China menyatakan akan mempercepat pembangunan lebih dari 11.000 pulau yang diklaim sebagai wilayahnya di Laut China Selatan. Langkah ini merupakan bagian dari strategi jangka panjang untuk memperkuat kekuatan maritim, mengamankan sumber daya alam dan mempertegas klaim teritorial dari Beijing.
Beijing menyebut bahwa pulau-pulau tersebut sebagai frontier strategis untuk pengembangan sumber daya laut dalam. Ia menegaskan bahwa negara-negara besar kini berlomba mengalihkan fokus pembangunan ke sektor kelautan.
Baca Juga: Asia Timur Panas, Taiwan Gelar Latihan Militer di Laut China Selatan
"Negara-negara besar di dunia sedang berlomba mengalihkan fokus pembangunan ke lautan," ungkap China.
China juga mendorong peningkatan infrastruktur di pulau-pulau yang diklaim, termasuk konektivitas dan akses logistik. Selama beberapa tahun terakhir, mereka telah membangun pulau buatan, landasan pacu serta fasilitas militer dalam wilayah sengketa di Laut China Selatan.
Beijing dalam satu dekade terakhir secara agresif meningkatkan anggaran militernya, termasuk pengembangan kapal induk dan kapal selam nuklir. Targetnya adalah menjadi kekuatan maritim besar di dunia.
Langkah China ini berpotensi meningkatkan ketegangan dalam kawasan, terutama dengan negara-negara yang juga memiliki klaim di Laut China Selatan. Negara-negara terkait seperti Filipina, Vietnam dan Malaysia.
Pada September, China telah menetapkan cagar alam nasional dalam wilayah dari Scarborough Shoal. Hal tersebut memicu ketegangan dengan Filipina.
Manila membalas hal tersebut dengan menggelar latihan militer gabungan yang melibatkan Amerika Serikat. Latihan ini mencerminkan upaya membentuk front bersama menghadapi ekspansi dari China.
Terbaru, Menteri Dewan Urusan Kelautan Taiwan, Kuan Bi-ling baru-baru ini turun mengunjungi Pulau Taiping. Ia datang untuk memantau langsung latihan tersebut. Kunjungannya ini sendiri terbilang langka mengingat wilayah tersebut adalah salah satu wilayah sengketa di Laut China Selatan.
Latihan yang dilakukan mencakup berbagai skenario, termasuk operasi penyergapan kapal mencurigakan yang menolak merespons panggilan. Dalam simulasi tersebut, pasukan khusus penjaga pantai bersenjata menaiki kapal kargo untuk melakukan pemeriksaan.
"Anda telah memasuki perairan di bawah yurisdiksi negara kami. Harap bekerja sama dengan penyelidikan," ujar salah satu anggota tim dalam latihan yang dilakukan oleh Taiwan.
Otoritas Taiwan menyatakan latihan tersebut mencakup skenario bantuan kemanusiaan, evakuasi medis, dan penanganan pencemaran laut. Namun, latihan bersenjata menunjukkan kesiapan menghadapi potensi ancaman keamanan di kawasan.
Laut China Selatan merupakan jalur perdagangan strategis dengan nilai lebih dari US$3 triliun per tahun. Kawasan ini juga kaya sumber daya energi dan perikanan, menjadikannya salah satu wilayah paling diperebutkan di dunia.
Baca Juga: Amerika Serikat: China Dalangi Isu Pencabutan Izin Terbang Pesawat Kepresidenan Taiwan
Rencana China membangun ribuan pulau menegaskan meningkatnya persaingan geopolitik di kawasan dari Indo-Pasifik. Langkah ini diperkirakan akan terus memicu respons dari negara-negara lain dalam menjaga kepentingan strategis mereka.





