Ortu Korban: Daycare Little Aresha Sadis!

detik.com
9 jam lalu
Cover Berita
Jakarta -

Orang tua korban dugaan penganiayaan terhadap anak-anak di penitipan anak (daycare) Little Aresha menceritakan sadisnya perlakuan para pengasuh di daycare tersebut. Bahkan setelah melihat bukti video, mereka mengibaratkan lebih sadis dari kamp Guantanamo Kuba.

Sebagai informasi, Kamp Guantanamo adalah kamp tahanan yang didirikan tahun 2002 oleh AS di Kuba. Kamp ini merupakan penjara militer kontroversial untuk tersangka teroris. Kamp ini dikritik keras karena dugaan penyiksaan.

Pengibaratan itu disampaikan salah satu orang tua korban, Noorman Windarto. Dengan suara bergetar, Noorman menceritakan kondisi daycare dan perlakuan para pengasuh terhadap anak-anak.

"Kita ya percaya saja kalau tempatnya luas dan yang bikin konyol kami itu kita nggak nanyakan di sana tuh sebenarnya sudah ada berapa anak," terang Noorman usai pertemuan dengan Wali Kota Jogja, Minggu (26/4/2026).

"Ternyata begitu pas tahu di sana ada 50 lebih ya, anak yang usia bayi sampai balita tuh, wah luar biasa ternyata nggak manusiawi, kalau sama Kamp Guantanamo katanya lebih sadis kamp ini," sambungnya.

Noorman sendiri turut menyusul ke lokasi saat proses penggerebekan kepolisian Jumat (24/7), ia juga menyaksikan video penggerebekannya. Noorman pun mengaku tak kuasa melihat video tersebut hingga selesai.

Menurutnya, dalam video yang diperlihatkan oleh polisi tersebut, tampak anak-anak diperlakukan sangat tidak manusiawi, termasuk anaknya.

"Saya juga akhirnya trauma Mas, saya trauma di sini kalau lihat (video) itu pasti nangis saya. Jadi saya memutuskan ya sudahlah yang penting ini sudah jadi barang bukti, saya percayakan kepada polisi," imbuh Noorman.

Para Orang Tua Korban Daycare Temui Wali Kota

Sementara itu, sejumlah orang tua korban juga mendatangi rumah dinas Wali Kota Jogja. Kedatangan para orang tua ini diterima langsung oleh Wali Kota Hasto Wardoyo. Dari pertemuan ini disepakati beberapa hal antara kedua pihak.

Hasto menjelaskan, pertemuan terfokus pada mendengar cerita dan keluh kesah para orang tua korban. Keluh kesah ini ditampung, dicari solusinya, dan disepakati bersama.

"Pada prinsipnya mereka minta perlindungan untuk anaknya dibantu, karena anak-anak ini sekarang dirasakan ada secara psikologis ada tanda-tanda yang kurang sehat," jelas Hasto usai pertemuan, Minggu (26/4/2026).

"Kita segera membentuk tim untuk mendampingi anaknya, tentu butuh psikologi anak, butuh ahli gizi anak, butuh ahli parenting," papar Hasto.

"Yang kedua, orang tua juga mengalami suatu, stres, terkejut, sehingga tadi menangis (saat) menyampaikan. Sehingga mereka juga menginginkan pendampingan psikologis," sambungnya.

Selain itu, Hasto menyebut ada pembahasan soal penyediaan tempat penitipan korban-korban ke depan. Pasalnya, para orang tua korban rata-rata masih bekerja dan perlu daycare yang lebih aman.

"Besok pagi anaknya mau dititipkan kemana, ini suatu hal yang urgen dan emergency, karena mereka pada umumnya kerja. Kami segera mengidentifikasi daycare-daycare lainnya yang aman, amanah, baik, yang sehat," ujarnya.

Terakhir, adalah upaya pencegahan agar kejadian serupa tidak terulang kembali. Hasto mengerahkan jajarannya untuk mendata seluruh daycare yang ada di wilayahnya. Setelanya, Pemkot akan melakukan sweeping ke daycare-daycare tersebut.

"Paling lama dua hari kita sudah tahu semua status daycare yang ada di kota Jogja. Tanpa izin itu jelas ilegal, harus segera ditutup. Pasti (langsung ditutup yang tidak berizin), salah satu syarat izin kan divisitasi," tegas Hasto.

Sebelumnya, polisi menggerebek tempat penitipan anak (daycare) Little Aresha di Umbulharjo, Kota Jogja, terkait dugaan penganiayaan terhadap anak-anak, Jumat (24/4). Saat proses berlangsung, petugas kepolisian melihat secara langsung perlakuan pengasuh terhadap anak.

"Benar pada tanggal 24 kemarin kita telah melakukan penggerebekan di mana itu tempat penitipan anak di mana petugas kita memang melihat langsung bahwa anak tersebut diperlakukan tidak manusiawi," kata Kasat Reskrim Polresta Jogja, Kompol Riski Adrian kepada wartawan, Sabtu (25/4/2026).

"Tapi memang secara kesimpulan memang itu tidak manusiawi. Karena ada juga yang kakinya diikat, tangannya diikat dan sebagainya. Secara umum seperti itu yang bisa saya jelaskan," sambungnya.

Dari hasil pemeriksaan sementara, lanjut Adrian, total puluhan anak menjadi korban. Meski begitu penyidik masih terus melakukan penyeledikan. Kemungkinan, korban masih bisa terus bertambah.

"Kalau untuk yang kita lihat ada tindakan kekerasannya itu sekitar 53 orang. By data ya," ungkap Adrian.

Saksikan informasi selengkapnya hanya di program detikPagi edisi Senin (27/4/2026). Nikmati terus menu sarapan informasi khas detikPagi secara langsung (live streaming) pada Senin-Jumat, pukul 08.00-11.00 WIB, di 20.detik.com, YouTube dan TikTok detikcom. Tidak hanya menyimak, detikers juga bisa berbagi ide, cerita, hingga membagikan pertanyaan lewat kolom live chat.

"Detik Pagi, Jangan Tidur Lagi!"




(vrs/vrs)

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Stok Mobil Bekas Ini Lagi Banjir, Banyak Diburu Operasional MBG
• 18 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Harga Beras Naik Kala Cadangan Beras RI Cetak Rekor Tertinggi
• 3 jam lalukompas.id
thumb
Kemenhaj Siapkan Klinik Satelit Untuk Pelayanan Jemaah Haji
• 14 jam lalujpnn.com
thumb
Bappenas Sebut RI Berpeluang Jadi Model Pertanian Dunia
• 1 jam lalurepublika.co.id
thumb
Warteg Bukan Sekadar Tempat Makan, tapi Sahabat Dompet Pekerja Jakarta
• 2 jam lalukompas.com
Berhasil disimpan.