REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sunat atau sirkumsisi disebut berkaitan dengan penurunan risiko infeksi Human Papillomavirus (HPV) pada laki-laki. Virus yang tidak hanya mengancam perempuan ini memiliki dampak kesehatan yang luas, termasuk pada pria yang dapat menjadi pembawa sekaligus penderita penyakit terkait HPV.
Data global mencatat hampir satu dari tiga pria berusia di atas 15 tahun terinfeksi setidaknya satu jenis virus HPV. Selain itu, laki-laki juga berkontribusi pada sekitar 40 persen dari seluruh kasus kanker terkait HPV di dunia, termasuk kanker tenggorokan, anus, dan penis yang prevalensinya terus menunjukkan tren peningkatan.
Baca Juga
Mengapa Anak Laki-Laki Perlu Divaksinasi HPV?
Infeksi HPV Nggak Cuma Dialami Wanita, Ini Fakta Mengejutkan yang Pria Perlu Tahu
Viral Aktris Anne Hathaway Ucap 'Insya Allah' Saat Wawancara
Dokter spesialis kulit dan kelamin, dr Hanny Nilasari, mengatakan salah satu faktor risiko penularan HPV pada laki-laki berkaitan dengan status sirkumsisi. Menurutnya, infeksi HPV dapat bersifat tersembunyi dan bisa menginfeksi kulit maupun mukosa, meskipun sebagian virus dapat hilang secara alami dalam waktu sekitar 12 bulan.
Siswa mendapatkan vaksinasi HPV (ilustrasi). - (EPA-EFE/HOTLI SIMANJUNTAK)
.rec-desc {padding: 7px !important;}
Namun, ia menegaskan bahwa pada laki-laki yang tidak disunat, terdapat potensi yang lebih besar untuk terpapar HPV. "Karena sebetulnya infeksi HPV itu bisa tersembunyi ya. Meskipun sangat infeksius dan bisa tereradikasi dari permukaan kulit atau mukosa dalam 12 bulan, tetap saja kalau tidak melakukan sirkumsisi, potensi terinfeksi HPV nya lebih besar," kata dr Hanny dalam diskusi media di Jakarta Pusat, Selasa (21/4/2026).
Ketua Satuan Tugas Imunisasi Anak Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Prof dr Hartono Gunardi, sepakat dengan hal tersebut. Menurut dia, sejumlah literatur telah menunjukkan bahwa angka infeksi HPV lebih rendah pada anak yang telah menjalani sirkumsisi.