JAKARTA, KOMPAS.TV - Gerbong kereta khusus wanita kembali menjadi sorotan publik setelah insiden kecelakaan yang melibatkan KA Argo Bromo Anggrek relasi Gambir–Surabaya Pasar Turi dengan KRL rute Kampung Bandan–Cikarang pada Selasa (27/4/2026). Dalam peristiwa tersebut, perhatian tertuju pada fakta bahwa korban terbanyak berasal dari gerbong khusus perempuan.
Di Indonesia, gerbong khusus wanita atau yang dikenal sebagai Kereta Khusus Wanita (KKW) mulai diperkenalkan oleh Kementerian Perhubungan pada 2010.
Mengutip laman Kementerian Perhubungan pada Rabu (29/4/2026), kebijakan ini lahir sebagai upaya meningkatkan keamanan dan kenyamanan penumpang perempuan, khususnya di layanan kereta komuter yang padat.
Pada masa itu, transportasi publik sering diwarnai kondisi berdesakan, minim ruang pribadi, serta tingginya risiko pelecehan seksual. Situasi tersebut membuat perempuan menjadi kelompok yang lebih rentan mengalami ketidaknyamanan hingga tindak kriminal di ruang publik.
Baca Juga: Terbaru! 10 Jenazah Korban Meninggal Kecelakaan KRL Bekasi Diidentifikasi dan Diserahkan ke Keluarga
Kehadiran gerbong khusus wanita dipandang sebagai solusi praktis untuk memberikan rasa aman sekaligus ruang yang lebih nyaman bagi penumpang perempuan. Kebijakan gerbong khusus wanita merupakan respons langsung terhadap tingginya angka pelecehan seksual di transportasi umum, terutama saat jam sibuk.
Dengan adanya pemisahan ruang, diharapkan memberikan rasa aman yang lebih besar bagi perempuan saat bepergian menggunakan transportasi publik. Gerbong khusus wanita mudah dikenali melalui penanda berwarna merah muda (pink) di pintu serta stiker bertuliskan “khusus wanita”.
Selain itu, gerbong ini biasanya ditempatkan di posisi paling ujung rangkaian kereta, yakni di bagian depan dan belakang. Penempatan tersebut bukan tanpa alasan.
Dari sisi operasional, gerbong di ujung kereta lebih mudah diawasi oleh petugas dan lebih cepat dijangkau apabila terjadi insiden.
Selain itu, posisi ini juga memudahkan penumpang perempuan untuk langsung mengenali lokasi gerbong tanpa harus mencarinya di tengah kepadatan penumpang.
Dari perspektif pengaturan arus penumpang, penempatan di dua sisi juga dinilai paling efisien karena tidak mengganggu komposisi rangkaian kereta secara keseluruhan. Konsep gerbong khusus wanita bukanlah hal baru di dunia.
Penulis : Switzy Sabandar Editor : Desy-Afrianti
Sumber : Kompas TV
- Gerbong khusus perempuan
- Gerbong krl khusus perempuan
- Gerbong perempuan
- Krl
- Kai





