JAKARTA, KOMPAS.com - Sebuah lahan terbengkalai yang dulunya menjadi tempat pembuangan sampah (TPS) liar sekaligus lokasi tawuran, kini disulap menjadi kebun produktif yang menghasilkan.
Kebun produktif itu berada di dalam gang kecil di permukiman padat penduduk, tepat di dekat kolong Tol Cibitung-Cilincing, RT 06 RW 10, Rawa Malang, Semper Timur, Jakarta Utara.
Ketua RT 09 RW 10, Ahmad Saddam (35), bercerita bahwa sebelum menjadi kebun produktif, lahan tersebut merupakan rawa dan area persawahan.
Baca juga: Sosok Bu Guru Nurlela Korban Kecelakaan Kereta di Bekasi: Ramah dan Pekerja Keras
Sekitar tahun 2023, sebagian lahan itu digunakan oleh Dinas Sumber Daya Air (SDA) DKI Jakarta untuk membangun Waduk Rawa Malang.
Sementara sekitar 1,5 hektare lahan yang terbengkalai digunakan oleh warga sebagai TPS liar yang sampahnya terus menumpuk.
Karena lokasinya berada di dekat kolong tol membuat lokasi ini juga menjadi tempat favorit anak muda untuk tawuran.
"Tidak bisa dipungkiri namanya pergaulan remaja dulu sering ada tawuran, narkoba, atau minuman keras. Kita ingin menjauhkan mereka dari hal-hal seperti itu," ungkap Saddam ketika diwawancarai Kompas.com di lokasi, Selasa (28/4/2026).
Oleh sebab itu, Saddam berinisiatif mengajak anak muda di sekitar wilayahnya untuk menanami lahan terbengkalai tersebut dengan tanaman hijau.
Melihat anak muda di wilayahnya begitu semangat berkebun, akhirnya ia meminta izin kepada Dinas SDA untuk memanfaatkan lahan terbengkalai itu.
Beruntungnya, Dinas SDA mengizinkan lahannya yang belum digunakan untuk ditanami oleh warga.
Mengolah tanah tak mudahPerjalanan anak-anak muda di RW 10 membangun kebun produktif yang diberi nama 'Kelompok Tani Bangun Karya Mandiri' bukan hal yang mudah.
Tanah bekas pembangunan waduk itu tidak bisa langsung ditanami sayuran karena kondisinya sangat kering.
Baca juga: Demi Wisuda Anak, Penumpang KA yang Luntang Lantung di Stasiun Beralih Naik Travel
Untuk mengolah tanah tersebut, Saddam menggandeng seorang Gen Z bernama Dwi Angga Mukti (26) bersama ayahnya, Selamet.
"Awalnya kita tanduri dulu, terus kita minta bantuan pupuk kompos dari Sudin Lingkungan Hidup (LH). Pupuknya didatangkan sampai sekitar lima truk lebih," sambung Saddam.
Setelah diberi pupuk, kelompok tani tersebut terus mencoba melakukan penanaman meski puluhan kali gagal.
Kurang lebih satu tahun, tanah yang kurang subur tersebut menjadi lebih siap untuk ditanami sayuran.
Selain prosesnya yang panjang, anak-anak muda di RW 10 juga rela swadaya secara materi untuk mendukung pengelolaan lahan terbengkalai agar menjadi kebun produktif.
Usai melalui proses yang tak mudah, lahan urban farming tersebut terus menghijau sampai saat ini.





