran dengan paksa.
Namun, menurut penulis, perang itu berakhir tanpa tercapainya tujuan-tujuan tersebut, karena Iran tidak hancur, melainkan justru keluar dengan kemampuan yang lebih besar untuk memaksakan syarat-syaratnya.
Kegagalan tujuan
Penulis menambahkan penghinaan tidak hanya terletak pada kegagalan tujuan, melainkan pada mundurnya Amerika Serikat itu sendiri.
Lihat postingan ini di Instagram
Sebuah kiriman dibagikan oleh Republika Online (@republikaonline)