JAKARTA, KOMPAS- Gangguan spektrum autisme telah menjadi epidemi global dengan prevalensi kasus terus meningkat dan menjadi tantangan besar bagi sistem kesehatan dan pendidikan. Sebuah teknik stimulasi otak yang baru dilaporkan bisa meningkatkan komunikasi sosial anak dengan gangguan spektrum autisme hanya dalam lima hari dan diklaim aman.
Terapi baru yang dikenal sebagai accelerated continuous theta burst stimulation (a-cTBS) telah diuji coba di China dan diterbitkan di The British Medical Journal (BMJ) pada Rabu (29/4/2026). Hangyu Tan dari Shanghai Key Laboratory of Children’s Environmental Health, Xinhua Hospital- Shanghai Jiao Tong University School of Medicine menjadi penulis pertama.
Para peneliti mengatakan temuan tersebut menunjukkan bahwa a-cTBS bisa menjadi, "Pilihan terapi yang layak dan dapat diterapkan untuk anak-anak dengan gangguan spektrum autisme,".
Seperti dilaporkan Tan dan tim, hasil awal dari studi uji coba ini menunjukkan bahwa a-cTBS aman dan efektif untuk meningkatkan komunikasi sosial pada anak-anak dengan autisme. Keunggulan utama terapi ini adalah sesi yang lebih singkat dibandingkan dengan stimulasi otak konvensional, sehingga lebih cocok untuk anak-anak.
Untuk mengembangkan penelitian ini, para peneliti menyelidiki efektivitas dan keamanan protokol a-cTBS selama lima hari dalam meningkatkan komunikasi sosial di antara anak-anak dengan autisme. Demikian pula terhadap anak-anak yang lebih muda dan mereka yang memiliki disabilitas intelektual.
Percobaan ini melibatkan 200 anak, terdiri dari 167 laki-laki dan 33 perempuan berusia 4–10 tahun dengan autisme, yang direkrut dari tiga rumah sakit akademik di China dari Juli 2023 hingga Oktober 2024. Setengah dari peserta uji coba ini memiliki disabilitas intelektual.
Anak-anak tersebut secara acak dibagi menjadi dua kelompok untuk menerima perawatan a-cTBS aktif (intervensi) atau perawatan plasebo (kontrol) selama lima hari berturut-turut dengan 10 sesi setiap hari. Stimulasi tersebut menargetkan korteks motorik primer kiri otak, yang terkait dengan gerakan, bahasa, dan kognisi sosial.
Percobaan ini melibatkan 200 anak, terdiri dari 167 laki-laki dan 33 perempuan berusia 4–10 tahun dengan autisme.
Para peneliti menggunakan Skala Responsivitas Sosial (SRS-2) untuk mengukur perubahan gangguan komunikasi sosial dari baseline hingga pasca-intervensi dan dari baseline hingga tindak lanjut satu bulan. Peningkatan bahasa juga dinilai menggunakan tiga ukuran yang diakui.
Sebanyak 193 peserta menyelesaikan seluruh rangkaian intervensi lima hari. Dibandingkan dengan kelompok plasebo, kelompok a-cTBS menunjukkan peningkatan yang signifikan dalam komunikasi sosial dari awal hingga pasca-intervensi dan dari awal hingga tindak lanjut satu bulan, dengan pengurangan skor gangguan perbedaan rata-rata masing-masing sebesar -6,25 dan -6,17.
Kelompok a-cTBS juga menunjukkan peningkatan yang lebih besar dalam kemampuan berbahasa. Temuan ini didukung oleh ukuran efek kecil (Cohen's d) yang berkisar antara 0,12 hingga 0,47, yang mewakili perbedaan antara rata-rata kedua kelompok.
Serial Artikel
Menerima Autisme
Pekan ini merupakan kesempatan untuk mendidik diri tentang perlunya menciptakan masyarakat yang lebih menerima individu autis, bukan lagi sebagai liyan, melainkan sebagai manusia yang berpikir dan berperilaku beragam.
Para peneliti menyebutkan, efek samping lebih sering terjadi pada kelompok a-cTBS daripada kelompok plasebo, yakni 54,5 persen berbanding 29,3 persen. Gejala yang paling umum berupa kegelisahan dan ketidaknyamanan kulit kepala. Semua efek samping bersifat ringan hingga sedang dan sembuh secara spontan.
Para peneliti mengakui beberapa keterbatasan dengan pengukuran SRS-2 dan potensi bias dari harapan pengobatan yang lebih besar pada kelompok intervensi. Uji coba ini juga memiliki tindak lanjut satu bulan yang singkat dan lebih dari 80 persen peserta adalah laki-laki.
Namun, mereka menunjukkan bahwa inklusi anak-anak kecil dan mereka yang memiliki disabilitas intelektual mendukung penerapan protokol yang luas. Selain itu, efek yang konsisten di seluruh analisis sensitivitas memberikan keyakinan yang lebih besar pada kesimpulan mereka.
Dalam editorial di The BMJ, edisi yang sama, Benjamin Becker, Guru Besar Departemen Psikologi, Universitas Hongkong mengatakan, a-cTBS bisa menjadi pilihan terapi yang layak dan menjanjikan. Namun, dia juga menganjurkan kehati-hatian, sebelum diterapkan secara luas.
Menurut Becker, satu kekuatan uji coba ini adalah inklusivitasnya. Uji coba sebelumnya telah mulai mengeksplorasi potensi terapeutik stimulasi otak magnetik non-invasif pada anak-anak dan remaja yang lebih tua dengan ASD fungsional tinggi. Sementara itu, Tan dan tim memasukkan anak-anak yang lebih muda dan mereka yang memiliki disabilitas intelektual yang menyertainya, kelompok yang mewakili sebagian besar populasi autis dan memiliki kebutuhan klinis yang belum terpenuhi.
Rentang usia 4-10 tahun memanfaatkan jendela perkembangan neuroplastisitas yang tinggi, ketika sirkuit sosial dan bahasa mungkin sangat mudah berubah dan peningkatan awal dapat secara kritis membentuk lintasan selanjutnya. Bahkan peningkatan kecil dalam komunikasi sosial pada tahap ini dapat meningkatkan peluang untuk berpartisipasi dalam bermain, kehidupan keluarga, dan pendidikan, dengan potensi manfaat jangka panjang dari waktu ke waktu.
Target dan protokol stimulasi juga dirancang dengan mempertimbangkan layanan di dunia nyata. Korteks motorik primer kiri dapat dilokalisasi menggunakan potensial evokasi motorik sederhana, pengukuran fisiologis standar yang biasanya hanya membutuhkan beberapa menit dan menghilangkan kebutuhan akan neuronavigasi atau pencitraan otak yang mahal.
Bagi keluarga yang kesulitan mengakses atau berkomitmen pada program perilaku yang berlangsung berbulan-bulan, protokol seperti ini dinilai menarik.
Peningkatan perilaku sosial dan bahasa yang diamati, konsisten dengan penjelasan tingkat jaringan ini. Selain itu juga meningkatkan kemungkinan bahwa neuromodulasi dini dapat meningkatkan peluang untuk mendapatkan manfaat dari pengalaman sosial yang berkelanjutan pada anak-anak ini. "Setiap sesi stimulasi terapeutik singkat, memungkinkan seluruh rangkaian pengobatan diselesaikan dalam satu minggu," sebut Becker.
Bagi keluarga yang kesulitan mengakses atau berkomitmen pada program perilaku yang berlangsung berbulan-bulan, protokol seperti ini dinilai menarik. Hal ini terutama di lingkungan dengan sumber daya terbatas di mana layanan spesialis langka.
Becker mengatakan, a-cTBS tidak boleh menggantikan dukungan psikososial atau adaptasi pendidikan. Namun, terapi ini dapat menjadi komponen penting dari jalur multimodal untuk anak-anak dengan autisme dengan kesulitan komunikasi sosial yang signifikan, asalkan direplikasi lebih lanjut dan diintegrasikan secara bijaksana dengan perawatan perilaku.





