Rangkaian bunga dan pesan belasungkawa tampak berjajar di salah satu titik Stasiun Bekasi Timur, Duren Jaya, Kota Bekasi, Kamis (30/4). Pemandangan ini mewarnai aktivitas penumpang yang mulai berangsur normal pascakecelakaan kereta pada Senin (27/4) lalu.
Karangan bunga tersebut diletakkan di atas sebuah meja di dekat pintu masuk peron. Sejumlah bunga tampak didominasi warna merah muda, merah dan putih, tersusun rapi dan dilengkapi kartu ucapan serta kertas berisi tulisan tangan yang diselipkan di antara rangkaian bunga.
Salah satu rangkaian bunga berwarna merah muda memuat secarik surat berisi daftar nama korban. Pada kertas tersebut tertulis:
“Surga yang kekal untuk perempuan hebat,"
"Tutik Anitasari, Hanum Anjasari, Vica Acnia Pratiwi, Ida Nuraida, Nur Alimatun Citra Lestari, Farida Utami, Gita Septia Wardhani, Fatmawati Rahmayani, Arinjani Novita Sari, Nur Aina Eka Rahmadhani, Nuryati, Nur Laela, Ristuti Kustiyahayu, Mia Citra Khumairoh, Enggar Retno Krisjayanti, Adelia Rifani. Al Fatihah,” lanjut surat itu.
Di sisi lain, rangkaian bunga mawar merah juga disertai pesan belasungkawa pada kertas polos yang dituliskan tangan. Isi pesan tersebut berbunyi:
“Dear,
Hanum Anjasari; Farida Utami; Vica Acnia; Tutik Anitasari; Nur Alimatun; Ida Nuraida; Gita Septia; Fatmawati R.; Arinjani Novita S.; Nur Ainia E.R.; Nuryati; Nurlela; Enggar Retno; Ristuti T.; Adelia Rifani.
Aku mendoakanmu agar tenang di sisi-Nya.”
Rangkaian bunga ini menjadi simbol duka atas 16 korban meninggal dunia dalam kecelakaan antara kereta api jarak jauh dan KRL Commuter Line di kawasan Stasiun Bekasi Timur sebelumnya.
Di tengah aktivitas yang mulai kembali normal, suasana di sekitar stasiun masih menyisakan jejak peristiwa tersebut.
Berdasarkan pantauan kumparan di lokasi pada pukul 11.30 WIB, di area sekitar jalur rel, sisa material rangkaian kereta yang terdampak kecelakaan masih terlihat.
Bagian gerbong yang rusak masih berada di sisi rel dan ditutup terpal berwarna biru dan abu-abu, dengan garis polisi yang masih terpasang di sekelilingnya. Beberapa komponen lain seperti bagian pendingin udara (AC) dan serpihan badan gerbong juga masih tampak berada di lokasi.
Sejumlah penumpang yang kembali menggunakan layanan KRL mengaku masih merasakan dampak psikologis, meski aktivitas perjalanan mulai kembali normal.
Catherine, salah satu penumpang yang berangkat menuju Kebayoran, mengatakan ia tetap menggunakan kereta meski sempat merasa khawatir.
“Takut-takut sih ada tapi kayak ya udah mau naik apa lagi. Semoga ga berulang kembali juga,” ujarnya.
Ia menambahkan, kondisi stasiun pada pagi menjelang siang hari itu relatif normal, meski menurutnya biasanya lebih ramai pada jam yang sama.
“Ini agak normal. Mungkin karena makin siang jadi makin sepi, mungkin nanti ada jam pulang itu baru ramai lagi. Tapi aku berangkat di jam ini lebih ramai sih biasanya,” katanya





