EtIndonesia. Baru-baru ini, seorang mahasiswi dari Guangdong, Tiongkok, diundang temannya untuk pergi ke Thailand mengikuti Songkran. Namun, setelah mendarat, ia justru dikendalikan dan dijual ke kamp penipuan (scam) di Myanmar. Ayah korban telah membayar lebih dari 200 ribu yuan sebagai tebusan, tetapi pelaku tetap tidak mau melepaskannya.
Menurut laporan Yangtze Evening Post, korban berinisial Xiaoyang (nama samaran) adalah mahasiswi tahun pertama di sebuah universitas di Guangdong. Ayahnya mengatakan, seorang “teman” mengundangnya ke Thailand untuk menghadiri Songkran. Ia berangkat dari Bandara Internasional Guangzhou Baiyun pada 10 April, dan sudah membeli tiket pulang untuk 15 April, berencana hanya berlibur beberapa hari.
Pada 13 April sekitar pukul 01.30 dini hari, seorang teman SMA Xiaoyang menemukan kejanggalan besar pada keberadaannya. Setelah turun dari pesawat, “teman” yang mengundangnya tidak muncul, dan ia langsung dikendalikan oleh seorang pria. Setelah berpindah-pindah selama dua hari, Xiaoyang dibawa ke wilayah dekat perbatasan Myanmar, yakni daerah Tiga Pagoda, dan diduga dijual ke kamp penipuan.
Teman SMA tersebut segera menghubungi ayah Xiaoyang. Sang ayah kemudian mencoba menghubungi putrinya. Setelah beberapa kali panggilan WeChat, telepon dijawab oleh seseorang yang mengaku sebagai “kakak baik hati”. Orang itu mengklaim telah “membeli” Xiaoyang seharga 29.000 USDT (mata uang kripto yang dipatok ke dolar AS), dan meminta tambahan 30.000 USDT untuk membebaskannya.
Pelaku juga mengancam agar ayah korban tidak melapor ke polisi, serta menyebut bahwa jika tidak membayar, Xiaoyang akan dijual lagi dan berisiko mengalami pemerkosaan berkelompok.
Dalam keadaan panik, pada 13 April sore hari, ayah Xiaoyang mentransfer 30.000 USDT (sekitar lebih dari 200 ribu yuan). Setelah menerima uang, pelaku berjanji akan “segera membebaskan” korban. Keluarga juga telah menghubungi kenalan di Myanmar untuk menjemput, tetapi terus mengalami penundaan.
Pada 16 April, pelaku berdalih bahwa selama festival Songkran tidak bisa mengatur penjemputan. Pada 18 April, mereka mengatakan jalan ditutup dan menunda hingga 20 April. Pada 20 April, alasan berubah menjadi “harus mengurus prosedur keluar dari kamp”. Hingga 22 April, mereka kembali menolak dengan alasan “kamp hanya menerima orang masuk, tidak ada yang keluar”.
Saat ini, Xiaoyang masih bisa berkomunikasi dengan keluarganya, tetapi kondisi di dalam kamp tidak diketahui, sehingga keluarganya sangat khawatir akan keselamatannya.
Pada 14 April, keluarga telah melaporkan kasus ini ke polisi Tiongkok. Sang ayah memohon kepada masyarakat dan pihak berwenang untuk segera turun tangan membantu putrinya pulang dengan selamat.
Kasus ini menjadi trending di Tiongkok. Namun, sebagian besar komentar warganet justru menyalahkan korban karena pergi ke Thailand.
Beberapa komentar menyebut: “Memangnya Thailand itu tempat seperti apa? Itu pusat perdagangan manusia global. Di dalam negeri juga ada festival air, kenapa harus ke Thailand?”
“Terlalu lama tinggal di dalam negeri jadi mengira luar negeri juga aman.”
Dalam beberapa tahun terakhir, praktik gelap kamp penipuan di Myanmar telah banyak terungkap. Banyak warga Tiongkok dilaporkan berangkat ke Thailand lalu dipindahkan ke Myanmar. Hal ini, ditambah narasi di media dan internet Tiongkok, memicu sentimen bahwa bepergian ke Thailand tidak aman, sehingga jumlah wisatawan Tiongkok ke Thailand menurun tajam.
Namun, pemerintah Thailand berulang kali menegaskan bahwa berwisata di Thailand aman, dan kasus penipuan tersebut tidak terkait dengan warga Thailand.
Pada 16 Desember 2025, seorang juru bicara polisi Thailand mengatakan dalam wawancara media bahwa wisatawan Tiongkok di Thailand sebenarnya “perlu waspada bukan terhadap orang Thailand, melainkan terhadap sesama orang Tiongkok yang sudah berada di Thailand.”
Ia juga menyatakan, “Orang Tiongkok sangat pintar, orang Thailand tidak bisa menipu mereka. Selama orang Tiongkok tidak menipu sesama orang Tiongkok, tidak ada yang bisa menipu mereka.” Pernyataan ini kemudian ramai diperbincangkan di media sosial.
Banyak netizen menilai pernyataan tersebut mengungkap sebagian dari jaringan kejahatan penipuan lintas negara di Asia Tenggara, di mana pelaku utama di balik penculikan dan penipuan besar memang sering kali berasal dari sesama warga Tiongkok.
Dilaporkan oleh Luo Tingting/Disunting oleh Wen Hui – NTDTV.com





