Baru Gulingkan Penguasa, Gen Z Demo Besar Lagi di Negara Ini

cnbcindonesia.com
12 jam lalu
Cover Berita
Foto: Ricuh demonstrasi di Antananarivo, Madagaskar, Kamis (9/10/2025). (REUTERS/Siphiwe Sibeko)

Jakarta, CNBC Indonesia - Gejolak politik di Madagaskar kembali memanas setelah aparat keamanan menangkap sejumlah aktivis muda yang menuntut demokrasi. Empat aktivis Gen Z, yakni Herizo Andriamanantena, Miora Rakotomalala, Dina Randrianarisoa, dan Nomena Ratsihorimanana, resmi diciduk pada Minggu, (12/04/2026).

Mengutip The Guardian, penangkapan ini terjadi hanya dua hari setelah para pemuda tersebut turun ke jalan menuntut kepastian tanggal pemilihan umum. Aliarivelo Maromanana, selaku pengacara para aktivis, mengungkapkan bahwa kliennya dituduh melakukan konspirasi kriminal dan merusak keamanan negara tanpa bukti yang jelas.

"Mereka semua membantahnya dan tidak ada bukti sama sekali," kata Maromanana.


Baca: Data Berbicara, Perang AS-Iran Picu Krisis Energi Terburuk Dunia

Rentetan penangkapan ini tidak berhenti di situ, karena dua aktivis lainnya kembali ditangkap pada Rabu malam oleh otoritas setempat. Kabar ini dikonfirmasi oleh kelompok Gen Z 261, salah satu organisasi yang lahir dari gerakan protes massa tahun lalu.

Kondisi para tahanan pun menjadi sorotan setelah dua aktivis yang sempat dibebaskan harus dilarikan ke rumah sakit pada Selasa. Hingga Jumat, hanya Andriamanantena yang masih mendekam di balik jeruji besi, sementara polisi berkilah bahwa para aktivis jatuh sakit secara alami.

Tindakan represif ini seketika menghancurkan harapan publik yang sempat membuncah saat Kolonel Michael Randrianirina merebut kekuasaan melalui kudeta pada Oktober 2025. Kala itu, militer didukung penuh oleh gerakan Gen Z Madagascar untuk menggulingkan Presiden Andry Rajoelina yang dianggap gagal.

Namun, juru bicara kepresidenan, Harry Laurent Rahajason, justru menjauhkan pihak istana dari tanggung jawab atas penangkapan para aktivis tersebut. Ia menegaskan bahwa proses hukum sepenuhnya berada di tangan kepolisian.

"Di Madagaskar ada apa yang disebut pemisahan kekuasaan. Jadi kepresidenan tidak ada hubungannya dengan kasus-kasus yang ditangani oleh kepolisian nasional," ujar Rahajason.

Ketakandriana Rafitoson, anggota dewan Transparency International Madagascar, menilai tindakan rezim saat ini sangat mengecewakan. Menurutnya, pemerintah militer telah gagal melewati ujian pertama dalam menghormati kebebasan berpendapat.

"Ini adalah pola yang kita lihat di bawah pemerintahan sebelumnya dan banyak yang berharap akan dipatahkan dengan transisi ini. Jadi protes Jumat lalu adalah ujian bagi rezim ini dan mereka gagal," tutur Rafitoson.

Baca: Tetangga RI Jadi Korban Perang Iran, Demo Buruh Berujung Chaos

Kekecewaan anak muda Madagaskar kian mendalam karena kondisi ekonomi negara berpenduduk 32 juta jiwa itu tak kunjung membaik. Berdasarkan data Bank Dunia tahun 2024, Madagaskar adalah negara termiskin kelima di dunia dengan PDB per kapita hanya US$ 545 atau mata uang Dolar Amerika Serikat (Rp 8,8 juta).

Pemimpin kelompok Gen Z Madagasikara, Elliot Randriamandrato, menyatakan bahwa krisis air dan listrik yang memicu demonstrasi tahun lalu masih terus berlanjut hingga kini. Ia melihat tidak ada keseriusan dari pemerintah untuk melakukan reformasi yang nyata.

"Untuk saat ini, tidak ada reformasi nyata yang diterapkan oleh pemerintah. Itulah mungkin mengapa semua orang sangat frustrasi, karena kita tidak melihat sesuatu yang jelas dan nyata," kata Randriamandrato.

Lebih lanjut, Randriamandrato juga mengkritik sistem politik yang dianggapnya hanya bisa dimenangi oleh orang-orang kaya. Ia mendesak pemerintah segera melakukan konsultasi konstitusi untuk mengubah metodologi pemilihan yang korup.

"Kami meminta lebih banyak kejelasan tentang tanggal konsultasi konstitusi, karena selama konsultasi itulah masalah nyata akan dibahas. Ini adalah sistem yang hanya memungkinkan orang dengan lebih banyak uang untuk menang," tambah Randriamandrato.

Di tengah tekanan publik, pemerintah justru mengalihkan fokus pada isu keamanan nasional dengan mengklaim adanya ancaman pembakaran gedung parlemen. Rahajason memaparkan bahwa pihaknya sedang mengusut korupsi senilai 3.811 miliar Ariary Madagaskar (Rp 12,8 triliun) yang dikaitkan dengan ancaman terhadap nyawa presiden.

Rahajason juga menunjukkan bukti rekaman video yang diklaim sebagai aktivitas drone asing di kediaman presiden.

"Otoritas sedang menyelidiki korupsi yang diperkirakan mencapai 3.811 miliar Ariary Madagaskar (Rp 12,8 triliun) dan menghubungkan investigasi tersebut dengan ancaman terhadap presiden," ungkap Rahajason.

Kekhawatiran publik semakin memuncak melihat kemesraan rezim militer dengan Rusia, terutama setelah Randrianirina mengunjungi Vladimir Putin di Moskow pada Februari lalu. Madagaskar kini mulai dibanjiri bantuan alat utama sistem persenjataan (Alutsista) berupa truk militer, helikopter, hingga tank dari Kremlin.

Shely Andriamihaja, anggota Gen Z Madagasikara, mengungkapkan ketakutannya bahwa Madagaskar hanya akan berpindah tangan dari satu pengaruh asing ke pengaruh asing lainnya.

"Kami sangat khawatir dengan risiko penangkapan negara baru dari negara-negara asing," tegas Andriamihaja.

Tudingan ini diperkuat dengan fakta adanya personel militer Rusia yang kini bertugas sebagai pengawal pribadi Presiden Randrianirina. Saat dikonfrontasi mengenai hal tersebut, Rahajason membela kebijakan presiden dengan membandingkannya dengan pemimpin negara lain.

"Mengapa Anda menanyakan pertanyaan ini? Mengapa presiden Ukraina memanggil penjaga berkebangsaan lain? Mengapa itu normal? Dan mengapa, ketika seorang Malagasi menggunakan jasa penjaga internasional, mengapa itu tidak normal?" pungkas Rahajason.

Baca: Krisis BBM Hantam Tetangga RI, Harga Melambung-Demo Menggila

(tps/tps) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:
Video: DPR Sebut Politik Stabil, Jadi Jaminan Investasi Asing Masuk RI

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
DJP Tegaskan PPN Tol Masih Wacana, Belum Berlaku bagi Masyarakat
• 20 jam lalukumparan.com
thumb
Selat Hormuz Ditutup, Pemerintah RI Siapkan Langkah Amankan 5 Komoditas Vital
• 2 jam lalukompas.tv
thumb
Tak Jadi Dipindah ke Timur Tengah, Sistem Rudal AS Tetap di Korsel
• 18 jam laludetik.com
thumb
Google Cloud Luncurkan Gemini Enterprise Agent Platform untuk Dorong Era AI Agentic di Next ’26
• 2 jam lalupantau.com
thumb
Bak Bumi dan Langit, Segini Gaji Fantastis Jung Ho-young di Pink Spiders Bila Dibandingkan Dengan Red Sparks
• 19 jam lalutvonenews.com
Berhasil disimpan.