Bisnis.com, BANDUNG – Di tengah riuhnya industri fesyen muslim yang kian kompetitif, terselip sebuah kisah keteguhan dari sudut Kota Kembang. Nadya Rizki Amatullah Nizar, sosok desainer sekaligus pendiri jenama modest wear Nadjani, membuktikan bahwa kreativitas yang dipadukan dengan kemandirian finansial mampu melahirkan imperium bisnis yang menjanjikan.
Memulai langkah dengan modal awal Rp10 juta pada 2013, Nadjani kini bertransformasi menjadi salah satu pemain kunci di pasar digital. Siapa sangka, dari dana yang terbilang mungil untuk ukuran industri garmen, ia kini mampu memproduksi hingga 8.000 potong pakaian setiap bulan tanpa sekalipun menyentuh dana investor maupun pinjaman perbankan.
Perjalanan Nadya membangun Nadjani tidak dimulai dari ruang kosong. Lulusan Fakultas Ilmu Komunikasi (Fikom) Universitas Padjadjaran ini awalnya meniti karier sebagai pelaku industri distro Bandung. Namun, sebuah keputusan besar pada 2013 menjadi titik balik karier bisnisnya.
"Saat itu saya memutuskan untuk berhijab. Saya melihat celah pasar yang masih didominasi brand konvensional," kenang Nadjani saat berbincang di Bandung, belum lama ini.
Ia kemudian mengubah haluan orientasi bisnis dari brand distro yang bernama Oblea menjadi Nadjani. Berbeda dengan busana muslim pada masa itu yang cenderung monoton, Nadjani hadir dengan napas baru, dengan menghadirkan warna-warni ceria dan motif cetak orisinal.
Strategi ini diambil bukan tanpa alasan. Bagi Nadjani, etika dalam berkarya adalah tidak mengambil ciri khas orang lain. "Makanya saya berani cetak bahan sendiri agar tidak ada di tempat lain," tegasnya.
Baca Juga
- Tren Modest Fashion Terus Menggeliat
- Paula Verhoeven Mantap Berbisnis, Amapola Bidik Pasar Modest Wear Inklusif
- Strategi Vivi Zubedi Bangun Identitas Brand Modest Premium Hingga Raih Berbagai Penghargaan
Selain itu, secara prinsip dalam membangun bisnis, Nadya menyebut adaptasi adalah kunci bertahan di era disrupsi.
Nadjani yang awalnya mengandalkan pesona visual di Instagram dan transaksi manual via WhatsApp, kini telah sepenuhnya merangkul ekosistem e-commerce, salah satunya adalah Shopee.
Ia mencatat pertumbuhan signifikan melalui platform Shopee, terutama berkat fitur Live Streaming. Menurutnya, interaksi langsung dengan konsumen di ranah digital memberikan dampak penjualan yang jauh lebih masif dibandingkan kanal offline tradisional.
Menariknya, Nadya memiliki pandangan tersendiri mengenai isu tingginya biaya administrasi di platform digital yang sering dikeluhkan pelaku UMKM. Baginya, angka tersebut masih jauh lebih efisien dibandingkan biaya operasional di pusat perbelanjaan elit.
"Toko offline itu bebannya besar sekali, apalagi di mal. Potongannya bisa mencapai 30% sampai 35% dari harga jual. Jadi ketika biaya e-commerce naik, saya rasa masih lebih terjangkau dibandingkan dengan itu," ungkapnya.
Meski berjaya di e-commerce, Nadya tidak lantas meninggalkan akar fisiknya. Ia tetap mengoperasikan tiga toko di lokasi strategis yakni di Plaza Indonesia (Jakarta), Ranggamalela (Bandung), dan Tunjungan Plaza (Surabaya).
Baginya, toko fisik bukan sekadar tempat transaksi, melainkan ruang untuk membangun kepercayaan. Di sana, konsumen dapat merasakan tekstur kain dan kualitas jahitan secara langsung sebelum akhirnya memutuskan untuk menjadi pelanggan setia di kanal online.
Kini, dengan dukungan tim berjumlah 45 orang, Nadjani terus melebarkan sayap. Ia membagi pasarnya ke dalam beberapa lini, yakni Nadjani Signature untuk segmen premium dan Pinayla untuk menjangkau pasar yang lebih luas dengan harga terjangkau.
Keberhasilan Nadjani membesarkan bisnis secara organik menjadi oase di tengah tren startup yang bergantung pada suntikan modal eksternal. "Dari awal benar-benar organik. Sampai sekarang tidak ada investor, tidak ada pinjam ke bank. Benar-benar murni berkembang dari modal Rp10 juta itu," ujarnya.





