Dinkes Kota Batu Perkuat Layanan Kesehatan hingga Desa, Fokus Tekan Stunting Lewat Pencegahan

realita.co
2 jam lalu
Cover Berita

BATU (Realita)- Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Batu terus memaksimalkan pelayanan kesehatan hingga tingkat desa dan kelurahan sebagai bagian dari upaya menekan angka stunting.

Langkah ini sejalan dengan visi dan misi Wali Kota Batu dalam meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat.

Baca juga: Kapolres Batu Bersama Wali Kota Inspeksi Kesiapan Pasukan Sambut Idul Fitri 1447 H

Saat ini, dari total 24 desa dan kelurahan di Kota Batu, telah tersedia lima Puskesmas induk dan 19 Unit Pelayanan Kesehatan Desa/Kelurahan (UPKDK).

Dengan demikian, seluruh wilayah telah terjangkau fasilitas pelayanan kesehatan, baik melalui Puskesmas induk maupun puskesmas pembantu (pustu).

Selain itu, pelayanan di Polindes juga telah ditingkatkan setara dengan pustu. Setiap pustu kini dilengkapi tenaga kesehatan, mulai dari dokter, perawat, hingga bidan, serta didukung dua kader kesehatan guna memperluas jangkauan layanan kepada masyarakat, Rabu (29/4/2026).

Antusias masyarakat mengikuti pelayanan kesehatan dari Dinkes Batu

Kepala Dinas Kesehatan Kota Batu, Aditya Prasaja, S.STP.,M.AP., menjelaskan bahwa perbedaan layanan antara UPKDK dan Puskesmas induk terletak pada jam operasional yang telah disesuaikan dan dipublikasikan di masing-masing fasilitas kesehatan.

Berdasarkan data aplikasi SIGIZI Kesga, jumlah balita stunting di Kota Batu mencapai lebih dari 1.050 anak. Oleh karena itu, Dinkes kini lebih menitikberatkan program pada upaya pencegahan, terutama melalui pemantauan rutin di posyandu.

“Pemantauan tumbuh kembang balita dilakukan setiap bulan. Jika ditemukan tidak ada peningkatan sesuai usia, maka orang tua akan diberikan edukasi terkait pemenuhan nutrisi anak,” ujar Aditya. 

Baca juga: Uji Coba Tempat Wisata Mikutopia di Desa Tulungrejo, Gratis selama 7 Hari Bagi Masyarakat Seluruh Indonesia

 

Ia menambahkan, keterlambatan pertumbuhan balita sering terjadi secara berulang setiap bulan akibat kurangnya asupan gizi yang memadai. Menariknya, sekitar 90 persen kasus stunting berasal dari anak yang lahir dalam kondisi normal, namun mengalami kekurangan nutrisi dalam masa pertumbuhan.

 

“Mayoritas kasus bukan disebabkan faktor ekonomi, melainkan kurangnya pemahaman orang tua tentang pemberian gizi seimbang,” jelasnya.

 

Baca juga: Emak-Emak Penerima Paket Sembako Merasa Terharu Atas Kepedulian Kades Tulungrejo

Untuk itu, Dinkes terus menggencarkan edukasi melalui tenaga gizi, nutrisionis, Puskesmas, hingga bidan desa agar orang tua lebih memperhatikan pola makan anak dengan asupan bergizi dan seimbang.

Pelayanan kesehatan kepada masyarakat di posyandu Apel, Desa Tulungrejo Kota Batu.

Sementara itu, Kepala Diskominfo Kota Batu, Aries Setiawan, S.STP., mengapresiasi langkah Dinkes dalam meningkatkan layanan kesehatan sekaligus menekan angka stunting.

Menurutnya, program tersebut selaras dengan visi “Mbatu Sae” yang diusung Wali Kota dan Wakil Wali Kota Batu dalam memberikan pelayanan kesehatan optimal kepada masyarakat.ton/adv

Editor : Redaksi


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Kuliah Umum di Korsel, Wakil Ketua MPR dari Demokrat Dorong Peran Generasi Muda
• 22 jam lalurepublika.co.id
thumb
Hetifah Dorong Perlindungan dan Insentif Khusus bagi Keluarga Korban Kecelakaan Kereta di Bekasi
• 4 jam lalutvrinews.com
thumb
Sopir Taksi Green SM Diperiksa Polisi terkait Kecelakaan KRL, Ini Keterangan yang Digali
• 2 jam laluliputan6.com
thumb
Heboh Kasus Daycare di Yogyakarta, Legislator Ungkit Kerja Pengawasan Kemendikdasmen
• 13 jam lalujpnn.com
thumb
BlackRock dan Stanchart Guncang Dunia Aset Kripto
• 37 menit laluviva.co.id
Berhasil disimpan.