Jakarta (ANTARA) - PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) menyatakan siap mendorong pertumbuhan kredit secara selektif dan berkualitas pada kisaran 7-9 persen (year on year/yoy) tahun ini, didukung oleh likuiditas dan permodalan yang solid.
Direktur Finance & Strategy BRI Achmad Royadi mengatakan proyeksi ini mencerminkan optimisme perseroan terhadap prospek pertumbuhan ekonomi domestik, khususnya pada segmen UMKM sebagai core business BRI.
"Dengan likuiditas dan permodalan yang solid, BRI memiliki ruang yang cukup untuk terus mendorong ekspansi kredit secara selektif dan berkualitas, dengan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian," kata Achmad dalam keterangannya di Jakarta, Kamis.
Perseroan menegaskan komitmennya dalam memberikan nilai tambah optimal bagi pemegang saham sekaligus menjaga keberlanjutan bisnis.
Sebelumnya, melalui Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) Tahun 2026, perseroan menetapkan pembagian total dividen tunai untuk Tahun Buku 2025 sebesar Rp52,1 triliun atau Rp346,00 per saham.
Angka tersebut telah termasuk dividen interim sebesar Rp137 per saham atau Rp20,6 triliun yang telah dibayarkan pada 15 Januari 2026.
Pembagian dividen mengacu pada kinerja keuangan laba tahun berjalan konsolidasian perseroan untuk tahun buku 2025 sebesar Rp 57,132 triliun, dengan total laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp56,65 triliun.
Achmad menjelaskan kombinasi antara pembagian dividen yang optimal dan fundamental keuangan yang kuat mencerminkan kapasitas perseroan dalam menjaga keseimbangan antara penciptaan nilai bagi pemegang saham dan pertumbuhan bisnis jangka panjang.
Hingga akhir Desember 2025, posisi ekuitas perseroan tercatat sebesar Rp330,9 triliun atau tumbuh 2,4 persen secara tahunan (yoy).
Pertumbuhan ini ditopang oleh kemampuan perseroan dalam menghasilkan laba bersih secara konsisten.
Capaian tersebut juga telah memperhitungkan pembayaran dividen yang dilakukan sepanjang tahun 2025, termasuk dividen interim atas laba tahun buku 2025, sehingga mencerminkan ketahanan permodalan perseroan yang tetap solid di tengah distribusi laba kepada pemegang saham.
Dari sisi likuiditas, BRI memastikan kondisi yang tetap memadai yang tercermin dari liquidity coverage ratio (LCR) sebesar 136,9 persen dan net stable funding ratio (NSFR) sebesar 117,7 persen.
Rasio tersebut menunjukkan kapasitas likuiditas yang kuat serta struktur pendanaan yang stabil dalam mendukung ekspansi bisnis.
Selain itu, permodalan BRI juga berada pada level yang sangat kuat, dengan rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) secara konsolidasi sebesar 26,63 persen dan secara bank only sebesar 23,52 persen, jauh di atas ketentuan regulator.
Perseroan menyampaikan bahwa kondisi permodalan ini memberikan ruang yang luas untuk tetap ekspansif secara terukur.
Baca juga: Momen Hari Kartini, BRI ungkap 43 persen pekerja merupakan perempuan
Baca juga: BRINS sediakan perlindungan asuransi kecelakaan diri bagi anggota IMI
Baca juga: BRI tebar dividen final Rp31,47 triliun tahun buku 2025
Direktur Finance & Strategy BRI Achmad Royadi mengatakan proyeksi ini mencerminkan optimisme perseroan terhadap prospek pertumbuhan ekonomi domestik, khususnya pada segmen UMKM sebagai core business BRI.
"Dengan likuiditas dan permodalan yang solid, BRI memiliki ruang yang cukup untuk terus mendorong ekspansi kredit secara selektif dan berkualitas, dengan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian," kata Achmad dalam keterangannya di Jakarta, Kamis.
Perseroan menegaskan komitmennya dalam memberikan nilai tambah optimal bagi pemegang saham sekaligus menjaga keberlanjutan bisnis.
Sebelumnya, melalui Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) Tahun 2026, perseroan menetapkan pembagian total dividen tunai untuk Tahun Buku 2025 sebesar Rp52,1 triliun atau Rp346,00 per saham.
Angka tersebut telah termasuk dividen interim sebesar Rp137 per saham atau Rp20,6 triliun yang telah dibayarkan pada 15 Januari 2026.
Pembagian dividen mengacu pada kinerja keuangan laba tahun berjalan konsolidasian perseroan untuk tahun buku 2025 sebesar Rp 57,132 triliun, dengan total laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp56,65 triliun.
Achmad menjelaskan kombinasi antara pembagian dividen yang optimal dan fundamental keuangan yang kuat mencerminkan kapasitas perseroan dalam menjaga keseimbangan antara penciptaan nilai bagi pemegang saham dan pertumbuhan bisnis jangka panjang.
Hingga akhir Desember 2025, posisi ekuitas perseroan tercatat sebesar Rp330,9 triliun atau tumbuh 2,4 persen secara tahunan (yoy).
Pertumbuhan ini ditopang oleh kemampuan perseroan dalam menghasilkan laba bersih secara konsisten.
Capaian tersebut juga telah memperhitungkan pembayaran dividen yang dilakukan sepanjang tahun 2025, termasuk dividen interim atas laba tahun buku 2025, sehingga mencerminkan ketahanan permodalan perseroan yang tetap solid di tengah distribusi laba kepada pemegang saham.
Dari sisi likuiditas, BRI memastikan kondisi yang tetap memadai yang tercermin dari liquidity coverage ratio (LCR) sebesar 136,9 persen dan net stable funding ratio (NSFR) sebesar 117,7 persen.
Rasio tersebut menunjukkan kapasitas likuiditas yang kuat serta struktur pendanaan yang stabil dalam mendukung ekspansi bisnis.
Selain itu, permodalan BRI juga berada pada level yang sangat kuat, dengan rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) secara konsolidasi sebesar 26,63 persen dan secara bank only sebesar 23,52 persen, jauh di atas ketentuan regulator.
Perseroan menyampaikan bahwa kondisi permodalan ini memberikan ruang yang luas untuk tetap ekspansif secara terukur.
Baca juga: Momen Hari Kartini, BRI ungkap 43 persen pekerja merupakan perempuan
Baca juga: BRINS sediakan perlindungan asuransi kecelakaan diri bagi anggota IMI
Baca juga: BRI tebar dividen final Rp31,47 triliun tahun buku 2025





