FAJAR, MAKASSAR — Peringatan Hari Bumi 2026 di UPT SPF SD Inpres Buttatianang II, Kecamatan Tallo, berlangsung semarak. Jumat (24/4/2026), sekolah tersebut menggelar pameran karya daur ulang yang melibatkan siswa, guru, dan orang tua murid dalam satu kolaborasi yang, akhirnya, benar-benar produktif.
Puluhan karya dipamerkan, hasil olahan sampah plastik, kertas, dan anorganik lainnya. Mulai dari ecobrick, pot bunga dari botol bekas, tas belanja berbahan bungkus deterjen, tempat pensil dari koran, hingga hiasan dinding dari tutup botol. Barang yang biasanya berakhir di tempat sampah, kali ini naik kasta jadi karya kreatif yang cukup layak dipamerkan.
Kepala SD Inpres Buttatianang II, Ilyanti Hasirah Nurgas, S.Pd., M.Pd., menegaskan kegiatan ini bukan sekadar seremoni tahunan yang dilupakan sehari setelahnya. Pameran tersebut merupakan bagian dari pembelajaran berbasis proyek yang mengintegrasikan pendidikan lingkungan dengan kewirausahaan.
“Pameran karya daur ulang ini hasil kolaborasi guru dan orang tua siswa. Sejak dua pekan lalu, anak-anak didampingi orang tua mengumpulkan sampah di rumah, lalu diolah bersama di sekolah,” ujar Ilyanti.
Menurutnya, keterlibatan orang tua menjadi faktor kunci keberhasilan program. Guru memberikan arahan desain dan teknik pengolahan, sementara orang tua mendampingi proses di rumah. Pola ini dinilai efektif membentuk kebiasaan memilah sampah sejak dari lingkungan keluarga, bukan sekadar teori di kelas yang cepat dilupakan.
“Ketika orang tua terlibat, pembiasaan pilah sampah tidak berhenti di sekolah. Anak jadi terbiasa memilah sejak dari rumah,” jelasnya.
Ilyanti berharap kegiatan ini mampu membangun kesadaran kolektif warga sekolah terhadap pentingnya menjaga lingkungan. Ia juga menekankan bahwa sampah tidak selalu menjadi akhir dari sebuah siklus, melainkan bisa menjadi awal dari nilai baru.
“Semua sampah plastik didaur ulang untuk dimanfaatkan di sekolah dan bisa dikembangkan menjadi wirausaha. Hasil karya ini bisa dipasarkan saat market day sekolah atau melalui paguyuban orang tua,” tambahnya.
Antusiasme siswa terlihat jelas. Mereka tampak bangga memamerkan hasil karyanya. Bagi sebagian siswa, pengalaman mengubah sampah menjadi barang berguna menjadi hal baru yang menyenangkan.
“Saya senang karena botol bekas bisa jadi pot bunga. Nanti mau bikin lagi di rumah sama Mama,” ujar salah satu siswa.
Dukungan juga datang dari orang tua murid. Mereka mengaku ikut belajar dari proses tersebut, sekaligus merasakan dampak positif pada kebiasaan anak di rumah.
“Ternyata bungkus kopi bisa jadi tas. Anak-anak juga jadi lebih rajin membersihkan sampah di rumah,” ungkap salah satu orang tua siswa kelas 3.
Pameran ditutup dengan pemilihan karya terbaik versi guru, orang tua, dan siswa. Karya terpilih akan dijadikan prototipe produk unggulan bank sampah sekolah.
Ke depan, SD Inpres Buttatianang II berencana membentuk “Galeri Daur Ulang” sebagai ruang display sekaligus wadah transaksi produk karya siswa. Program ini juga menjadi bagian dari penguatan sekolah menuju Adiwiyata, khususnya pada aspek pengelolaan lingkungan berbasis partisipasi.
“Momentum Hari Bumi harus terus dijaga. Menjaga lingkungan adalah tanggung jawab bersama. Kalau sampah bisa jadi karya dan bernilai ekonomi, tidak ada alasan untuk langsung membuangnya,” tutup Ilyanti.





