Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (KAI) Bobby Rasyidin mengungkap alasan gerbong khusus perempuan ditempatkan di ujung commuter line. Hal itu merespons adanya permintaan bahwa gerbong perempuan seharusnya tidak di ujung karena berisiko tinggi bagi keselataman.
Bobby mengatakan perusahaan tidak membedakan perlakuan penumpang berdasarkan gender. Aspek keselamatan merupakan prioritas perusahaan.
“Kami tidak ada toleransi sama sekali untuk melanggar atau menurunkan tingkat keselamatan dari para pelanggan pengguna jasa dari PT KAI, baik itu gendernya laki-laki maupun gendernya perempuan,” kata Bobby dalam konferensi pers di Stasiun Bekasi Timur, Rabu (29/4).
Dalam formasi rangkaian KRL, gerbong paling depan dan belakang memang diperuntukkan untuk wanita. Saat kecelakaan terjadi, gerbong belakang perempuan merupakan yang paling terdampak hingga menelan korban meninggal dunia 15 orang.
“Penempatan (gerbong) laki dan perempuan itu hanya untuk kenyamanan atau kemudahan saja. Jadi selama ini kami mengutamakan perempuan untuk tingkat kenyamanan dan kemudahan akses dan tentunya keamanan di dalam kereta juga,” ujarnya.
Adapun KAI memberikan fasilitas gerbong khusus perempuan untuk menghindari adanya potensi pelecehan seksual di dalam KRL.
Korban Meninggal 15 OrangKecelakaan kereta api antara KRL Commuter Line dan KA Argo Bromo Anggrek di Stasiun Bekasi Timur menimbulkan korban jiwa dan gangguan besar terhadap operasional kereta api. Korban meninggal dunia tercatat 15 orang meninggal dunia dan 84 lainnya mengalami luka-luka.
Direktur Utama KAI Bobby Rasyidin mengatakan seluruh korban meninggal dunia telah dibawa ke RS Polri Kramat Jati untuk proses identifikasi lebih lanjut. Sementara itu, korban luka dirawat di sejumlah fasilitas kesehatan di wilayah Bekasi dan sekitarnya.
Rumah sakit yang menangani korban antara lain RSUD Bekasi, RS Bella Bekasi, RS Primaya, RS Mitra Plumbon Cibitung, RS Bakti Kartini, RS Siloam Bekasi Timur, RS Hermina, serta RS Mitra Keluarga Bekasi Timur dan Barat.




