Cuaca panas ekstrem yang saat ini melanda Tanah Suci menjadi tantangan serius bagi kesehatan jemaah haji Indonesia. Kondisi suhu yang sangat tinggi ini meningkatkan risiko dehidrasi, sehingga jemaah diminta untuk terus waspada dan menjaga keseimbangan cairan tubuh selama menjalankan ibadah.
Kepala Seksi Kesehatan PPIH Daerah Kerja Madinah, dr. Enny Nuryanti, mengungkapkan bahwa dehidrasi merupakan salah satu keluhan kesehatan yang paling sering ditemukan pada jemaah Indonesia. Salah satu pemicu utamanya adalah kebiasaan jemaah yang sengaja mengurangi minum air, karena khawatir akan terlalu sering buang air kecil.
Padahal menurut dr. Enny, kebiasaan mengurangi minum tersebut justru sangat berbahaya dan dapat memperburuk kondisi kesehatan jemaah di tengah cuaca panas. Sebagai solusinya, ia menyarankan jemaah untuk mengonsumsi air secara rutin dengan pola sedikit namun sering. Pola ini bertujuan agar kebutuhan cairan tubuh tetap terpenuhi tanpa menimbulkan rasa tidak nyaman atau keinginan buang air kecil yang berlebihan.
Baca juga: Lansia 86 Tahun di Sulsel Naik Haji dari Jual Rumput Laut Rp1000/Kg
Selain menjaga asupan cairan, jemaah juga diingatkan untuk selalu membawa Alat Pelindung Diri (APD) saat beraktivitas di luar ruangan. Beberapa perlengkapan yang wajib dibawa untuk mengantisipasi panas berlebih meliputi:
- Topi dan kacamata hitam untuk melindungi mata dan kepala.
- Semprotan air untuk menyegarkan wajah secara berkala.
- Masker dan hand sanitizer untuk menjaga kebersihan.
- Pelembap kulit guna mencegah kulit kering akibat cuaca ekstrem.




