Jakarta: Ketua Fraksi Partai NasDem DPR RI, Viktor Bungtilu Laiskodat, menegaskan Partai NasDem harus membangun kekuatan melalui kualitas kader yang unggul dengan menggabungkan elektabilitas, intelektualitas, dan moral. Hal tersebut, kata Viktor, sebagai syarat menjadi pemenang pemilu sekaligus mampu memimpin negara secara bertanggung jawab.
“Setiap keterwakilan harus siap dipilih, disukai, dan juga punya kemampuan intelektual, serta moral,” ujar Viktor dalam Laboratorium Perubahan Partai NasDem, di Akademi Bela Negara (ABN), Jakarta, Jumat, 24 April 2026.
Baca Juga :
Perkuat Solidaritas-Soliditas Kader, NasDem Gelar Laga Perubahan di Jakarta“Mobokrasi adalah kejatuhan demokrasi yang dipimpin oleh kelompok orang bodoh dan rakus,” ujar Viktor.
Menurutnya, Partai NasDem harus menghindari jebakan tersebut jika ingin menjadi kekuatan politik yang mampu memimpin bangsa.
“Kita tidak mau, diberikan kesempatan memimpin bangsa ini, karena kebodohannya membawa negara ini bangkrut,” kata Viktor.
Viktor juga menyoroti tantangan besar ke depan, terutama dengan dominasi pemilih muda. Ia menyebut sekitar 70% pemilih pada 2029 berasal dari generasi milenial dan Gen Z yang cenderung berpikir cepat dan praktis. Oleh karena itu, ia mendorong kader partai untuk memperkuat kapasitas intelektual secara serius, bahkan hingga mempelajari disiplin ilmu yang tidak lazim bagi politisi.
“Orang politik harus belajar. Kalau mekanisme kuantum tidak mengerti, filsafat tidak bisa, komputasi tidak bisa, mau lanjut ke mana?” ujar Viktor.
Ketua Fraksi Nasdem di DPR Viktor Laiskodat. Foto: MI/Susanto.
Ia juga mengkritik rendahnya kedalaman literasi publik. “98 persen warga hari ini hanya baca judul. Kita tidak boleh seperti itu, harus paham konteks,” kata politisi Partai NasDem itu.
Untuk menjawab tantangan tersebut, Viktor menargetkan lahirnya kader dalam jumlah besar dengan kualitas tinggi. “Kita tidak cukup satu dua orang hebat. Kita perlu 1.000 orang yang terpilih dan punya kemampuan,” tegasnya.
Di sisi lain, ia menyinggung sikap politik NasDem yang mengedepankan “budaya malu”, termasuk keputusan tidak menempatkan kader di kabinet meski mendukung pemerintah. “Ini cara berpikir elegan. Itu DNA NasDem,” ujarnya.
Menutup pidatonya, Viktor menekankan masa depan partai bergantung pada keseriusan kader dalam membangun kapasitas diri. “Politisi hebat bukan hanya pandai pidato, tapi punya cara berpikir yang dalam dan mampu menjawab persoalan bangsa secara konkret,” ungkap Viktor.




