EUDR Bayangi Ekspor Sawit RI ke Eropa, Harga Masih Bertahan

bisnis.com
1 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — Tekanan ekspor minyak sawit mentah (CPO) ke Uni Eropa akibat isu lingkungan dinilai belum akan mengguncang harga secara signifikan dalam jangka pendek, tetapi berisiko menekan nilai ekspor dan posisi Indonesia dalam jangka panjang.

Senior Equity Research Analyst Mirae Asset Sekuritas Farras Farhan menilai penurunan ekspor ke kawasan Eropa saat ini bersifat sementara dan tidak akan berdampak besar terhadap harga, mengingat permintaan domestik masih kuat.

Selain itu, struktur pasar ekspor Indonesia juga tidak bergantung pada Eropa sebagai tujuan utama.

“Risikonya kecil, karena pengimpor terbesar bukan dari Eropa dan permintaan domestik masih besar,” ujarnya kepada Bisnis, Rabu (22/4/2026).

Dia menambahkan pasokan juga cenderung terbatas karena banyak tanaman sawit memasuki fase peremajaan, sehingga menahan potensi kelebihan suplai.

Dengan kondisi tersebut, harga tandan buah segar (TBS) diperkirakan hanya berfluktuasi dalam jangka pendek, tetapi tetap memiliki prospek positif ke depan.

Baca Juga

  • Konsumsi dan Ekspor CPO Melonjak Awal 2026, Stok Nasional Turun
  • Waspada Gagal Panen, AUTP Lindungi Petani Hadapi Dampak El Nino
  • Mentan Amran Sebut Indonesia Kuasai 60% Pasar Sawit Dunia

Meski demikian, tantangan struktural mulai terlihat dari sisi pasar global.

Peneliti Indef Afaqa Hudaya menilai berkurangnya impor CPO di Uni Eropa bukan sekadar fenomena sementara, melainkan bagian dari pergeseran jangka panjang akibat penerapan regulasi keberlanjutan seperti aturan antideforestasi European Union Deforestation Regulation (EUDR).

“Ini bukan fluktuasi sementara, tetapi transformasi pasar global yang menuntut standar keberlanjutan,” ujarnya.

Menurutnya, kendala utama terletak pada kesiapan rantai pasok domestik, khususnya petani kecil yang belum memenuhi standar ketelusuran dan legalitas. Kondisi ini berpotensi menggerus nilai ekspor meskipun volume tetap terjaga.

Pasalnya, Uni Eropa merupakan pasar premium yang memberikan harga lebih tinggi dibandingkan pasar alternatif. Ketika akses ke pasar tersebut menyusut, ekspor berpotensi bergeser ke pasar nonpremium seperti India dan China dengan harga lebih rendah.

“Volume bisa tetap naik, tetapi nilainya bisa stagnan atau turun karena kehilangan premium pricing,” katanya.

Di sisi lain, pengalihan pengiriman ke pasar lain juga berisiko memicu tekanan harga akibat diskon yang diminta pembeli. Dampak ini akan paling terasa di tingkat petani melalui penurunan harga TBS, seiring dengan transmisi langsung dari harga global.

Afaqa menilai risiko kehilangan posisi strategis di pasar global cukup besar jika Indonesia tidak segera menyesuaikan standar keberlanjutan, terlebih dengan posisi Uni Eropa sebagai penentu tren global. Standar yang diterapkan oleh kawasan tersebut berpotensi diikuti negara lain.

Jika tidak diantisipasi, Afaqa memandang sebagian rantai pasok, terutama petani kecil, berisiko tersisih dari pasar global.

Sebaliknya, pelaku industri mulai merespons dengan mendorong sertifikasi keberlanjutan seperti RSPO dan ISPO untuk menjaga akses pasar.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Manajer Tempat Kursus Bahasa Inggris di Kelapa Gading Ancam Murid Usia 7 Tahun, Ayah Lapor Polisi
• 3 menit laludisway.id
thumb
Dugaan Buzzer RSUP Djamil, Keluarga Alceo Buka Suara
• 2 jam lalutvrinews.com
thumb
1.516 Barang Tertinggal di Kereta Selama Awal 2026, Paling Banyak HP dan Tumbler
• 1 jam lalukompas.com
thumb
500 ASN Pemda Sulsel Juga Ikuti Latihan Dasar Militer Komcad
• 9 jam lalukompas.com
thumb
Jadwal Salat Makassar 22 April 2026
• 18 jam lalumetrotvnews.com
Berhasil disimpan.