JAKARTA, KOMPAS-Suhu permukaan laut Pasifik Khatulistiwa telah meningkat dengan cepat, menandai kondisi El Niño yang diprediksi bakal mulai antara Mei–Juli 2026. Fenomena El Niño yang terjadi berbarengan dengan masuknya musim kemarau di Indonesia ini bakal meningkatkan suhu permukaan daratan dan lebih kering.
"Pemantauan terbaru menunjukkan, El Nino sudah terbit di Samudera Pasifik. Anomali suhu permukaan laut di wilayah tersebut menunjukkan 0,57 derajat celcius," kata Koordinator Bidang Iklim Terapan, Direktorat Layanan Iklim Terapan, Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Siswanto, Sabtu (25/4).
Menurut Siswanto, sebagian besar hasil pemodelan memperkirakan El Nino kali ini dalam kategori lemah sampai moderat. Namun demikian, ada juga pemodelan yang menyebutkan peluang El Nino bisa dalam kategori kuat dan sangat kuat. "Paling meyakinkan, kekuatannya lemah-moderat-kuat," kata dia.
Dengan terjadinya El Nino, menurut prediksi BMKG, kondisi musim kemarau di Indonesia kali ini pada umumnya bakal lebih kering dari biasanya. "Puncak kering diprediksi di bulan Agustus dan bakal lebih kering daripada 2023, namun kemungkinan tidak akan lebih kering dibandingkan 2019," kata Siswanto.
El Niño merupakan fase berlawanan dari La Niña dalam El Niño–Southern Oscillation (ENSO) atau pola iklim paling kuat di Bumi. Peristiwa ini membentuk kembali cuaca global, memengaruhi curah hujan, kekeringan, dan peristiwa ekstrem di berbagai wilayah.
El Niño ditandai dengan pemanasan suhu permukaan laut di Pasifik Khatulistiwa bagian tengah dan timur. Kondisi ini berdampak terhadap intensitas hujan yang lebih sedikit untuk wilayah Indonesia. Peristiwa ini biasanya terjadi setiap dua hingga tujuh tahun dan berlangsung sekitar sembilan hingga dua belas bulan.
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani, dalam perkiraan musim bulan Maret 2026 lalu telah mengingatkan, kemarau tahun ini diprediksi datang lebih awal.
Sebelumnya, Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani, dalam perkiraan musim bulan Maret 2026 lalu telah mengingatkan, kemarau tahun ini diprediksi datang lebih awal. Daerah yang paling awal mengalami musim kemarau adalah Nusa Tenggara, yang kemudian bergerak secara bertahap ke arah barat hingga mencakup wilayah Indonesia lainnya.
Tak hanya datang lebih awal, Faisal juga memperingatkan bahwa musim kemarau tahun ini akan lebih panjang dan lebih kering dibandingkan dengan rata-rata.
Laporan Bulanan Terbaru tentang Iklim Musiman Global dari Organisasi Meteorologi Dunia (WMO), yang dikeluarkan pada Jumat (24/5/2025 ) juga menunjukkan pergeseran yang jelas di Pasifik Khatulistiwa. Suhu permukaan laut meningkat dengan cepat, menunjukkan kemungkinan kembalinya kondisi El Niño yang diprediksi paling cepat pada Mei–Juli 2026.
“Setelah periode kondisi netral di awal tahun, model iklim sekarang sangat selaras, dan ada keyakinan tinggi akan dimulainya El Niño, diikuti oleh intensifikasi lebih lanjut di bulan-bulan berikutnya,” kata Wilfran Moufouma Okia, Kepala Prediksi Iklim di WMO.
Menurut Okia, model menunjukkan bahwa El Nino kali ini mungkin merupakan peristiwa yang kuat. "Kepercayaan prakiraan (mengenai kekuatan El Niño) umumnya meningkat setelah April,” katanya.
Okia juga menegaskan WMO tidak menggunakan istilah "super El Niño" atau "El Niño Godzilla" karena bukan bagian dari klasifikasi operasional standar.
Peristiwa El Niño memengaruhi pola suhu dan curah hujan di berbagai wilayah dan biasanya memiliki efek pemanasan pada iklim global, dengan puncaknya hingga setahun setelahnya. Dengan demikian, tahun 2024 adalah tahun terpanas yang pernah tercatat karena kombinasi El Niño 2023-2024 yang kuat dan perubahan iklim akibat aktivitas manusia dari gas rumah kaca.
Secara global, peristiwa El Niño, biasanya dikaitkan dengan peningkatan curah hujan di sebagian Amerika Selatan bagian selatan.
Menurut Okia, sejauh ini tidak ada bukti bahwa perubahan iklim meningkatkan frekuensi atau intensitas peristiwa El Niño. Namun, hal itu dapat memperkuat dampak yang terkait karena lautan dan atmosfer yang lebih hangat meningkatkan ketersediaan energi dan kelembapan untuk peristiwa cuaca ekstrem seperti gelombang panas dan curah hujan lebat.
Secara global, peristiwa El Niño, biasanya dikaitkan dengan peningkatan curah hujan di sebagian Amerika Selatan bagian selatan, Amerika Serikat bagian selatan, Tanduk Afrika, dan Asia tengah, serta kekeringan di Australia, Indonesia, dan sebagian Asia selatan.
Selama musim panas di belahan bumi utara, air hangat El Niño dapat memicu badai di Samudra Pasifik bagian tengah/timur, sementara menghambat pembentukan badai di Cekungan Atlantik.
Dalam laporan ini, WMO juga menerbitkan Pembaruan Iklim Musiman Global bulanan yang memperhitungkan ENSO dan pendorong iklim utama lainnya, seperti Osilasi Atlantik Utara, Mode Annular Selatan, atau Dipol Samudra Hindia.
Untuk musim Mei-Juni-Juli, suhu permukaan daratan diperkirakan akan berada di atas normal hampir di mana-mana. Sinyalnya sangat kuat di Amerika Utara bagian selatan, Amerika Tengah, dan Karibia, serta Eropa dan Afrika Utara.





