Bisnis.com, JAKARTA — Eskalasi konflik antara Iran melawan koalisi Amerika Serikat dan Israel kian memperparah krisis kemanusiaan di kawasan. Data dari Aljazeera terbaru menunjukkan ribuan korban jiwa berjatuhan di berbagai negara sejak perang pecah pada akhir Februari 2026.
Berdasarkan laporan terkini, korban tewas di Iran mencapai sedikitnya 3.375 orang dengan lebih dari 26.500 lainnya luka-luka. Sementara di Lebanon, jumlah korban meninggal telah menembus 2.294 jiwa, dengan ribuan lainnya cedera.
Konflik yang meluas juga merenggut korban di negara-negara Teluk dan kawasan sekitarnya, dengan sedikitnya 28 orang dilaporkan tewas di berbagai negara di luar zona utama perang.
Situasi kian kompleks seiring gagalnya jalur diplomasi. Iran menolak mengikuti putaran kedua perundingan di Pakistan, meskipun gencatan senjata rapuh yang dimulai pada 8 April 2026 mendekati akhir masa berlakunya.
Presiden AS Donald Trump sebelumnya menyatakan kesediaan menghentikan serangan dengan syarat Teheran membuka penuh jalur pelayaran di Selat Hormuz. Namun, di sisi lain Washington justru memberlakukan blokade terhadap seluruh pelabuhan Iran.
Langkah ini memicu tudingan pelanggaran kesepakatan. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei menegaskan bahwa AS telah “melanggar gencatan senjata sejak awal implementasi”, merujuk pada blokade laut sejak 13 April 2026 serta penangkapan kapal kontainer Iran oleh militer AS.
Baca Juga
- Trump Batalkan Utusan ke Pakistan saat Israel Gempur Lebanon
- Hitung Mundur Piala Dunia 2026 dan Ragam Kebijakan serta Komentar Kontroversi Trump
- AS Cegat dan Sita Kapal Iran, Blokade Trump di Selat Hormuz
Di front lain, Israel dan Lebanon sempat menyepakati gencatan senjata selama 10 hari sejak 17 April 2026, menghentikan sementara serangan Israel yang telah menewaskan hampir 2.300 orang.
Namun, Israel tetap membangun zona militer baru yang disebut “Yellow Line” di Lebanon selatan, membentang dari perbatasan hingga Sungai Litani, termasuk wilayah maritim di sekitarnya. Kebijakan ini mempertegas kontrol militer Israel di kawasan tersebut.
Perang Meluas ke Banyak NegaraSejak dimulai pada 28 Februari 2026, serangan AS dan Israel menargetkan fasilitas nuklir, militer, hingga sipil di Iran. Teheran kemudian membalas dengan meluncurkan serangan ke berbagai wilayah yang menjadi basis militer AS dan sekutunya di Timur Tengah.
Iran tercatat menyerang enam negara anggota Dewan Kerja Sama Teluk (GCC), yakni Bahrain, Kuwait, Oman, Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab.
Selain itu, serangan juga menjangkau Irak dan Yordania, serta diduga menyasar fasilitas militer Inggris di Siprus.
Situasi kian menjadi semakin kompleks setelah kelompok Houthi di Yaman meluncurkan serangan rudal balistik ke Israel pada 28 Maret 2026, menandai eskalasi baru dalam perang regional tersebut.
Konflik ini juga menyoroti besarnya kehadiran militer AS di kawasan. Washington diketahui memiliki jaringan pangkalan militer di sedikitnya 19 lokasi di Timur Tengah, dengan delapan di antaranya merupakan basis permanen, termasuk di Qatar, Bahrain, Kuwait, dan Arab Saudi.
Pada pertengahan 2025, jumlah personel militer AS di kawasan diperkirakan mencapai 40.000 hingga 50.000 tentara, menjadikan wilayah ini sebagai pusat operasi strategis bagi kekuatan militer Amerika.
Dengan korban jiwa yang terus meningkat, gencatan senjata yang rapuh, serta jalur diplomasi yang tersendat, konflik AS–Israel dan Iran kini berkembang menjadi krisis multidimensi.
Selain dampak kemanusiaan, perang ini juga mengancam stabilitas energi global dan memperbesar risiko konflik regional yang lebih luas di Timur Tengah.
Jumlah Korban di Berbagai NegaraSelain Iran dan Lebanon, sejumlah negara lain juga mencatat korban jiwa dan luka:
- Israel: 26 tewas, 7.693 luka
- Amerika Serikat: 13 tentara tewas, sekitar 200 luka
- Irak: sedikitnya 118 tewas
- Uni Emirat Arab: 12 tewas, 224 luka
- Kuwait: 7 tewas
- Arab Saudi: 3 tewas, 29 luka
- Bahrain: 3 tewas
- Oman: 3 tewas, 15 luka
- Qatar: 20 luka
- Yordania: 29 luka
Sebagian besar korban di negara-negara Teluk disebabkan oleh serpihan rudal atau serangan terhadap fasilitas energi dan militer.





