Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana meluruskan pernyataannya terkait kebutuhan hingga 19.000 ekor sapi untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG). Menurutnya, angka tersebut merupakan simulasi atau pengandaian perhitungan, bukan kondisi riil harian.
Perhitungan tersebut berdasarkan pada asumsi jika seluruh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) secara serentak memasak menu berbahan daging sapi.
Dadan mengatakan dalam satu kali proses memasak, kebutuhan daging sapi di satu SPPG bisa mencapai sekitar 350 kilogram hingga 382 kilogram (kg), atau setara satu ekor sapi untuk kebutuhan dagingnya saja.
“Ini hanya untuk pengandaian, kalau seluruh SPPG diperintahkan masak sapi berarti jumlah kebutuhannya dikalikan dengan jumlah ekor sapi,” kata Dadan dalam siaran pers, dikutip Kamis (23/4).
Kendati demikian, Dadan mengatakan BGN tidak pernah menerapkan kebijakan menu seragam secara nasional. Hal ini dilakukan untuk menghindari lonjakan kebutuhan bahan pangan yang dapat berdampak pada harga di pasar.
Dia mencontohkan saat peringatan ulang tahun Presiden Prabowo Subianto pada 17 Oktober lalu. Saat itu, menu yang disajikan berupa nasi goreng dan telur untuk sekitar 36 juta penerima manfaat.
"Hari itu butuh 36 juta butir telur atau sekitar 2.200 ton. Dampaknya, harga telur sempat naik Rp 3.000," ujarnya.
Berdasarkan pengalaman tersebut, BGN memilih pendekatan fleksibel dalam penyusunan menu MBG, dengan menyesuaikan potensi sumber daya lokal dan preferensi masyarakat di masing-masing daerah.
Menurutnya, BGN ingin memberdayakan potensi sumber daya lokal dan kesukaan masyarakat lokal.
“Supaya tekanan terhadap konsumsinya tidak terlalu tinggi. Jadi, kalau kami perintahkan menu nasional, pasti tekanannya tinggi, pasti harga naik,” ucapnya.




