Pengusaha Kabel Transmisi Mobil Terdampak Krisis Plastik, Biaya Resin Naik 40%

bisnis.com
5 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — Lonjakan harga bahan baku akibat krisis nafta menekan keberlangsungan usaha produsen komponen otomotif segmen Industri Kecil dan Menengah (IKM) yang memiliki ruang penyesuaian biaya lebih sempit.

Kenaikan material seperti resin, polimer cair kental bahan baku kabel transmisi, memperkecil margin usaha di tengah pemulihan pasar yang belum merata.

Tekanan tersebut dirasakan PT Ragam Purna Sejahtera, produsen komponen otomotif yang memproduksi kabel transmisi dan sejumlah suku cadang lainnya. Perseroan menilai komponen berbasis plastik menjadi sumber kenaikan biaya paling besar saat ini.

“Saat ini kenaikan paling berasa untuk komponen plastik, sebab resinnya saja naik hingga 30-40%,” ungkap Ahmad Mulyana, Division Head Marketing & Production PT Ragam Purna Sejahtera kepada Bisnis beberapa waktu lalu.

Menurut Ahmad, situasi tersebut semakin menantang lantaran harga jual kepada pelanggan telah diikat dalam kontrak kerja sama. Akibatnya, kenaikan biaya bahan baku belum dapat langsung dialihkan melalui penyesuaian harga jual.

“Kami tidak bisa seenaknya menaikkan harga karena ada kontrak. Makanya, kami tahan saja dulu kenaikan harga material ini,” ungkap Ahmad.

Baca Juga

  • Komponen Otomotif Tertekan Krisis Nafta, Pengusaha Putar Otak Jaga Margin
  • Penjualan Otomotif Awal Tahun Dorong Kenaikan Premi Asuransi Kendaraan Bermotor
  • Kendaraan Hybrid Kurang Insentif, Pabrikan Otomotif Jepang Tetap Garap Pasar RI

Di sisi lain, tekanan yang berlangsung lama berisiko mengganggu arus kas pelaku usaha menengah dan kecil. Pasalnya, perusahaan harus menanggung kenaikan biaya produksi lebih dulu, sementara penerimaan usaha masih mengacu pada kontrak lama.

Alhasil, pelaku industri berharap stabilisasi pasokan bahan baku dan penguatan permintaan otomotif domestik agar utilisasi pabrik kembali meningkat. Dengan volume produksi yang membaik, beban biaya tetap dinilai dapat lebih tersebar dan menopang keberlanjutan usaha komponen nasional.

Salah satu langkah adaptif yang kini ditempuh pelaku usaha yaitu meningkatkan efisiensi operasional guna menghadapi tekanan global akibat konflik di Timur Tengah yang mendorong kenaikan harga energi dan biaya produksi industri.

Emiten komponen otomotif PT Selamat Sempurna Tbk. (SMSM) memperkirakan industri akan menghadapi tantangan cukup berat sepanjang 2026. Selain ketidakpastian ekonomi global, pelemahan daya beli di pasar ekspor juga berpotensi menekan kinerja usaha.

Wakil Direktur Utama SMSM Ang Andri Pribadi mengatakan persaingan harga kini semakin ketat, terutama dari produsen berbiaya rendah yang mampu menekan margin industri.

Untuk merespons situasi tersebut, perseroan memperkuat hubungan dengan pelanggan, menjaga kualitas produk, serta memastikan ketepatan pengiriman. Pada saat yang sama, efisiensi operasional terus dilakukan guna mempertahankan profitabilitas.

“Hal ini didukung oleh relevansi produk perseroan yang tetap terjaga, mengingat kendaraan listrik masih membutuhkan berbagai sistem filtrasi dan pendinginan, seperti cabin air filter, battery cooling filter, serta HVAC filter untuk aplikasi non-mesin,” ujar Andri kepada Bisnis.

Tak ketinggalan, SMSM juga menyiapkan langkah antisipatif terhadap lonjakan harga minyak dengan mengikuti perkembangan tren elektrifikasi kendaraan. Saat ini, perseroan telah memiliki sekitar 60–70 stock keeping unit (SKU) yang terkait dengan aplikasi kendaraan listrik.

Sebelumnya, Sekretaris Jenderal Gabungan Industri Alat Mobil dan Motor (GIAMM) Rachmat Basuki mengatakan, salah satu komoditas yang terdampak langsung adalah nafta sebagai bahan baku utama industri petrokimia. Kenaikan harga komoditas itu kemudian merembet ke biaya produksi sektor hilir.

"Karena kelangkaan suplai nafta, sekarang kondisi plastik secara umum terjadi kenaikan di kisaran 40% hingga 100%," ujar Basuki kepada Bisnis, dikutip Kamis (23/4/2026).


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Daftar 10 Negara Paling Tahan Hadapi Krisis Energi, Indonesia Termasuk
• 13 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Mengintai Tanpa Terlihat: Cara Kerja Detektif Swasta di Jakarta yang Jarang Terungkap
• 3 jam lalukompas.com
thumb
Kadin Sebut Pelemahan Rupiah Jadi Peluang untuk Perluas Pasar Ekspor
• 5 jam lalukumparan.com
thumb
Ancaman PHK 10 Perusahaan 3 Bulan ke Depan, Menaker Buka Suara
• 19 jam lalukatadata.co.id
thumb
Masalah Perpustakaan Mini Jakarta: Dikunci, Minim Perawatan, Hingga Sepi Pengunjung
• 4 jam lalukompas.com
Berhasil disimpan.