Produsen AC Asal China, Gree, Bidik Ekspansi Produk Baru di RI

kumparan.com
2 jam lalu
Cover Berita

Produsen peralatan rumah tangga asal China, Gree, membidik ekspansi yang lebih luas pada pasar Indonesia meskipun tren penjualan produk pendingin ruangan atau air conditioner (AC) tengah lesu karena ketidakpastian ekonomi.

Regional General Manager for Asia and Oceania Gree, William Zhao, menyebutkan bahwa Gree telah merajai pangsa pasar AC di Indonesia, terutama bagi sektor residensial atau perumahan. Gree ekspansi bisnis di Indonesia sejak tahun 2005 silam.

"Kami mengembangkan di Indonesia sejak tahun 2005. Itu adalah distributor lama. Pada tahun 2015, kami beralih ke distributor baru. Saat ini, distributor ini mengembangkan kantor pusatnya di Jakarta. Dan mereka membangun jaringan sosial di seluruh Indonesia," ungkapnya saat ditemui kumparan di kantor pusat Gree di Zhuhai, China, Selasa (21/4).

William menyebutkan, Gree kini memiliki sekitar 12 perusahaan cabang di berbagai wilayah di Indonesia, seperti Bali, Makassar, dan Surabaya, yang mencakup penjualan dan penyediaan barang.

Kendati demikian, lanjut dia, Gree tidak memiliki pabrik manufaktur di Indonesia, sebab seluruh proses penjualan dilakukan melalui distributor.

Ada dua pendekatan yang dilakukan Gree dalam memasarkan produknya, yakni mengimpor utuh atau Completely Built Unit (CBU) dari China atau Self-Knock Down (SKD) yang kemudian dirakit di Indonesia, lebih tepatnya di Semarang, Jawa Tengah.

Tantangan Bisnis di Indonesia

Produsen AC terbesar di dunia tersebut menilai bahwa iklim bisnis di Indonesia tengah dihadapi berbagai tantangan, utamanya adalah dari penurunan permintaan (demand) karena kondisi ekonomi masyarakat yang tidak menentu di tengah memanasnya perang di Timur Tengah.

"Pertama, ekonomi di Indonesia masih tumbuh. Mungkin tahun ini ada beberapa tantangan karena masalah minyak dan perang. Itu wajar bagi setiap negara-negara Asia Tenggara, Thailand, Malaysia, kita menghadapi tantangan kekurangan minyak," ungkap William.

William menyebutkan penjualan AC di Indonesia sangat laku karena didukung karakteristik cuaca panas dan lembab. Namun, dia menyebutkan bahwa daya beli masyarakat cenderung menurun akhir-akhir ini.

"Tantangannya adalah daya beli masyarakat. Sebagian orang mampu membeli, sebagian lagi tidak mampu membeli. Namun, prediksi kami adalah pasar pendingin ruangan akan tumbuh di masa depan, saat ini sudah tumbuh. Setiap tahunnya terus tumbuh," tuturnya.

Hanya saja, dia optimistis bahwa permintaan AC akan semakin meningkat seiring pertumbuhan ekonomi ke depannya, kendati saat ini dia mengakui bahwa ekonomi Indonesia tumbuh lambat namun tetap dalam tren yang positif.

"Mungkin tahun ini, rasio pertumbuhan PDB sedikit lebih rendah. Tidak negatif, tetapi lebih rendah, namun tetap tumbuh. Jadi, setelah 10 tahun ketika perekonomian tumbuh hingga tingkat tertentu, daya beli masyarakat pasti akan meningkat," kata William.

Selain itu, kenaikan upah pekerja yang cenderung lebih lambat dari laju inflasi membuat banyak konsumen di Indonesia memilih produk yang lebih murah dari Gree, dengan kualitas yang lebih rendah pula.

William mengatakan bahwa kecenderungan masyarakat memilih produk yang berkualitas tinggi dan sepadan dengan harganya terjadi saat perekonomian baik. Namun, perusahaan mengaku tidak akan mengorbankan kualitas hanya demi meningkatkan pangsa pasar.

"Saat ini, tantangan yang kita hadapi adalah meskipun mereka ingin membeli produk berkualitas baik, uang yang tersedia tidak cukup. Jadi, mereka tidak punya pilihan selain membeli merek berkualitas rendah dan murah," tuturnya.

Gree, lanjut dia, sejauh ini tidak berencana mengurangi biaya operasional untuk memenuhi permintaan pelanggan. Sebab, hal tersebut dinilai akan menghilangkan kepercayaan pelanggan jika kualitasnya tidak bagus.

"Kami mempertahankan harga jual yang wajar, tetapi kualitas harus terjamin. Itulah mengapa kami menghadapi tantangan besar dengan beberapa merek murah, tetapi kami memahami hal ini karena jika mereka tidak menurunkan harga, mereka mungkin akan tersingkir dari pasar," jelas William.

Ekspansi Pasar Asia Tenggara

William menuturkan bahwa Gree membuka lapangan pekerjaan sekitar 1.000 tenaga kerja di Indonesia, 95 persen di antaranya merupakan tenaga kerja domestik. Perusahaan membidik ekspansi pada produk selain AC, seperti mesin cuci dan kulkas.

Pekan lalu, kata Willam, ia baru saja mengunjungi Indonesia untuk berdiskusi dengan distributor Gree untuk membahas kondisi pasar kulkas dan mesin cuci di Tanah Air, serta menentukan jenis produk dan harga yang cocok.

"Untuk kulkas dan mesin cuci, kami berencana untuk mengembangkan pasar ini, belum sekarang, tapi kami sudah merencanakannya. Kami sedang memeriksa dan melakukan riset pasar. Kami sudah memiliki rencana ini," ungkapnya.

Adapun pangsa pasar AC Gree di Indonesia mengalahkan para pesaing lain, menjadi nomor satu di sektor residensial dan nomor dua di sektor komersial. Namun, William mengungkapkan kondisi ini tidak sama seperti negara Asia Tenggara lain seperti Filipina dan Thailand.

"Namun di negara lain seperti Filipina, pangsa pasar kami dalam beberapa tahun terakhir tidak begitu baik. Kami perlu bekerja lebih keras untuk meningkatkannya agar kembali mencapai puncak," jelas dia.

Sama halnya dengan Indonesia, William menuturkan bahwa melambatnya perekonomian imbas eskalasi Perang AS-Israel dengan Iran membuat tren penjualan AC di Asia Tenggara ikut melambat. Dia menegaskan bahwa penurunan tren penjualan berlum terlalu signifikan.

Dia juga menyebutkan bahwa perusahaan tidak akan mengorbankan kualitas demi harga yang rendah. Pendekatan ekspansi melalui distributor lokal dinilai sebagai cara ampuh baginya untuk penetrasi pasar di wilayah Asia Tenggara.

"Kami berbeda dengan produsen atau pesaing China lainnya. Kami tidak ingin mengorbankan kualitas demi mencapai biaya rendah. Kami harus mengendalikan diri untuk menjamin kualitas terlebih dahulu baru biaya," ujarnya.

William mengatakan, para distributor bertanggung jawab untuk memperluas merek, mengembangkan saluran distribusi, membangun citra merek, dan mendapatkan pangsa pasar. Hal ini, menurutnya, adalah model bisnis yang berbeda dengan yang lain.

"Kami mempercayai mitra lokal. Bagi kami, yang terpenting adalah masyarakat lokal, mereka mengenal budaya setempat, mereka tahu segalanya lebih baik daripada kami. Jadi kami mempercayai mitra kami dan kami berbagi keuntungan. Itulah perbedaan model bisnis kami dengan para pesaing," katanya.

Ke depannya, Gree berencana mengembangkan produk berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligent/AI), meskipun telah memulai pengembangan sejak 4 tahun lalu dan memasarkannya ke Timur Tengah hingga Asia Tenggara, namun teknologi sudah berkembang pesat ke berbagai generasi.

Adapun perusahaan yang berbasis di Zhuhai, China, ini telah memasarkan produknya ke 190 negara di seluruh dunia. Sejak dibangun pada tahun 1991, perusahaan kini memiliki sekitar 80.000 pekerja.

Gree memiliki 77 basis produksi yang dibangun di Guangdong, Chongqing, Anhui, Hebei, Henan, Hubei, Hunan, Jiangsu, Zhejiang, Tianjin, Sichuan, Jiangxi, Shandong, dan Brazil yang menjadi satu-satunya pabrik di luar China. Perusahaan juga memiliki 6 basis bahan baku energi terbarukan di China.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Nelayan di Makassar Tewas Dibacok
• 5 jam lalueranasional.com
thumb
Roy Suryo Yakin Berkas Perkaranya Tidak Akan Dinyatakan P-21
• 5 jam lalukompas.tv
thumb
Pajak Kendaraan Listrik Tak lagi Nol Persen, Pemprov DKI Jakarta Siapkan Hal Ini
• 20 jam laluliputan6.com
thumb
KPK Geledah Safe Deposit Box Terkait Suap Bea Cukai, Sita Uang-LM Senilai Rp 2 M
• 8 jam lalukumparan.com
thumb
Kubu Roy Suryo Soroti RJ Rismon Sianipar: Bertentangan dengan UU
• 15 jam lalukompas.tv
Berhasil disimpan.