Penulis: Abdullah Hamzah
TVRINews, Kepulauan Riau
Di balik pesatnya pembangunan dan modernisasi Kota Tanjungpinang, masih terselip kisah inspiratif dari seorang petani lokal bernama Pak Aseng.
Di usianya yang tak lagi muda, ia tetap menunjukkan dedikasi luar biasa dalam mengolah lahan perkebunan demi memenuhi kebutuhan hidup sekaligus berkontribusi terhadap ketahanan pangan daerah.
Setiap harinya, Pak Aseng menghabiskan waktu di kebun timun miliknya. Meski tenaga tak lagi sekuat masa muda dan tantangan cuaca yang kerap tak menentu, ia tetap tekun merawat berbagai tanaman sayur dan hasil bumi dengan sepenuh hati.
Baginya, bertani bukan sekadar rutinitas untuk menyambung hidup, melainkan panggilan jiwa untuk menjaga ketersediaan pangan bagi keluarga dan lingkungan sekitarnya.
Hasil panen dari kebunnya pun terserap dengan baik melalui sistem jemput bola. Para pengepul dari kawasan Batu 10, Pasar Bintan Center, secara rutin datang langsung ke kebunnya untuk mengambil hasil panen.
Sistem pemasaran ini sangat membantu Pak Aseng, sehingga ia tidak perlu repot menempuh jarak jauh untuk menjajakan hasil buminya ke pasar.
“Hasil panen memang tidak selalu besar, namun cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari,” ungkap Pak Aseng dengan nada syukur, Jumat, 24 April 2026
Di balik kesederhanaan hasil kebunnya, terdapat rasa bangga yang besar. Pak Aseng merasa bahagia dapat turut berkontribusi menyediakan bahan pangan segar bagi masyarakat Tanjungpinang.
Baginya, setiap butir timun dan sayuran yang ia tanam adalah bukti nyata bahwa sektor pertanian tetap menjadi penopang utama kehidupan.
Kisah Pak Aseng menjadi pengingat penting bagi kita semua bahwa ketahanan pangan tidak selalu harus dimulai dari skala besar. Dengan konsistensi, kerja keras, dan ketulusan, lahan yang sederhana pun mampu menghasilkan manfaat yang luar biasa bagi banyak orang.
Di tengah arus modernisasi, semangat petani seperti Pak Aseng adalah pilar kekuatan yang menjaga negeri tetap berdaya secara pangan.
Editor: Redaksi TVRINews





