REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Berbeda dengan ibadah umrah yang bisa diselesaikan dalam hitungan jam, ritual ibadah haji menuntut ketahanan fisik yang jauh lebih prima dan durasi waktu yang lebih panjang.
Kepadatan jutaan manusia di satu titik seperti Arafah, Muzdalifah hingga Mina, mengubah ritual yang terlihat sederhana menjadi tantangan fisik yang berat bagi para jamaah.
Baca Juga
Penasihat Jerman: Iran Lebih Kuat dari Dugaan Semua Orang, Sedangkan AS Menuju Jurang Kehinaan
Adegan Penyergapan Drone Hizbullah Mengguncang Israel, Publik Terus Meragukan Kemampuan Militer
Iran Netralkan Bom ‘Busuk AS’ dari Besar Hingga Kecil, Diteliti dan Dimodifikasi Ulang
Dijelaskan KH Ahmad Sarwat Lc dalam buku Ibadah Haji: Rukun Islam Kelima terbitan Rumah Fiqih, ibadah haji membutuhkan kekuatan fisik yang lebih besar dan kondisi kesehatan tubuh yang prima.
Hal itu karena ritual ibadah haji memang jauh lebih banyak dan lebih rumit, sementara medannya tidak bisa dibilang ringan, sehingga ritualnya pun juga sedikit lebih sulit untuk dikerjakan.
.rec-desc {padding: 7px !important;}
Di tiga tempat yaitu Arafah, Muzdalifah dan Mina, memang prinsipnya kita tidak melakukan apa-apa sepanjang hari.
Kita hanya diminta menetap saja, boleh makan, minum, istirahat, buang hajat, tidur, ngobrol atau apa saja, asal tidak melanggar larangan ihram.
Kecuali di Mina, selama tiga hari kita diwajibkan melakukan ritual melontar tiga jamarat, yaitu Jumratul Ula, Jumrah Wustha dan Jumrah Aqabah.
Teorinya sederhana, tetapi karena momentumnya berbarengan dengan jutaan manusia dalam waktu, ternyata urusan wuquf di Arafah, bermalam di Muzdalifah sampai urusan melontar jamarat menjadi tidak mudah, karena berdesakan dengan tiga jutaan manusia dari berbagai bangsa.
Infografis Jadwal Rencana Perjalanan Haji 2026 - (Republika)