Terkerek Nafta, Harga Minyak Goreng Premium Berpotensi Makin Mahal

bisnis.com
2 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — Institute for Development of Economics and Finance (Indef) mewanti-wanti lonjakan harga nafta di pasar global berpotensi menekan harga minyak goreng kemasan premium di dalam negeri, seiring meningkatnya biaya plastik yang berbahan baku nafta.

Peneliti Indef Afaqa Hudaya mengatakan kenaikan harga nafta yang mencapai sekitar US$902,61 per ton per 21 April 2026 atau naik sekitar 50% sejak konflik Timur Tengah telah mendorong kenaikan biaya kemasan plastik.

“Tapi dalam struktur biaya, komponen utama tetap berasal dari Crude Palm Oil. Jadi efek ke harga minyak goreng premium di konsumen masih relatif moderat,” kata Afaqa kepada Bisnis, dikutip pada Senin (27/4/2026).

Indef menilai tekanan terhadap harga tetap berpotensi meningkat seiring kondisi daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih. Menurutnya, konsumen saat ini sangat sensitif terhadap perubahan harga, sehingga kenaikan kecil sekalipun dapat memengaruhi keputusan pembelian. Alhasil, konsumen cenderung lebih selektif dan mulai beralih ke produk yang lebih terjangkau.

“Ketika harga naik, omzet pelaku usaha bisa turun karena konsumen cenderung mengurangi pembeliannya. Jadi sekarang perilaku konsumen lebih selektif dan cenderung mencari opsi yang lebih murah,” ujarnya.

Lebih lanjut, Afaqa menyebut kenaikan harga plastik tidak hanya berdampak pada minyak goreng, melainkan juga meluas ke berbagai sektor. Pasalnya, plastik digunakan secara luas, mulai dari air minum dalam kemasan, makanan olahan, produk rumah tangga, hingga sektor pertanian seperti pupuk dan beras yang menggunakan karung plastik. Dampak ini, menurutnya, telah dirasakan oleh pelaku usaha besar hingga UMKM.

Baca Juga

  • Harga Pangan Sumsel 27 April: Cabai Makin Pedas, Minyak Goreng Naik
  • Harga Minyak Goreng Terkerek Lonjakan Biaya Plastik
  • Minyak Goreng Terpantik Plastik

Dari sisi makroekonomi, lanjutnya, kondisi tersebut membuka risiko inflasi yang lebih luas. Kenaikan biaya kemasan berpotensi memicu tekanan inflasi berbasis biaya (cost-push inflation) yang merambat ke berbagai komoditas secara bersamaan.

“Kondisi ini bisa menjadi sinyal awal tekanan daya beli yang semakin meningkat dan sektor riil yang semakin melambat jika tidak diantisipasi dengan segera,” ujarnya.

Untuk itu, Indef menilai pemerintah perlu mengombinasikan kebijakan jangka pendek dan jangka panjang. Ke depan, pemerintah didorong untuk mendorong diversifikasi sumber bahan baku serta memperkuat industri petrokimia dalam negeri guna mengurangi ketergantungan pada impor.

Selain itu, kebijakan pengendalian penggunaan plastik, disertai insentif bagi kemasan ramah lingkungan agar biaya produksi menjadi lebih efisien.

Adapun untuk prospek ke depan, Afaqa memperkirakan harga minyak goreng kemasan premium masih akan mengalami kenaikan, meski dalam skala moderat. Menurutnya, rekanan dari harga plastik diperkirakan tetap bertahan selama konflik geopolitik belum mereda. Di sisi lain, harga CPO masih menjadi faktor utama penentu pergerakan harga.

“Jadi, arahnya cenderung naik bertahap. Tapi dengan intervensi pemerintah seperti menjaga HET dan distribusi, kenaikannya kemungkinan tetap bisa dikendalikan dan tidak terlalu tajam,” pungkasnya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Rocky Gerung Hadiri Pelantikan di Istana, Ungkap Isi Percakapannya dengan Teddy dan Prabowo
• 52 menit lalukompas.tv
thumb
Wamendagri Sampaikan Pesan Prabowo ke Kepala Daerah Soal Tata Kelola Pemerintahan yang Efisien
• 11 jam lalukompas.com
thumb
Aksi Pria Palak Ojol dan Banting Gitar Pengamen Berujung Dipukuli
• 23 jam laludetik.com
thumb
Puan Minta Pengawasan Daycare Diperketat, Cegah Kasus di Yogyakarta Terulang
• 5 jam lalukompas.com
thumb
Kementerian PPPA Ungkap Baru 30 Persen Daycare yang Kantongi Izin
• 7 jam lalusuarasurabaya.net
Berhasil disimpan.