Arsip Foto ”Kompas”: BBM Nonsubsidi di Tengah Lonjakan Harga

kompas.id
6 jam lalu
Cover Berita

Perang di Iran yang berlangsung sejak akhir Februari 2026 telah berdampak luas pada krisis energi. Penutupan Selat Hormuz menimbulkan ketidakpastian distribusi energi dan membuat rantai pasok energi dunia menghadapi masalah yang serius, yaitu harga minyak dunia yang melonjak.

Di tengah gejolak harga minyak dunia, pemerintah telah menegaskan tidak akan menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi. Melalui Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas), pemerintah mengeluarkan aturan yang memperketat penyaluran BBM bersubsidi dan BBM penugasan mulai 1 April 2026.

Kebijakan tersebut tertuang dalam Keputusan Kepala BPH Migas Nomor 024/KOM/BPH.DBBM/2026 tentang Pengendalian Penyaluran Jenis BBM Tertentu (JBT) Solar dan Jenis BBM Khusus Penugasan (JBKP) Pertalite (RON 90).

Sementara untuk BBM nonsubsidi, pemerintah telah mengambil langkah dengan melakukan penyesuaian harga setelah pemerintah memutuskan menaikkan harga minyak mentah Indonesia (Indonesian Crude Price/ICP) pada Maret. ICP Maret 2026 ditetapkan sebesar 102,26 dolar AS per barel, melonjak dari 68,79 dolar AS per barel pada Februari. Hal tersebut berdampak pada harga BBM nonsubisidi atau BBM beroktan tinggi yang mengalami kenaikan signifikan.

Penyesuaian harga itu diumumkan PT Pertamina Patra Niaga, selaku operator penjual BBM milik pemerintah, pada Sabtu (18/4/2026). Penyesuaian harga dilakukan untuk BBM beroktan tinggi jenis Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex.

Di wilayah Jakarta, Pertamax Turbo yang memiliki nilai oktan atau RON 98 naik dari harga Rp 13.100 menjadi Rp 19.400 per liter. Sementara untuk produk diesel, harga Dexlite naik dari Rp 14.200 menjadi Rp 23.600 per liter dan Pertamina Dex naik dari Rp 14.500 per liter menjadi Rp 23.900 per liter. Adapun harga BBM nonsubsidi jenis Pertamax (RON 92) dan Pertamax Green (RON 95) untuk sementara tidak berubah, masing-masing tetap Rp 12.300 dan Rp 12.900 per liter.

Kenaikan harga yang signifikan itu cukup mengejutkan konsumen meski kondisi ini sudah diperkirakan sebelumnya. Dalam perbincangan dengan para pengguna kendaraan diesel yang memakai BBM nonsubsidi, mereka sekarang mesti merogoh kocek lebih untuk mengisi bahan bakar.

Sebagai ilustrasi, bagi pengguna Toyota Innova Reborn yang memiliki kapasitas tangki BBM 55 liter, biaya yang harus dikeluarkan mencapai Rp 1.314.500 untuk mengisi penuh tangki menggunakan Pertamina Dex. Sementara pengguna Toyota Fortuner yang memiliki kapasitas tangki 80 liter mesti mengeluarkan biaya Rp 1.912.000 untuk mengisi penuh tangki BBM menggunakan Pertamina Dex.

Saat ini, Pertamina memiliki sejumlah produk BBM nonsubsidi, seperti Pertamax, Pertamax Green, Pertamax Turbo, Pertamina Dex, dan Dexlite. Dari produk-produk tersebut, Pertamax merupakan produk yang paling awal diluncurkan.

Mengutip laman Pertamina Patra Niaga, Pertamax pertama kali diluncurkan pada 10 Desember 1999 untuk menggantikan Premix dan Super TT. Produk ini direkomendasikan untuk kendaraan yang memiliki kompresi 9,1-10,1, terutama yang sudah mengadopsi teknologi setara dengan electronic fuel injection (EFI) dan catalytic converter.

 

Premix

Pada era 1980-an hingga 1990-an, Super dan Premix merupakan produk bensin dengan oktan tinggi yang dijual Pertamina. Bensin Super yang kemudian menjadi Super TT (Tanpa Timbal) dan memiliki RON-98 digantikan oleh Premix yang mulai diluncurkan pada Mei 1990.  

Premix-92 merupakan hasil pencampuran bensin beroktan 88 (RON-88) dengan MTBE (methyl, tertiary, butyl, ether). Namun, karena Pertamina hanya menjual bensin RON-88, pencampuran itu dilakukan oleh perusahaan-perusahaan swasta.

Lima perusahaan yang telah ditunjuk untuk melakukan pencampuran Premix itu adalah PT Elnusa, PT Humpuss, PT Panutan Salaras, PT Sinar Pedoman Abadi, dan PT Giga Intra. Kelima perusahaan itu sejak awal bulan Mei telah memesan sekitar 10.000 kiloliter (kl) bensin premium RON-88 kepada Pertamina untuk dicampur dengan MTBE menjadi Premix-92. Saat diluncurkan pertama kali, Premix-92 dijual dengan harga Rp 495 per liter (Kompas, 20 Mei 1990).

Premix-92 kemudian digantikan oleh Premix-94 yang dijual pertama kali dengan harga Rp 700 per liter.

Kehadiran Premix-94 saat itu mendapat sambutan positif, terutama dari konsumen yang umumnya masih mengeluh tentang Premix-92. Mutu Premix-92 dinilai kurang baik dibandingkan bensin super, yang telah dihapus.

Premix, bensin campur beroktan 92 yang menggantikan Super-98, mulai dijual di SPBU di wilayah DKI Jakarta, 20 Mei 1990. KOMPAS/HASANUDDIN ASSEGAFF

Harga BBM jenis bensin Premix dan Super TT dinaikkan, yakni untuk Premix dari Rp 1.300 menjadi Rp 1.500 per liter, dan Super Tanpa Timbel (TT) dari Rp 1.400 menjadi Rp 1.600 per liter mulai pukul 00.00 WIB, Sabtu 8 April 2000. KOMPAS/EDDY HASBY

Seorang pengendara sepeda motor mengisi bensin premix ke dalam tangki skuternya di salah satu SPBU di Binjai, Sumatera Utara, 23 April 1991. KOMPAS/MARKUS DUAN ALLO

Pada bulan Mei 1990, menjelang penghapusan bensin Super, Super menguasai sekitar 6 persen dari penjualan Premium.

Namun, memasuki dua tahun setelah dipasarkan, penjualan Premix merosot tajam dan hanya menguasai 2,5 persen dari penjualan Premium. Padahal, populasi mobil yang membutuhkan bensin beroktan tinggi mulai meningkat.

 

Baca JugaArsip Foto Kompas: Timor dan Mimpi Mobil Nasional
Variasi produk BBM nonsubsidi

Kehadiran Pertamax dan Pertamax Plus pada awal 2000-an menjadi satu terobosan dan memberikan persepsi baru tentang penggunaan bahan bakar berkualitas. Meski mendapat sambutan positif, tetap saja isu sensitif seperti kenaikan harga sangat berpengaruh dalam konsumsi.

Fluktuasi harga Pertamax dan Pertamax Plus saat itu membuat sebagian besar konsumen dengan cepat beralih pada penggunaan jenis bahan bakar lain yang lebih murah. Sebab, harga jual Pertamax dan Pertamax Plus mengikuti harga Mid Oil Platts Singapore (MOPS).

”Nanti harganya mengikuti MOPS, ditambah pajak. Kalau harga rata- rata minyak naik, harga Pertamax ikut naik. Sebaliknya, kalau turun juga ikut turun,” kata Direktur Niaga dan Pemasaran Pertamina Arie Soemarno (Kompas, 20 Agustus 2005).

Pada 1 September 2005, pemerintah menaikkan harga Pertamax dari Rp 4.000 menjadi Rp 5.700 per liter dan Pertamax Plus dari Rp 4.200 menjadi Rp 5.900 per liter. Kenaikan harga membuat konsumen bahan bakar tersebut beralih ke Premium yang harganya jauh lebih murah. Permintaan terhadap Premium pun melonjak.

Meski belum sampai mengakibatkan kelangkaan Premium, meningkatnya permintaan ini membuat stok Premium di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum di beberapa kota, seperti di Semarang, habis lebih cepat dari biasanya (Kompas, 5 September 2005).

Turunnya konsumsi dua jenis BBM nonsubsidi itu mendorong Pertamina menurunkan harga sebesar 3 persen pada akhir November 2005 atau dua bulan setelah kenaikan. Pertamax dijual Rp 5.500, sedangkan Pertamax Plus Rp 5.700. Pada Agustus 2005, Pertamina juga meluncurkan produk solar super berlabel Pertamina Dex yang dipasarkan dengan harga Rp 6.300 per liter.

Memasuki awal 2006, persaingan di antara peritel bensin super di Indonesia mulai menghangat dengan masuknya peritel baru. Terhitung 1 November 2005, Pertamina bukan lagi monopoli di bisnis ritel bensin oktan tinggi dengan masuknya Shell yang menjual bensin berlabel Shell Super. Shell membuka SPBU yang pertama di Lippo Karawaci, Tangerang.

Menyusul kemudian pada 20 Desember 2005, perusahaan migas Malaysia, Petronas, mengoperasikan SPBU mereka di Cibubur. Kedua perusahaan asing itu mematok harga jual yang sama dengan Pertamina. Namun, dalam perkembangannya, Petronas kemudian resmi mundur dari bisnis SPBU di Indonesia. Pada 1 Januari 2006, Pertamina kembali menurunkan harga dua jenis bensin super. Harga Pertamax dari Rp 5.400 turun menjadi Rp 5.000, sedangkan harga Pertamax Plus dari Rp 5.700 menjadi Rp 5.200.

Tren positif

Pertamax, yang diperkenalkan sebagai BBM beroktan tinggi sejak sekitar 26 tahun lalu, menjadi awal dari peralihan ke konsumsi BBM nonsubsidi yang lebih berkualitas. Hal itu diikuti dengan kehadiran produk-produk BBM nonsubsidi lainnya. Pertamax Turbo yang memiliki RON 98 diluncurkan pada Agustus 2016.

Produksi Pertamax Turbo ini merupakan kerja sama Pertamina dan Lamborghini, produsen mobil ternama dunia dari Italia. Teknologi yang digunakan adalah Ignition Boost Formula (IBF) dan dirancang untuk kendaraan dengan mesin berteknologi tinggi. Saat pertama kali diluncurkan, Pertamax Turbo yang menggantikan Pertamax Plus dijual dengan harga Rp 8.700 per liter.

Kemudian Pertamax Green, yang merupakan campuran gasolin dengan etanol 5 persen/E5 (bioetanol dengan bahan baku tetes tebu), diluncurkan Pertamina pada Juli 2023. Pada fase awal, produk itu hanya dipasarkan terbatas di 17 SPBU di Jakarta dan Surabaya.

Mesin kendaraan modern menuntut bahan bakar yang tidak hanya menghasilkan tenaga, tetapi juga meminimalkan residu dan emisi. Produk BBM nonsubsidi turut menjadi bagian dari upaya transisi energi meski masih bersumber dari bahan bakar fosil.

Dalam beberapa tahun terakhir, pergeseran tren konsumsi BBM nonsubsidi, yang lebih berkualitas, telah menunjukkan sinyal positif. Namun, kenaikan harga BBM nonsubsidi yang tidak merata juga patut diantisipasi agar disparitas harga yang cukup lebar itu tidak mendorong konsumen membeli BBM dengan harga lebih murah, termasuk kemungkinan beralih ke BBM subsidi.

 

Serial Artikel

Arsip Foto ”Kompas”: Bayang-bayang Operasi Yustisi Pasca-Lebaran

Pada 1970 Gubernur Ali Sadikin pernah memberlakukan kebijakan ”Jakarta sebagai kota tertutup”. Itu untuk mengatur dan mengurangi laju pertambahan penduduk Jakarta.

Baca Artikel


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
KBRI Tokyo: WNI Terpantau Aman, Belum Ada Laporan Korban Gempa
• 18 jam laludisway.id
thumb
Pakar Hukum Ubaya Ungkap Dampak UU PPRT bagi Pekerja Rumah Tangga
• 5 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Asam Urat Tinggi Tak Hanya Serang Kaki, Bisa Picu Serangan Jantung dan Stroke
• 17 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Ibam Bongkar Chat Perdana dengan Nadiem Makarim, Merasa Dikriminalisasi
• 14 jam lalujpnn.com
thumb
Bulog Bengkulu Kenalkan Ketahanan Pangan kepada Pelajar
• 1 jam lalutvrinews.com
Berhasil disimpan.