EtIndonesia. Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, pada Kamis (23 April) secara tiba-tiba menyatakan bahwa militer Israel telah siap sepenuhnya. Mereka hanya menunggu satu sinyal dari Presiden AS Donald Trump untuk segera melancarkan serangan. Ia menegaskan bahwa serangan kali ini akan berbeda dari sebelumnya, dengan dampak yang menghancurkan terhadap titik paling sensitif dari rezim Iran.
Israel juga memperingatkan bahwa serangan ini dapat mengguncang fondasi kekuasaan Iran dan bahkan berpotensi menyebabkan runtuhnya rezim tersebut. Menanggapi hal ini, Islamic Revolutionary Guard Corps (IRGC) menyatakan bahwa Teheran juga telah siap untuk berperang.
Sementara itu, menurut laporan Channel 12 Israel, Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, dikabarkan telah mengundurkan diri dari tim negosiasi dan tidak lagi memimpin pembicaraan dengan Amerika Serikat. Hal ini dianggap sebagai indikasi meningkatnya konflik kekuasaan di tingkat tinggi Iran.
Dalam pernyataannya, Katz menegaskan bahwa jika mendapat “lampu hijau” dari Trump, militer Israel akan melancarkan serangan yang jauh lebih mematikan dan destruktif dibanding sebelumnya, dengan tujuan menghancurkan target-target paling vital di Teheran serta melemahkan fondasi kekuasaan yang dipimpin oleh Ali Khamenei.
Tak lama setelah pernyataan tersebut, media semi-resmi Iran Mehr News Agency melaporkan bahwa Teheran kembali mengaktifkan sistem pertahanan udara untuk menghadapi kemungkinan serangan musuh.
Meski kedua pihak belum menyebutkan waktu pasti dimulainya serangan, suasana menjelang konflik besar semakin terasa di kawasan Timur Tengah.
Di sisi lain, laporan Channel 12 juga menyebut bahwa pengunduran diri Ghalibaf dipicu oleh meningkatnya campur tangan IRGC dalam proses negosiasi, yang menyebabkan perpecahan internal. Namun, informasi ini belum mendapat konfirmasi resmi.
Presiden Trump mengatakan, “(Iran) bahkan tidak tahu siapa yang memimpin negara mereka. Mereka berada dalam kekacauan, jadi kami memberi mereka sedikit kesempatan untuk menyelesaikan situasi tersebut.”
Laporan oleh Ren Hao, Washington DC.





