Fokus Lolos Super League, PSIS Semarang Mulai Rancang Kekuatan: Momentum Memanggil Kembali Pratama Arhan-Alfeandra Dewangga

harianfajar
22 jam lalu
Cover Berita

FAJAR, SEMARANG –Kelegaan memang tengah menyelimuti PSIS Semarang, tetapi di balik rasa aman dari ancaman degradasi Liga Championship 2025/2026, tersimpan ambisi yang jauh lebih besar. Bertahan bukanlah tujuan akhir—melainkan titik awal dari sebuah transformasi. Dan kini, arah perubahan itu mulai terlihat jelas: membangun kekuatan baru demi kembali ke level elit sepak bola Indonesia.

Musim ini menjadi cermin yang jujur bagi PSIS. Inkonsistensi performa, kedalaman skuad yang belum ideal, serta kurangnya identitas permainan membuat mereka terjebak di papan tengah. Namun justru dari situ, kesadaran muncul bahwa perubahan menyeluruh tidak bisa ditunda. Klub ini tidak ingin sekadar “hidup” di Liga Championship—mereka ingin kembali bersaing di panggung Super League Indonesia.

Dalam konteks itulah muncul wacana menarik: kemungkinan memulangkan dua nama besar yang pernah menjadi simbol kekuatan PSIS, yakni Pratama Arhan dan Alfeandra Dewangga. Ini bukan sekadar nostalgia atau romantisme masa lalu, tetapi bagian dari strategi membangun fondasi tim yang kuat, berkarakter, dan memiliki identitas lokal yang jelas.

Pratama Arhan, dengan pengalaman internasional dan gaya bermain agresif dari sisi kiri, bisa menjadi solusi untuk meningkatkan kualitas permainan sayap PSIS. Ia bukan hanya pemain dengan kemampuan teknis, tetapi juga membawa mentalitas kompetitif yang terbentuk dari pengalaman di level lebih tinggi. Kehadirannya akan memberikan dimensi baru—baik dalam menyerang maupun bertahan.

Sementara itu, Alfeandra Dewangga adalah sosok yang fleksibel dan cerdas secara taktik. Kemampuannya bermain di beberapa posisi, baik sebagai bek tengah maupun gelandang bertahan, memberikan opsi strategis yang sangat berharga. Dalam sepak bola modern, pemain dengan fleksibilitas seperti ini menjadi aset penting, terutama bagi tim yang sedang membangun ulang struktur permainan.

Namun tentu saja, rencana ini tidak berdiri sendiri. PSIS juga dikabarkan tengah membidik pelatih dengan profil modern—bahkan disebut mengarah pada figur dengan pendekatan taktik setara Paul Munster. Ini menjadi langkah penting, karena dalam proses revolusi tim, pelatih adalah arsitek utama yang menentukan arah permainan, filosofi, hingga mentalitas skuad.

Menggabungkan pelatih modern dengan pemain-pemain berkualitas seperti Arhan dan Dewangga bisa menjadi fondasi ideal bagi PSIS untuk memulai era baru. Bukan hanya sekadar kompetitif, tetapi juga progresif—tim yang mampu bermain dengan struktur jelas, pressing terorganisir, dan transisi yang cepat.

Di sisi lain, keberhasilan bertahan di Liga Championship juga memberikan ruang bagi manajemen untuk bekerja lebih tenang dan terencana. Tidak ada lagi tekanan untuk sekadar selamat, sehingga fokus bisa dialihkan ke pembangunan jangka panjang. Ini adalah momen langka yang harus dimanfaatkan dengan tepat.

Langkah selanjutnya tentu tidak mudah. Kompetisi di Liga Championship sendiri tidak kalah ketat. Tim-tim seperti Persipura Jayapura, Barito Putera, dan PSS Sleman menunjukkan bahwa jalur menuju promosi penuh dengan tantangan. Tanpa persiapan matang, PSIS bisa kembali terjebak di situasi yang sama.

Namun perbedaannya kini terletak pada arah dan kesadaran. PSIS tidak lagi berjalan tanpa tujuan. Mereka mulai menyusun peta jalan yang jelas—dari perekrutan pemain, penunjukan pelatih, hingga pembentukan identitas tim.

Laga terakhir musim ini pun menjadi lebih dari sekadar formalitas. Itu adalah kesempatan untuk menguji mentalitas, melihat potensi skuad saat ini, dan mengevaluasi siapa yang layak menjadi bagian dari proyek besar ke depan. Bonus yang disiapkan manajemen bukan hanya insentif, tetapi juga simbol bahwa profesionalisme tetap dijaga hingga akhir.

Pada akhirnya, revolusi yang dirancang PSIS bukan tentang perubahan instan. Ini adalah proses panjang yang membutuhkan konsistensi, keberanian mengambil keputusan, dan komitmen dari semua pihak—manajemen, pelatih, pemain, hingga suporter.

Memanggil kembali nama-nama seperti Pratama Arhan dan Alfeandra Dewangga bisa menjadi langkah awal yang simbolis sekaligus strategis. Simbol bahwa PSIS ingin kembali ke akar kekuatannya, dan strategi untuk meningkatkan kualitas tim secara nyata.

Dari bertahan, kini mereka mulai membangun. Dari sekadar aman, kini mereka mulai bermimpi. Dan jika semua rencana ini berjalan sesuai arah, bukan tidak mungkin dalam waktu dekat PSIS Semarang akan kembali muncul sebagai kekuatan baru—bukan hanya di Liga Championship, tetapi juga di panggung tertinggi sepak bola Indonesia.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Heboh Klaim Terdakwa Pembunuhan Indramayu Dipaksa Ngaku: Saya Bukan Pelakunya!
• 2 jam lalukumparan.com
thumb
Wamendagri Ribka Minta Pemprov Papua Dukung Asta Cita Presiden
• 1 jam laludetik.com
thumb
Meutya Hafid: Delapan Platform Patuhi PP Tunas, Platform Lain Ditunggu hingga Juni
• 31 menit lalukompas.id
thumb
Siswa SD Tunas Bangsa Lagoi Jelajahi Dunia Penyiaran di TVRI Kepulauan Riau
• 21 jam lalutvrinews.com
thumb
Kinerja Manis YUPI Awal 2026, Pendapatan Naik 9% Jadi Rp763,18 Miliar
• 3 jam lalubisnis.com
Berhasil disimpan.