Siti Nafiah (58 tahun) membuktikan bahwa niat suci yang dirawat puluhan tahun akan selalu menemukan jalannya. Warga Dukuh Kedung Panjang, Desa Soneyan, Kecamatan Margoyoso, Kabupaten Pati ini akhirnya memetik buah dari kesabarannya menyisihkan sisa keuntungan jualan tempe untuk berangkat ibadah haji.
Perjalanan panjang ini ia mulai bersama suaminya, Winoto (65 tahun), dari sebuah dapur sederhana sekitar 20 tahun lalu. Berbekal modal sekitar Rp 500 ribu untuk mengolah kedelai setiap pekannya, harapan itu Nafiah diselipkan pada setiap bungkus tempe yang ia titip jual di warung-warung.
"Usaha tempe ini sudah 20 tahun kurang lebih. Selama ini jadi penghasilan utama keluarga," kata Nafiah saat ditemui, Jumat (24/4).
Setelah bertahun-tahun mengumpulkan modal dan keyakinan, Nafiah akhirnya memberanikan diri untuk mendaftar haji pada 2012. Saat itu, ia sadar perjalanannya menuju Baitullah tidak akan singkat karena harus menghadapi masa tunggu yang mencapai belasan tahun.
Waktu tunggu itu ia jalani dengan ketelatenan mengolah sekitar delapan kilogram kedelai setiap hari. Meski produksinya terbatas, ibu tiga anak itu tetap tekun menabung sedikit demi sedikit dari sisa omzet harian yang hanya sekitar Rp 150 ribu. Namun, kadang jika kebutuhan sedang banyak, dirinya terpaksa tidak menabung.
"Nabung seminggu paling Rp 100 ribu. Sehari kadang Rp 10 ribu, kalau nggak ada kebutuhan. Kalau ada kebutuhan, kan, enggak bisa (nabung)," beber wanita yang juga guru Taman Pendidikan Al-Quran (TPQ) itu.
Kini, setelah bersabar menunggu selama 14 tahun, penantian panjang itu akhirnya menemui muara. Nafiah dan Winoto dijadwalkan berangkat ke Tanah Suci pada musim haji tahun ini. Keduanya dijadwalkan berangkat ke Asrama Haji Donohudan, Boyolali, sebelum terbang ke Arab Saudi pada 7 Mei 2026.
“Senang sekali bisa berangkat ibadah haji dari jualan tempe. Berangkat insyaallah tanggal 7 Mei,” katanya.
Keteguhan Siti tidak hanya mengantarkannya ke Makkah. Lewat usaha yang sama, ia berhasil membesarkan dan menyekolahkan ketiga anaknya hingga jenjang perguruan tinggi. Anak pertama sudah berumah tangga dan tinggal di Kabupaten Demak, anak kedua kerja di salah satu rumah sakit, dan anak ketiga masih kuliah.
"Yang terakhir putri, kuliah di Kudus. Yang kedua kuliah di Semarang dan kini sudah kerja di rumah sakit," beber Nafiah.





