Uni Eropa menyerukan agar perang segera dihentikan oleh Iran dan Amerika Serikat. Pihaknya khawatir dampak perang tersebut akan panjang terhadap kondisi perekonomian global.
Presiden European Commission, Ursula von der Leyen, menyerukan agar jalur pelayaran internasional tetap terbuka tanpa pembatasan maupun pungutan biaya, khususnya di di Selat Hormuz. Ia menegaskan bahwa kebebasan navigasi harus dipulihkan secara penuh dan permanen.
Baca Juga: Harga Minyak Naik, Iran Sebut Blokade Amerika Serikat Gagal
“Ini termasuk mengembalikan kebebasan navigasi penuh dan permanen di Selat Hormuz tanpa tarif,” ujarnya.
Uni Eropa juga menekankan pentingnya menjaga gencatan senjata dan mendorong penyelesaian konflik melalui jalur diplomasi. Ia menyebut stabilitas di kawasan hanya dapat dicapai melalui pendekatan damai dari Iran dan Amerika Serikat.
Von der Leyen juga menambahkan bahwa setiap kesepakatan damai harus mencakup pembahasan program nuklir dan rudal balistik dari Iran. Ia memperingatkan bahwa dampak konflik tidak akan berhenti dalam waktu dekat.
“Konsekuensi konflik ini bisa terasa selama berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun,” katanya.
Sebelumnya, Amerika Serikat melakukan pertemuan dengan sejumlah petinggi perusahaan energi terkait dengan gejolak harga minyak akibat perangnya dengan Iran. Hal ini terjadi setelah adanya pengumuman negara itu akan menekan pasokan minyak dari Teheran.
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump baru-baru ini dilaporkan menggelar pertemuan tersebut untuk membahas sejumlah aspek penting, mulai dari produksi minyak, kontrak berjangka (oil futures), pengiriman (shipping) hingga gas alam.
“Mereka membahas langkah yang telah diambil presiden untuk menstabilkan pasar minyak global serta opsi jika blokade perlu dilanjutkan selama berbulan-bulan, sambil meminimalkan dampaknya bagi konsumen dari Amerika Serikat,” kata Gedung Putih.
Gedung Putih sendiri mengatakan bahwa pihaknya akan terus melakukan blokade terhadap Iran. Ia akan menjadi alat utama tekanan terhadap Teheran. Washington percaya langkah tersebut memberi leverage maksimal bagi Amerika Serikat.
Sementara Iran buka suara terkait dengan blokade laut yang dilakukan oleh Amerika Serikat. Menurutnya, blokade tersebut tidak akan efektif mengingat pihaknya dapat terus memompa minyak di Teheran.
Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menilai langkah blokade untuk menghentikan ekspor minyak negaranya belum memberikan dampak signifikan terhadap kapasitas penyimpanan minyak negara tersebut.
“Tiga hari berjalan, tidak ada sumur yang meledak. Kami bahkan bisa memperpanjangnya hingga satu bulan dan menyiarkannya langsung,” ujarnya.
Ghalibaf menilai strategi blokade justru merugikan pasar global dan memperburuk ketidakstabilan energi. Menurutnya, dampak nyata dari kebijakan tersebut justru terlihat pada lonjakan harga minyak global. Ia menyebut harga telah terdorong hingga di atas US$120 per barel dan berpotensi naik lebih tinggi karena penutupan dari Selat Hormuz.
Selat Hormuz merupakan jalur strategis yang dilalui sebagian besar perdagangan minyak dan gas global. Gangguan dalam kawasan ini dapat langsung memengaruhi harga energi dunia.
Baca Juga: Ogah Terbang ke Pakistan, Trump: Negosiasi Amerika Serikat-Iran Kini via Telepon
Ketegangan di jalur tersebut telah meningkatkan kekhawatiran terhadap stabilitas ekonomi global. Uni Eropa juga secara tidak langsung mendorong semua pihak untuk menahan diri dan menghindari eskalasi lebih lanjut. Upaya diplomasi diharapkan tidak hanya menghentikan konflik, tetapi juga menciptakan stabilitas jangka panjang.





