Bisnis.com, JAKARTA — Emisi metana dari pertambangan batu bara Indonesia diperkirakan 13 kali lebih tinggi dari data resmi karena metode penghitungan yang dipakai.
Laporan perdana Ember mengenai metana dalam Global Coal Mine Methane Review memperlihatkan bahwa Indonesia melaporkan emisi metana yang sangat rendah, yakni di angka 200.000 ton pada 2024. Namun estimasi independen mengindikasikan volume emisi metana bisa jauh lebih tinggi dari angka yang dilaporkan.
Global Energy Monitor (GEM) mengestimasi emisi metana dari pertambangan batu bara Indonesia 400% lebih tinggi dari yang dilaporkan, sementara International Energy Agency (IEA) memperkirakan estimasi yang lebih besar, yakni 1.300% lebih tinggi.
Laporan ini juga mencatat bahwa Indonesia masih menggunakan faktor emisi default global dan sama sekali tidak memperhitungkan emisi dari tambang batu bara bawah tanah. Kondisi ini membuat data Indonesia mendapat skor kepercayaan rendah (low confidence) dan masuk dalam kategori data paling tidak andal di antara produsen batu bara terbesar dunia.
Data satelit pun menunjukkan celah dalam pemantauan. Senior Analyst Climate and Energy Ember untuk Indonesia Dody Setiawan mengatakan pemanfaatan satelit untuk mendeteksi emisi metana di Indonesia terkendala tutupan awan yang persisten dan medan yang berbukit.
"Oleh karena itu, pemerintah harus memprioritaskan pengukuran langsung di tambang terbuka dan tambang bawah tanah berskala besar untuk meningkatkan pelaporan emisi," kata Dody dalam siaran pers, Rabu (29/4/2026).
Baca Juga
- WMO Prediksi El Nino Mulai Berkembang Pertengahan 2026, Intensitas Akan Kuat?
- Resmi Jadi Menteri LH, Jumhur Hidayat Prioritaskan Penanganan Sampah dan Standar Global
- PGN Manfaatkan Metana Batu Bara sebagai Alternatif Pasokan Gas
Temuan ini muncul di tengah stagnannya emisi metana tambang batu bara global sejak peluncuran Global Methane Pledge, meski produksi batu bara terus meningkat. Hampir lima tahun setelah komitmen dengan target pemangkasan emisi metana global 30% pada 2030 itu diluncurkan, belum ada kemajuan berarti yang tercatat.
Secara global, Ember mengestimasi tambang batu bara melepaskan sekitar 35 juta ton metana pada 2023. Minimnya pengukuran membuat emisi sesungguhnya berpotensi jauh lebih tinggi dari yang dilaporkan.
Tercatat hanya 23 dari 73 negara produsen batu bara yang melaporkan data emisi metana tambang pada 2023, sehingga menyisakan sekitar 31 juta ton emisi yang tidak dilaporkan ke Konvensi Kerangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim (UNFCCC).
Metana merupakan gas rumah kaca yang dilepaskan selama dan setelah ekstraksi batu bara, dengan efek pemanasan jangka pendek yang jauh lebih kuat dibandingkan karbon dioksida. Meski demikian, emisi metana dari tambang batu bara (coal mine methane/CMM) masih minim pemantauan dan hampir absen dari fokus kebijakan global.
Di sisi lain, laporan ini juga mencatat peluang nyata untuk pemangkasan emisi. Lebih dari separuh emisi CMM global berpotensi dipangkas dalam dekade ini menggunakan teknologi yang sudah tersedia, dengan sebagian di antaranya bahkan tidak memerlukan biaya bersih.
Ventilation air methane yang menyumbang porsi besar emisi dari tambang bawah tanah dapat dikurangi menggunakan teknologi yang sudah terbukti seperti regenerative thermal oxidizers. Metana yang ditangkap dari sistem drainase juga dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar, sekaligus membuka aliran pendapatan tambahan bagi operator.
Coal Mine Methane Data Analyst Ember Rebekah Horner mengatakan emisi metana tambang batu bara sebagian besar tidak dilaporkan sehingga menyembunyikan skala sebenarnya.
"Namun, solusi sudah ada dan siap diimplementasikan secara luas. Ini menciptakan peluang nyata untuk mempercepat kemajuan iklim menggunakan alat yang sudah tersedia," katanya.
Sementara itu, Coal Mine Methane Programme Director Ember Nishant Bhardwaj menambahkan target metana global tidak akan tercapai tanpa penanganan langsung terhadap emisi metana tambang batu bara.
"Ini adalah bagian masalah yang jelas dan dapat ditindaklanjuti, namun telah diabaikan terlalu lama. Mengatasinya sekarang akan memberikan manfaat iklim yang segera dengan kecepatan yang jarang dapat ditandingi oleh langkah lain," katanya.





