Dnipro: Sedikitnya 21 orang tewas dalam aksi saling serang antara Rusia dan Ukraina sepanjang akhir pekan, yang bertepatan dengan peringatan 40 tahun bencana nuklir Chernobyl.
Pada Senin dini hari, 27 April 2026, pasukan Rusia melancarkan serangan besar-besaran sepanjang malam terhadap lingkungan perumahan dan infrastruktur sipil di kota pelabuhan selatan Odesa, kata kepala wilayah tersebut.
Dikutip dari Euronews, serangan tersebut menghantam bangunan perumahan termasuk sebuah hotel, melukai 11 orang, termasuk dua anak, kata Marina Averina, juru bicara Layanan Darurat Negara Ukraina di wilayah Odesa.
Di seluruh Ukraina, setidaknya empat orang tewas selama sehari terakhir, lapor pihak berwenang, termasuk dua orang di wilayah Donetsk, seorang wanita di Sumy dan seorang pria berusia 59 tahun di Zaporizhzhia.
Rusia meluncurkan 94 drone ke Ukraina semalaman pada hari Senin, 74 di antaranya dicegat, kata Angkatan Udara Ukraina.
Sehari sebelumnya, serangan drone dan rudal Rusia di kota Dnipro menewaskan sedikitnya sembilan orang, kata kepala wilayah Oleksandr Hanzha pada hari Minggu.
Delapan orang tewas dalam serangan hari Minggu di Donetsk, Kherson, Zaporizhzhia, Sumy dan Dnipropetrovsk, lapor pihak berwenang setempat. Menurut laporan, setidaknya 24 orang terluka.
Sementara itu, Staf Umum Ukraina mengatakan pada hari Minggu bahwa pasukannya telah menyerang kilang minyak di Yaroslavl, jauh di dalam wilayah Rusia.
Serangan tersebut memicu kebakaran di fasilitas tersebut, yang memproses 15 juta ton minyak per tahun dan memproduksi bensin, solar, dan bahan bakar jet untuk militer Rusia. Moskow tidak segera memberikan komentar. Kekhawatiran Baru di Peringatan Chernobyl Pertukaran serangan ini memicu kekhawatiran baru terkait keselamatan fasilitas nuklir di tengah peringatan tragedi Chernobyl. Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy memperingatkan risiko bencana baru akibat aktivitas militer di sekitar lokasi tersebut.
“Dunia tidak boleh membiarkan terorisme nuklir ini berlanjut, dan cara terbaik adalah memaksa Rusia menghentikan serangan sembrono,” ujarnya.
Kekhawatiran serupa disampaikan Direktur Jenderal Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA), Rafael Grossi. Ia menegaskan bahwa perbaikan pada struktur pelindung luar reaktor harus segera dilakukan untuk mencegah risiko lebih besar.
IAEA menyebut kerusakan akibat serangan sebelumnya telah mengganggu fungsi keselamatan penting pada struktur pelindung. Jika tidak segera diperbaiki, kondisi tersebut dapat meningkatkan bahaya dalam jangka panjang.
Bank Eropa untuk Rekonstruksi dan Pembangunan memperkirakan biaya perbaikan mencapai sedikitnya 500 juta euro. Hingga saat ini, komitmen pendanaan yang terkumpul masih jauh dari kebutuhan tersebut.
Situasi ini menunjukkan bahwa konflik yang terus berlangsung tidak hanya menimbulkan korban jiwa, tetapi juga meningkatkan risiko terhadap keamanan nuklir di kawasan. (Keysa Qanita)
Baca juga: Ukraina Wacanakan Pertemuan Trilateral di Azerbaijan Jika Rusia Siap Berdiplomasi




