VIVA – Sekretaris Angkatan Laut Amerika Serikat (AS) John Phelan dipecat dari jabatannya pada hari Rabu, 22 April 2026, di tengah gejolak kepemimpinan yang melanda Pentagon di tengah blokade Selat Hormuz dan perang yang lebih luas melawan Iran.
Hengkangnya Phelan yang tiba-tiba dari jabatannya diumumkan oleh Sean Parnell, juru bicara departemen pertahanan, dalam pernyataan singkat di X yang tidak memberikan penjelasan atas langkah tersebut.
"Sekretaris Angkatan Laut John C Phelan meninggalkan pemerintahan, berlaku segera," tulis Parnell dilansir FT, Kamis, 23 April 2026.
Pemecatan Phelan terjadi ketika Pete Hegseth, Menteri Pertahanan Presiden Donald Trump, berupaya untuk menyingkirkan sejumlah pemimpin Pentagon yang dianggap berselisih dengan pemerintahan.
Seorang pejabat senior pemerintahan pada hari Rabu mengatakan: "Presiden Trump dan Sekretaris Hegseth sepakat bahwa kepemimpinan baru di Angkatan Laut diperlukan. Sekretaris Hegseth memberi tahu John Phelan tentang berita ini sebelum diumumkan kepada publik."
Sebagai pejabat sipil tertinggi Angkatan Laut AS yang melapor kepada Hegseth, Phelan telah memimpin upaya untuk membangun kembali kapasitas pembuatan kapal militer Amerika dan membentuk "Armada Emas" untuk AS.
Seseorang yang mengetahui masalah ini mengatakan bahwa telah terjadi ketegangan dengan para pemimpin sipil tertinggi di Pentagon, termasuk Hegseth, terkait program pembuatan kapal serta nominasi dan promosi perwira militer.
Kepergiannya terjadi di tengah salah satu misi paling penting bagi pasukan angkatan laut AS dalam beberapa dekade: blokade kapal yang melintas masuk dan keluar pelabuhan Iran melalui Selat Hormuz.
Terdapat 21 kapal perang AS di wilayah tersebut, dengan tujuh kapal lagi yang sedang dalam perjalanan. Lebih dari selusin di antaranya terlibat dalam blokade angkatan laut Amerika terhadap pelabuhan Iran.
Kepergian Phelan adalah episode terbaru dalam upaya Hegseth untuk merombak Pentagon, yang dimulai pada awal masa jabatan kedua Trump dan telah menjadi ciri khas masa jabatannya.
Perubahan kepemimpinan dan ketegangan internal terus berlanjut bahkan ketika militer AS memulai serangan militer yang semakin agresif, mulai dari perang melawan Iran yang diluncurkan pada akhir Februari hingga serangan terhadap Venezuela pada Januari dan serangan berkelanjutan terhadap kapal-kapal yang diduga membawa narkoba.





