PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk (BSI) terus memperluas dampak sosialnya hingga ke wilayah pesisir. Salah satunya melalui pengembangan Kampung Nelayan BSI Warloka di Desa Warloka, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), yang kini menjadi simbol pemberdayaan masyarakat berbasis ekonomi berkelanjutan.
Bagi warga pesisir Warloka, melaut bukan sekadar rutinitas, melainkan cara bertahan hidup. Namun selama ini, keterbatasan sarana dan akses pasar membuat potensi hasil laut yang melimpah belum sepenuhnya mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Terletak di Kecamatan Komodo, Pulau Flores, desa ini hanya berjarak sekitar 20 km atau sekitar 45 menit perjalanan dari pusat wisata Labuan Bajo.
Desa Warloka Pesisir sendiri dikenal memiliki potensi besar dan kini tengah dikembangkan menjadi kawasan wisata sekaligus kampung nelayan modern melalui program Kampung Nelayan Merah Putih. Infrastruktur dasar seperti dermaga pun telah selesai dibangun.
Melengkapi upaya tersebut, BSI menghadirkan program Desa Binaan yang tidak hanya fokus pada bantuan fisik, tetapi juga pendampingan usaha, pelatihan, hingga penguatan koperasi. Pendekatan ini membuka peluang bagi masyarakat untuk tidak hanya bergantung pada hasil tangkapan harian, tetapi juga mengembangkan usaha yang lebih stabil dan berkelanjutan.
Peresmian Kampung Nelayan Warloka menjadi bagian dari eskalasi program Desa Bangun Sejahtera Indonesia (Desa BSI). Sepanjang 2025, BSI telah membuka tiga desa baru yang tersebar di Aceh, NTT, dan Sulawesi Selatan. Hingga kini, total 20 desa telah dibina dengan jumlah penerima manfaat mencapai 7.853 orang di 14 provinsi.
Direktur Utama BSI, Anggoro Eko Cahyo, menegaskan komitmen perusahaan untuk menghadirkan layanan yang inklusif bagi seluruh lapisan masyarakat.
"Kami ingin berkontribusi meningkatkan kesejahteraan masyarakat tidak hanya di pusat kota tapi juga dari desa," katanya.
Program ini juga sejalan dengan arah pembangunan nasional, khususnya melalui inisiatif Asta Cita yang menitikberatkan pembangunan dari desa dan pemberdayaan ekonomi rakyat. Pemerintah sendiri menargetkan pembangunan 1.000 kampung nelayan hingga 2026, dan BSI mengambil peran aktif dalam mendukung agenda tersebut.
Sebagai desa binaan ke-21 dari total 23 desa yang dibangun sejak merger, Warloka mendapat dukungan konkret berupa 19 perahu untuk sekitar 143 kepala keluarga.
Desa ini sendiri dihuni sekitar 300 kepala keluarga atau sekitar seribu jiwa. Menariknya, seluruh fasilitas dirancang berbasis keberlanjutan, seperti perahu yang dilengkapi solar panel untuk penerangan serta cold storage dengan mesin pendingin berbasis energi surya.
Baca Juga: BSI Catat Tabungan Haji Rp15,47 Triliun per Februari 2026, Tumbuh 10,98%
Baca Juga: BSI Dorong UMKM Naik Kelas, KUR Syariah Rp1,65 Triliun Mengalir
Ke depan, dalam 2–3 tahun, Kampung Nelayan Warloka ditargetkan mampu berdiri mandiri sebagai desa produktif. Bagi masyarakat setempat, program ini bukan sekadar bantuan, melainkan harapan baru untuk kehidupan yang lebih stabil—dari laut yang selama ini menjadi sumber utama penghidupan mereka.





