Gaya Seskab Teddy Peluk Anak Pengamen yang Ingin Sekolah Disorot Analis: Sederhana tapi Langka

tvonenews.com
16 jam lalu
Cover Berita

Jakarta, tvOnenews.com - Kunjungan Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya ke Sekolah Rakyat di Pejompongan, Jakarta Pusat, memantik perhatian bukan karena seremoni besar, melainkan karena pendekatan yang dinilai apa adanya.

Tanpa pidato panjang atau paparan data, interaksi langsung dengan anak-anak justru dianggap sebagai bentuk komunikasi publik yang paling kuat.

Analis komunikasi politik Hendri Satrio menilai, kesederhanaan itu justru menjadi nilai utama, sesuatu yang menurutnya jarang dilakukan pejabat.

“Boleh lah, memang sih sesederhana itu, tapi ini perlu disoroti karena jarang ada yang mau, saya kira banyak pejabat yang tahu ada masalah seperti ini, tapi kan tahu saja tidak cukup,” ujar Hensa kepada wartawan, Kamis (23/4).

Kunjungan tersebut dilakukan bersama Menteri Sosial untuk melihat langsung kondisi anak-anak yang selama ini berada di luar sistem pendidikan.

Dalam kesempatan itu, Teddy lebih banyak mendengar cerita dan berdialog, dibanding menyampaikan pernyataan formal.

Menurut Hensa, kehadiran langsung seperti ini memberi sinyal kuat kepada publik tentang keseriusan pemerintah dalam melayani masyarakat.

“Kalau pejabat mau hadir, mau duduk, mau bicara langsung dengan anak-anak itu, tidak perlu banyak kata-kata lagi. Publik sudah bisa menilai sendiri mana yang serius dan mana yang tidak,” kata Hensa.

Ia menyoroti, pola komunikasi yang ditunjukkan Teddy berbeda dari kebiasaan pejabat pada umumnya. Tidak ada narasi yang dibangun dari atas, melainkan berangkat dari realitas lapangan yang disaksikan langsung.

“Ini saya melihatnya sebagai komunikasi yang jujur, action dulu, baru bicara, bukan sebaliknya. Datang, lihat, dengar, lalu sampaikan apa adanya. Itu justru yang paling susah dilakukan,” ujar Hensa.

Lebih jauh, Hensa menilai pendekatan ini mencerminkan perubahan dalam gaya komunikasi Istana yang mulai lebih substantif.

Fokusnya bukan lagi pada frekuensi tampil di media, melainkan pada keaslian interaksi yang dirasakan publik.

“Kalau ini konsisten dilakukan, bukan cuma sekali lalu selesai, tidak perlu saya yang bilang bagus atau tidak, tapi masyarakat sendiri yang akan menyimpulkan,” kata Hensa.

“Dan kalau sudah begitu, tidak ada narasi apapun yang bisa melawan kepercayaan yang terbentuk secara organik,” ujarnya. (agr/dpi)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Manfaatkan Kondisi Geopolitik, Bank Mega Syariah Genjot Ekspansi Pembiayaan Emas
• 35 menit laluidxchannel.com
thumb
Tak Semudah Itu Ferguso! FIFA Tegaskan Tak Ada Rencana Gantikan Iran Meski Diusulkan Utusan Khusus Trump
• 22 jam laluviva.co.id
thumb
Jadwal Salat DKI Jakarta 24 April 2026
• 16 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Iran Kantongi Pendapatan Perdana dari Tarif Selat Hormuz, Berapa Nilainya?
• 13 jam laluviva.co.id
thumb
Tentara Amerika Menang Taruhan Ratusan Ribu Dolar AS Digeruduk FBI atas Penangkapan Maduro
• 8 jam laludisway.id
Berhasil disimpan.