Bursa saham Asia cenderung menguat pada perdagangan Kamis (23/4/2026), mengikuti reli kuat di Wall Street yang ditopang kinerja laba perusahaan.
IDXChannel – Bursa saham Asia cenderung menguat pada perdagangan Kamis (23/4/2026), mengikuti reli kuat di Wall Street yang ditopang kinerja laba perusahaan.
Investor cenderung mengabaikan lonjakan harga minyak akibat ketegangan di Timur Tengah dan lebih fokus pada solidnya musim laporan keuangan.
Semalam, indeks S&P 500 naik 1 persen, sementara Nasdaq Composite melonjak 1,6 persen dan ditutup di level tertinggi sepanjang masa.
Awal musim laporan keuangan yang kuat membantu meredakan kekhawatiran terhadap daya beli konsumen Amerika Serikat, meski harga energi meningkat.
Di kawasan Asia, indeks saham regional menguat luas. Indeks MSCI Asia Pasifik di luar Jepang mencetak rekor baru dengan kenaikan sekitar 1 persen, didorong lonjakan saham-saham teknologi.
Bursa di Jepang, Korea Selatan, dan Taiwan kembali mencatat rekor tertinggi untuk hari kedua berturut-turut, dengan Nikkei 225 menembus level 60.000.
Sebaliknya, pergerakan di China dan Hong Kong cenderung terbatas. Indeks blue chip China naik tipis, sementara Hang Seng Index justru melemah sekitar 0,3 persen.
Kenaikan pasar saham terjadi meski harga minyak terus menanjak. Kontrak Brent crude naik 0,5 persen ke kisaran USD102,45 per barel, setelah melonjak 3,5 persen pada sesi sebelumnya dan kembali menembus USD100.
Lonjakan ini dipicu meningkatnya risiko pasokan setelah Iran dilaporkan menyita dua kapal kontainer di Selat Hormuz.
Strategis investasi global Nuveen, Laura Cooper, menilai, dikutip Reuters, pasar sejauh ini cukup tangguh dalam mengabaikan berbagai risiko. Namun, ia mengingatkan bahwa daftar risiko terus bertambah dan tidak bisa diabaikan selamanya.
“Pasar tampak efektif menepis risiko, tetapi ketidakseimbangan ini tidak akan bertahan tanpa batas. Pada titik tertentu, faktor yang diabaikan bisa menjadi penentu utama,” ujarnya.
Sementara itu, kontrak berjangka (futures) Wall Street sedikit melemah di sesi Asia, mencerminkan kehati-hatian investor.
Kepala riset pasar National Australia Bank, Skye Masters, menilai pasar mungkin belum sepenuhnya memperhitungkan potensi gangguan pasokan energi yang bisa berlangsung lebih lama. (Aldo Fernando)





