JAKARTA, KOMPAS — Empat pelaku begal bercelurit yang merampas motor dan ponsel seorang pengendara di Gunung Sahari, Jakarta Pusat, telah ditangkap di tiga tempat berbeda. Pengungkapan kasus ini menambah panjang daftar aksi begal yang terjadi di wilayah Jakarta.
Korban GH (23) dibegal saat melintas bersama rekannya di bawah JPO Halte Jembatan Merah, Jalan Gunung Sahari, Sawah Besar pada Kamis, (9/4/2026) malam. Saat berkendara, tiba-tiba keempat pelaku menghadang.
"Salah satunya bahkan mengancam menggunakan celurit. Korban pun tak berdaya," kata Kapolres Metro Jakarta Pusat Komisaris Besar Reynold E. P. Hutagalung saat dikonfirmasi, Jumat (24/4/2026). Saat itu, pelaku menghentikan korban di jalan, kemudian mengancam dengan senjata tajam.
Korban yang ketakutan dengan ancaman itu pun langsung menyerahkan sepeda motor serta handphone miliknya. " Aksi ini merupakan tindak pidana serius yang kami tindak tegas,”ujar Reynold.
Mendapat laporan tersebut, Reskrim Polsek Sawah Besar langsung bergerak. Tim dipimpin Inpektur Polisi Satu Muhammad Asaugi segera melakukan olah tempat kejadian perkara termasuk menelusuri kamera pengawas (CCTV).
Dari penelusuran itu, identitas keempat pelaku pun terungkap. Mereka adalah HQQ, JM, FP, dan YIP. Polisi menangkap mereka di beberapa lokasi yakni di Tangerang, Jakarta Barat, dan di sebuah apartemen di Jakarta.
"Di tangan mereka, petugas juga menyita satu celurit dan dua sepeda motor yang mereka gunakan saat merampas harta korban," ujar Reynold.
Kapolsek Sawah Besar Komisaris Rahmat Himawan mengatakan akibat kejadian ini, korban mengalami kerugian hingga Rp 6,5 juta. Adapun sampai saat ini, keempat pelaku masih diperiksa secara intensif.
Termasuk untuk mengetahui motif di balik aksi ini. Akibat perbuatannya, keempat pelaku dijerat Pasal 479 KUHP tentang pencurian dengan kekerasan. Adapun ancaman hukuman sekitar 9 tahun bahkan sampai 20 tahun penjara.
Aksi begal di Jakarta sudah berulang kali terjadi. Aksi pembegalan turut dialami oleh seorang pemadam kebakaran, Bimo Margo Hutomo (29). Dia menjadi korban begal saat melintas di Jalan KH Hasyim Ashari di Cideng, Kecamatan Gambir, Jakarta Pusat pada 2 April 2026. Tak hanya kehilangan harta benda, ia terluka pada sekujur tubuh setelah dianiaya oleh komplotan begal.
Dalam video yang viral di media sosial, Bimo dikeroyok sejumlah orang yang mengendarai tiga sepeda motor. Bimo terjatuh sampai akhirnya berdiri lagi dan melawan para pembegal.
Namun, akibat kalah jumlah, ia tersungkur dengan penuh luka. Pelaku diduga memukul kepala Bimo dengan batako. Bimo terluka. Warga yang melintas hendak membantunya, tetapi pelaku melarikan diri dengan membawa sepeda motor dan dua telepon genggam milik korban.
Pelaksana Tugas Kepala Unit Reserse Kriminal Polsek Metro Gambir Inspektur Satu Heri Moko mengatakan kasus ini terkuak saat korban datang ke Polsek Metro Gambir dalam keadaan terluka. ”Korban terluka di kepala, lecet di muka dan pergelangan tangan,” kata Heri, Selasa (7/4/2026).
Dalam laporan itu, korban mengaku pembegalan terjadi saat ia kembali dari rumah temannya melewati kawasan Cideng. Namun, saat itu, ia dipepet oleh sekelompok orang. Mereka menendang sepeda motornya hingga ia terjatuh.
Dari laporan tersebut, polisi langsung melakukan olah tempat kejadian perkara dan menelusuri sejumlah jejak yang ditinggalkan pelaku termasuk rekaman CCTV.
Akhirnya pada senin (13/4/2026), lima pembegal penyerang Bimo pun ditangkap. Saat ditangkap, mereka sedang berpesta narkoba di sebuah hotel di Pluit, Jakarta Utara.
Dalam video di media sosial, mereka tampak tidak berdaya saat digerebek polisi. Kelima pelaku adalah F (30), RS (19), TA (20), R (21), dan RA (24).
”Saat ditangkap, mereka sedang pesta (narkoba) bersama teman perempuannya. Semua pelaku mengonsumsi amfetamin,” ujar Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Metro Jakarta Pusat Ajun Komisaris Roby Heri Saputra, Rabu (15/4/2026).
Dari hasil pemeriksaan, kelima pelaku mengaku membegal sepeda motor milik Bimo, seorang petugas damkar. Uang hasil penjualan rampasan digunakan untuk pesta narkoba.
Roby mengatakan, pengusutan kasus ini tidak akan berhenti. Empat pelaku lain yang terlibat telah masuk daftar pencarian orang.
Kasus pembegalan yang terjadi secara beruntun di pusat kota Jakarta telah mencoreng status Jakarta yang didapuk sebagai kota teraman nomor dua di Asia Tenggara. Berdasarkan survei terbaru Global Residence Index 2026 yang dirilis pada 16 Januari 2026, Jakarta hanya berada satu peringkat di bawah Singapura dengan skor 0,90. Singapura selama ini dikenal sebagai tolok ukur keamanan perkotaan.
Sementara itu, Jakarta berada di posisi kedua dengan skor 0,72. Setelah Jakarta, Bangkok berada di peringkat ketiga (0,65), disusul Vientiane (0,61), Hanoi (0,60), dan Kuala Lumpur (0,57).
Penilaian dalam survei ini didasarkan pada berbagai indikator, mulai dari persepsi keamanan publik, tingkat kejahatan dan pembunuhan, hingga stabilitas politik dan risiko konflik. Selain itu, faktor potensi bencana alam, risiko keamanan umum, serta tingkat kecelakaan lalu lintas juga turut diperhitungkan.
Kabid Humas Polda Metro Jaya Komisaris Besar Budi Hermanto menuturkan walau telah ditetapkan sebagai kota teraman kedua, warga Jakarta harus tetap waspada. ”Jangan melihat salah satu profesi dari seseorang. Ini saya luruskan juga, seorang pemadam kebakaran, seorang anggota Polri, seorang pekerja lain juga sama di mata masyarakat,” ujarnya.
Menurut dia, keamanan Jakarta harus tetap dijaga. Visi ini bisa terwujud jika setiap warga memiliki kesadaran untuk terlibat dalam menjaga keamanan di sekitarnya. Karena keamanan tidak hanya hanya tugas aparat penegak hukum, tetapi juga partisipasi warga. ”Capaian (kota teraman) juga lahir dari kolaborasi berbagai pihak dalam menjaga keamanan lingkungan Jakarta,” katanya.
Bagi Budi, capaian itu bukan hanya kerja Polri, TNI, dan pemerintah, melainkan merupakan wujud kesadaran masyarakat untuk menciptakan rasa aman.
Menurut dia, rasa aman harus dirasakan semua kalangan, terutama kelompok rentan, seperti perempuan dan anak, baik di ruang publik fisik maupun ruang digital. ”Memberi ruang aman kepada kaum rentan, termasuk di ruang digital,” katanya.
Budi juga mengingatkan pentingnya kewaspadaan pribadi. Upaya menjaga keamanan tidak cukup hanya mengandalkan patroli aparat.





