REPUBLIKA.CO.ID, AMMAN – Aksi pembajakan pasukan penjajah zionis Israel kepada armada Global Sumud Flotilla yang masih berlayar di perairan internasional di dekat pulau Kreta, Yunani, dinilai sebagai pelanggaran hukum internasional.
Kontributor Al Jazeera, Jack Barton, melaporkan dari Amman bahwa operasi ini merupakan pencegatan terjauh yang pernah dilakukan angkatan laut Israel terhadap armada bantuan. Untuk diketahui, posisi armada flotilla saat ini diperkirakan berada sekitar 600 mil laut (1.111 km) dari Gaza.
Baca Juga
Gentle Parenting Bukan Berarti Membiarkan Anak Bertingkah Seenaknya
Gunakan Pemotongan Semi-Mekanik, RPH Ini Siapkan 900 Ekor Sapi untuk Penuhi Kurban Warga Jakarta
DetikDetik Armada GSF Dicegat Israel
Sebagai perbandingan, pencegatan terjauh sebelumnya hanya berjarak 72 mil laut (133 km) dari pesisir Palestina. "Ini adalah langkah yang benar-benar tidak terduga karena kami berada di perairan internasional dan masih sangat jauh dari Gaza," tegas Ra’ouf.
.rec-desc {padding: 7px !important;}
Aktivis dan penulis Tariq Ra’ouf, yang berada di salah satu kapal, mengungkapkan detik-detik mencekam saat armada mereka dikepung. Berbicara kepada Al Jazeera, Ra’ouf menyebut militer Israel mengerahkan kapal tempur besar yang kemudian melepaskan perahu karet taktis (Rigid Inflatable Boats/RIB) untuk mengepung kapal sipil.
"Drone terus mengitari kami dan menyorotkan lampu ke arah kapal. Melalui radio, militer Israel terus mengirim pesan bahwa kami melanggar hukum internasional dan harus segera berhenti," ujar Ra’ouf.
Selain gangguan fisik, Ra’ouf melaporkan adanya taktik perang psikologis. Militer Israel sengaja memutar musik dengan volume keras melalui kanal radio darurat untuk mengganggu konsentrasi para aktivis dan memutus koordinasi antar-kapal. Saat ini, komunikasi dengan sedikitnya 11 kapal telah terputus total.
Pelayaran kemanusian Global Sumud Flotilla (GSF) menembus blokade Gaza mulai diganggu oleh tentara Zionis Israel. Pada Rabu (29/4/2026) malam.