Label Gizi Nutri-Level Kemenkes, Pakar Ungkap Tantangan Implementasi

metrotvnews.com
7 jam lalu
Cover Berita

Jakarta: Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menerapkan kebijakan label gizi Nutri-Level pada produk pangan siap saji. Kebijakan ini masih dalam tahap transisi selama dua tahun.

Guru Besar Program Studi Teknologi Pangan IPB University, Nuri Andarwulan, menerangkan, Front of Pack Labelling (FOPL) bertujuan memberikan informasi sederhana agar konsumen dapat memilih pangan yang lebih menyehatkan. Menurutnya, Nutri-Level sebagai sistem ringkasan memberikan skor huruf A hingga D (hijau tua, hijau, kuning dan merah) yang lebih sederhana dibandingkan GDA (Guideline Daily Amount) nonwarna (monokrom).

Baca Juga :

Kemenkes Beri Masa Transisi Dua Tahun untuk Penerapan Label Nutri-Level
"Jika melihat tujuan utama penerapan FOPL, kebijakan ini dirancang untuk memberdayakan konsumen melalui informasi yang jelas dan mudah dipahami," ujar Nuri, mengutip laman IPB University, Kamis, 23 April 2026. Hasil riset Dalam penelitiannya, Nuri mengungkap temuan yang menunjukkan besarnya tantangan implementasi di lapangan. Dari 100 sampel minuman siap saji di restoran dan kafe wilayah Jakarta dan Bogor, hanya tiga minuman yang memiliki kadar gula rendah dan memenuhi kriteria kategori A hingga B.

Sebanyak 97 minuman lainnya memiliki kandungan gula sedang hingga sangat tinggi. setara kategori C dan D atau hingga melebihi batas asupan gula harian yang direkomendasikan per takaran saji.

"Apabila kebijakan ini diterapkan tidak hanya pada minuman kemasan tetapi juga pada produk di kafe dan restoran, maka sebagian besar produk kemungkinan akan memperoleh label C dan D (kuning dan merah)," jelasnya. Penolakan industri Nuri menilai industri berpotensi memberikan penolakan. Menurutnya, industri akan menilai kebijakan ini tidak realistis karena dapat memengaruhi daya jual produk.

Label Nutri-Level Kemenkes. Tangkapan layar Instagram Kemenkes

Ia menyarankan peemerintah melaksanakan program bersama dengan pelaku industri sebagai langkah awal penurunan asupan gula masyarakat melalui reformulasi. Meski demikian, program reformulasi untuk menurunkan kadar gula berpotensi mengubah cita rasa yang sudah diterima konsumen.

"Oleh karena itu, reformulasi penurunan kadar gula pada minuman secara bertahap perlu dilakukan," katanya.

Muri mengungkapkan beberapa tantangan lain dari kebijakan ini yaitu:
  • Potensi penggunaan bahan tambahan pangan sebagai alternatif.
  • Harmonisasi antarlembaga.
  • Edukasi yang masif ke masyrakat.
"Tujuan akhir dari kebijakan ini adalah kesehatan masyarakat. Oleh karena itu, implementasi harus dilakukan secara bertahap, didukung insentif bagi industri, serta tidak mengabaikan bukti ilmiah yang ada," tuturnya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Usai Piala Dunia 2026, Timnas Meksiko Resmi Dilatih Legenda Barcelona Rafa Márquez
• 21 jam lalumedcom.id
thumb
Komdigi Putuskan Nasib Wikipedia di Indonesia Hari Ini, Terancam Diblokir
• 10 jam lalukatadata.co.id
thumb
Anggota Polsek Cimanggis Jadi Saksi di Sidang Kasus Korupsi Bupati Bekasi Ade Kuswara
• 19 jam lalukompas.com
thumb
Syekh Ahmad Al Misry Akhirnya Buka Suara, Bantah Lecehkan 5 Santri Laki-Laki
• 2 jam laluharianfajar
thumb
Pemerintah Dorong BUMN Lebih Berani Ambil Risiko, Perkuat Business Judgment Rule
• 3 jam lalubisnis.com
Berhasil disimpan.