Ujian Tulis Berbasis Komputer Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (UTBK SNBT) telah dimulai sejak 21 April dan masih akan berlangsung hingga 30 April mendatang. Salah satu kampus yang menjadi pusat pelaksanaannya adalah Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta (UPNVJ).
Di tengah suasana sesi pertama UTBK, Nurfitria Sandra (19), salah satu peserta, tampak baru saja keluar dari ruang ujian dengan ekspresi lega sekaligus tegang. Ia mengaku cukup tenang, meski tetap menyimpan rasa khawatir saat mengerjakan soal.
“Enggak panik sih, Kak. Kayak lega saja. Lega cuma takut gitu, takutnya enggak bisa ngejawab soal-soal yang sekiranya emang enggak bisa dijawab gitu,” ujarnya pada Kamis (23/4).
“PK (Penalaran Kuantitatif), PM (Penalaran Matematika) doang aja sih,” tambahnya saat menyebut bagian soal yang menurutnya paling sulit.
Perempuan yang akrab disapa Sandra itu mengungkapkan bahwa ini merupakan kali kedua dirinya mengikuti UTBK.
“Sebelumnya iya, lagi, ikutan lagi. Iya sebelumnya, cuma enggak lolos,” ujarnya.
Ia mengaku, persiapannya menghadapi UTBK kali ini sudah dilakukan cukup lama, sekitar lima hingga enam bulan.
“Sudah jauh sih, kalau bisa dibilang ya. Adalah 6 bulan atau 5 bulanan,” katanya.
Pada kesempatan ini, Sandra memilih fokus pada satu jurusan saja, yakni Teknik Pertambangan di Institut Teknologi Bandung (ITB). Ia mengaku memang sudah sejak awal menetapkan pilihan tersebut.
“Aku ambil ITB, pertambangan,” ujarnya.
“Cuma satu saja. Emang sudah mau banget di situ,” lanjutnya.
Keputusan Sandra memilih jurusan tersebut berbeda dengan pengalaman UTBK sebelumnya. Ia pernah mencoba jurusan hukum, tapi kali ini ia mantap beralih karena ketertarikan pada bidang yang lebih banyak praktik lapangan.
“Kalau UTBK sebelumnya aku ngambil jurusan hukum,” katanya.
“Lebih tertarik saja sih, Kak, ke dunia ke lapangan. Mereka itu kan kalau pertambangan praktiknya terjun ke lapangan ya. Seru saja lihatnya,” jelasnya.
Meski sempat mempertimbangkan strategi memilih jurusan dengan peluang lebih besar, Sandra menegaskan bahwa pilihannya kali ini murni berdasarkan minat.
“Enggak sih, Kak, asal ini aja, modal percaya diri aja, Kak,” ucapnya.
Sandra juga mengaku sempat bekerja sebelum kembali fokus mempersiapkan UTBK. Ia bekerja di kafe dan juga menjaga toko hijab sebelum akhirnya mengundurkan diri.
“Aku kerja. Aku waktu itu di kafe, Kak. Terus juga jaga store di hijab juga waktu itu,” ucapnya.
“Aku sempat me-resign-kan (mengundurkan) diri juga Kak, karena untuk mau fokus belajar juga kan mau mendekati UTBK jadinya aku minta resign dulu gitu,” tambahnya.
Meski begitu, ia tetap berusaha menyeimbangkan waktu antara kerja dan belajar sebelum akhirnya benar-benar fokus menghadapi ujian.
“Belajar masih bisa diselip-selip ya, jadi diambil buat kerja saja sih,” ujarnya mengenang masa tersebut.
Dalam hal dukungan keluarga, Sandra mengaku tidak mendapat tekanan dalam menentukan pilihan jurusan maupun kampus. Orang tuanya justru menyerahkan sepenuhnya keputusan kepada dirinya.
“Kalau orang tua ngikut saja sih, Kak, karena kita yang ngejalanin. Jadi kayak ya sudah ambil yang mau kamu,” katanya.
Ia juga tidak mempermasalahkan jarak kampus jika nantinya harus berkuliah di luar kota.
“Enggak masalah sih, Kak, namanya buat pendidikan apa saja diperjuangin,” ucapnya.
Untuk hasil UTBK kali ini, Sandra berharap bisa lolos di kampus impiannya tanpa harus mengikuti seleksi lagi di tahun berikutnya.
“Harapannya mudah-mudahan tahun ini lolos. Amin, amin di ITB, amin supaya enggak ikutan UTBK lagi. Harapannya cuma itu saja sih,” ujarnya.





