VIVA – Baru-baru ini Indonesia dikejutkan dengan sebuah video yang memperlihatkan seorang balita menangis histeris saat menjalani terapi “totok sirih” oleh tenaga orang dewasa. Kejadian ini langsung viral dan menjadi perbincangan warganet Tanah Air.
- Freepik/rawpixel.com
Dalam rekaman yang beredar, dikutip VIVA dari Instagram @fakta.indo Jum'at, 24 April 2026, terlihat seorang terapis asal Palembang menggunakan alat berupa kayu pijat yang dibalut daun sirih untuk menekan sejumlah titik di tubuh balita. Proses tersebut tampak dilakukan dengan tekanan yang cukup kuat, hingga membuat anak tersebut menangis tanpa henti.
Pemilik praktik terapi itu mengklaim bahwa metode “totok sirih” dapat membantu balita menjadi lebih rileks, tidur nyenyak, dan tidak rewel di malam hari. Ia menyebut daun sirih sebagai bahan alami yang memiliki kandungan antiseptik, sehingga dipercaya mampu membantu mendeteksi sekaligus “menyedot” penyakit melalui titik-titik saraf tertentu.
Namun, klaim tersebut langsung menuai tanggapan dari kalangan medis. Para ahli menegaskan bahwa metode totok sirih belum memiliki dasar ilmiah yang kuat dan tidak dapat dijadikan sebagai pengobatan utama, terutama untuk anak-anak.
Selain itu, tenaga pijat yang digunakan orang dewasa terhadap tubuh balita dinilai perlu sangat diperhatikan. Tubuh anak kecil masih dalam tahap perkembangan, sehingga memerlukan penanganan yang lebih lembut dan terstandar secara medis.
Adanya video viral ini, langsung menjadi perbincangan warganet. Banyak dari mereka metode tersebut terlalu keras untuk ukuran balita. Bahkan ada yang menyoroti penggunaan tekanan yang dianggap tidak sesuai untuk tubuh anak kecil yang masih sensitif.
- Instagram/@fakta.indo
"Perlu banget hal ini diinget untuk orang tua agar anaknya kalau sakit itu bereobat, bukan terapis seperti ini," tulis komentar warganet dalam unggahan tersebut.
"Terapisnya minim ilmu bahkan tidak punya sertifikasi resmi dari dinkes sebagai terapist bayi..dan juga ibu nya minim akal sehat dan literasi.. Yang jadi korban si anak," timpal warganet lainnya..
Kasus viral ini kembali menjadi pengingat bahwa tidak semua metode tradisional aman diterapkan, terutama tanpa pengawasan dan bukti ilmiah yang jelas.





