Plastik Terancam Langka, Diversifikasi Kemasan dari Kertas hingga Bioplastik Punya Potensi Besar

idxchannel.com
13 jam lalu
Cover Berita

Kondisi tersebut menjadi momentum untuk memacu industri kemasan dalam negeri yang ramah lingkungan, berdaya saing, dan kompetitif.

Plastik Terancam Langka, Diversifikasi Kemasan dari Kertas hingga Bioplastik Punya Potensi Besar. Foto: iNews Media Group.

IDXChannel - Dinamika geopolitik dikhawatirkan memengaruhi rantai pasok bahan baku plastik. Kondisi tersebut menjadi momentum untuk memacu industri kemasan dalam negeri yang ramah lingkungan, berdaya saing, dan kompetitif.

Plt. Direktur Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Putu Juli Ardika menambahkan, pelaku industri telah mulai melakukan diversifikasi material kemasan dengan memanfaatkan kertas, kaca, logam, serta bahan plastik hasil daur ulang seperti recycled PET (rPET). 

Baca Juga:
Mendag Ungkap Penyebab Kenaikan Harga Minyak Goreng, Gara-Gara Plastik Mahal?

Khusus kemasan berbahan dasar kertas, Kemenperin menilai industri pulp dan kertas nasional memiliki fondasi kuat untuk mendukung transformasi kemasan.

Pada 2025, industri ini didukung 113 perusahaan dengan kapasitas produksi pulp mencapai 14,48 juta ton per tahun dan kertas 25,37 juta ton per tahun. Nilai ekspornya mencapai USD8,2 miliar, sekaligus menyerap sekitar 1,48 juta tenaga kerja.

Baca Juga:
Kemendag Cari Alternatif Pasokan Nafta Demi Atasi Lonjakan Harga Plastik

“Potensi pengembangan kemasan berbasis kertas sangat besar, terutama untuk kebutuhan ritel, industri mamin, e-commerce, dan logistik. Saat ini kita juga fokus dalam pengembangan aseptic packaging yang banyak digunakan oleh industri makanan dan minuman untuk mengurangi ketergantungan terhadap rantai pasok dingin (cold chain). Ke depan, inovasi seperti barrier paper, paper bottle, nano-cellulose coating dan active paper packaging perlu terus diperkuat melalui riset dan investasi,” kata Putu dalam keterangan tertulis, Kamis (23/4/2026).

Selain kemasan berbasis kertas, Kemenperin juga memacu pengembangan bioplastik berbasis bahan hayati seperti singkong dan rumput laut. Sejumlah pelaku industri dalam negeri telah memulai produksi kemasan ramah lingkungan berbasis pati singkong maupun seaweed-based packaging. 

Baca Juga:
Antisipasi Krisis Bahan Baku Plastik, Pemerintah Jajaki Impor dari Malaysia hingga Rusia

Indonesia dinilai memiliki peluang besar untuk mengembangkan industri ini karena merupakan salah satu produsen utama ubi kayu dan rumput laut dunia. 

“Saat ini sudah ada beberapa pelaku usaha bioplastik berbahan baku ubi kayu dan rumput laut. Berdasarkan data SIINas, total kapasitas industri bioplastik berbahan baku ubi kayu sebesar 8 ribu ton per tahun, sedangkan total kapasitas industri bioplastik berbahan baku rumput laut sebesar 28 ton per tahun,” kata Putu. 

Dia menambahkan, Kemenperin menegaskan komitmennya untuk terus memantau perkembangan global dan memfokuskan kebijakan pemerintah untuk memperkuat struktur industri nasional melalui diversifikasi bahan baku, penguatan sektor hulu, dan pengembangan diversifikasi produk kemasan. 

“Langkah tersebut diharapkan mampu meningkatkan daya saing dan memperkuat ketahanan industri agro Indonesia menghadapi gejolak eksternal,” kata Putu.

(NIA DEVIYANA)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Potensi Cuaca 24-30 April 2026, BMKG: Hujan Lebat Masih Mengancam, Wilayah Mana Saja?
• 18 jam lalukompas.tv
thumb
DPR Jawab Purbaya Soal Pajak di Selat Malaka: Berpotensi Timbulkan Konflik
• 5 jam laluliputan6.com
thumb
Peringati HUT Ke-5 WILAT Indonesia, Nurmaria Sarosa: Telah Tumbuh Menjadi Organisasi Profesi Perempuan
• 5 jam lalujpnn.com
thumb
Konten Jurnalistik Dieksploitasi Platform Digital dan AI, Pemerintah Percepat Revisi UU Hak Cipta Rampung Tahun Ini
• 23 jam lalutvonenews.com
thumb
Sido Muncul Luncurkan Portal Sido HerbalPedia, Permudah Akses Edukasi Herbal
• 7 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.