Jerman: Amerika Serikat Telah Dipermalukan Iran

wartaekonomi.co.id
4 jam lalu
Cover Berita
Warta Ekonomi, Jakarta -

Jerman memberikan kritikan pedas terkait dengan perang dari Iran dan Amerika Serikat. Menurutnya, Washington sedang dipermalukan oleh manuver-manuver dari Teheran.

Kanselir Jerman, Friedrich Merz, menyatakan bahwa negara tersebut telah membuat kewalahan pihak dari Amerika Serikat. Menurutnya, Washington dibuat kebingungan dengan situasi yang tidak bisa diprediksi, hingga mereka tidak memiliki strategi keluar yang jelas dari perangnya dengan Iran.

Baca Juga: Klaim Iran Kolaps, Trump: Mereka Minta Amerika Serikat Buka Selat Hormuz

"Masalah dalam konflik seperti ini bukan hanya bagaimana masuk, tetapi bagaimana keluar. Kita melihatnya dengan sangat menyakitkan di Afghanistan. Kita juga melihatnya di Irak," ujarnya.

Iran menurutnya tampil lebih kuat dari yang sebelumnya diperkirakan. Hal ini terlihat dalam bagaimana mereka hadir dalam negosiasi damai dengan Amerika Serikat. Islamic Revolutionary Guard Corps juga menurutnya turut mempermalukan pihak dari Washington.

"Pejabat Iran jelas bernegosiasi dengan sangat terampil dan tampak jauh lebih kuat dari yang kita kira," kata Merz.

Menurut Merz, perang tersebut sudah memberikan tekanan langsung terhadap output ekonomi global, terutama melalui gangguan energi dan perdagangan. Ia mendesak agar perang segera diakhiri, mengingat dampaknya yang semakin luas.

"Situasinya saat ini sangat rumit, dan konflik ini menghabiskan biaya yang sangat besar bagi kami," ujarnya.

Terkait Selat Hormuz, Merz menegaskan pentingnya stabilitas dalam jalur utama distribusi minyak dunia tersebut. Ia juga menyatakan kesiapan untuk mengerahkan kapal penyapu ranjau guna mengamankan jalur pelayaran di kawasan tersebut. Namun, langkah ini bergantung pada adanya penghentian permusuhan.

Adapun saat ini, belum ada tanda-tanda berlanjutnya negosiasi damai dari Iran dan Amerika Serikat. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump dilaporkan tidak senang atas prorposal dari Iran. Ia tidak puas dengan proposal itu karena hal tersebut tidak menyentuh isu utama terkait program nuklir dari Teheran.

Proposal Iran sendiri dilaporkan mencakup penundaan pembahasan program nuklir hingga perang berakhir dan isu pelayaran di Selat Homruz. Namun, pendekatan ini bertentangan dengan posisi isu nuklir dari Washington.

Tahap awal proposal tersebut mencakup penghentian perang serta penyelesaian blokade laut dan pembukaan kembali wilayah dari Selat Hormuz. Selat ini merupakan jalur vital bagi distribusi energi global yang saat ini terganggu akibat konflik.

Iran, setelah isu keamanan dan pelayaran diselesaikan, ingin pembahasan berlanjut ke program nuklir, termasuk tuntutan pengakuan hak memperkaya uranium untuk tujuan damai.

Baca Juga: Rusia Terpukau, Putin Puji Kehebatan Iran Hadapi Amerika Serikat

Namun, Washington menegaskan bahwa isu nuklir harus menjadi bagian dari negosiasi sejak awal. Ia ingin hal tersebut menjadi syarat utama dalam setiap kesepakatan dari Iran dan Amerika Serikat.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Kejati Lampung Tetapkan Eks Gubernur Arinal Tersangka Korupsi Dana PI
• 14 jam laludetik.com
thumb
Pengacara Sebut Ibam Tak Berwenang Putuskan Proyek Chromebook Era Nadiem
• 21 jam laludetik.com
thumb
Negara Hampir Rugi Rp41 M Akibat Penyelundup Ekspor Emas Perhiasan
• 21 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Pilu, Korban Tabrakan Kereta di Bekasi Terjebak Selama 10 Jam, Sempat Menelepon Keluarga dalam Keadaan Terjepit
• 26 menit lalugrid.id
thumb
Thailand Bakal Pangkas Tarif Listrik hingga 20% untuk Rumah Tangga Konsumsi Mini
• 12 jam lalukatadata.co.id
Berhasil disimpan.