REPUBLIKA.CO.ID, MOSKOW— Kunjungan Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, ke Rusia kembali memunculkan pertanyaan mengenai sikap Moskow terhadap konflik antara Iran di satu sisi, dan Amerika Serikat serta Israel di sisi lain.
Kunjungan menteri Iran tersebut sebenarnya tidaklah mengejutkan, karena Rusia adalah negara adidaya dan anggota tetap Dewan Keamanan PBB.
Baca Juga
Hubungan Mulai tak Harmonis, Benarkah AS Hentikan Bantuan Militer Langsung ke Israel?
4 Fakta Taktik Senjata Syuhada yang Disiapkan Hizbullah, Pernah Tewaskan Ratusan Tentara Israel
Media Bongkar Perpecahan Nyata di Dalam Tubuh Shin Bet, Badan Keamanan Israel
Selain itu, Iran dan Rusia adalah dua negara sahabat, sebagaimana tercantum dalam Perjanjian 2025 yang ditandatangani di antara keduanya.
Meskipun tidak mungkin Rusia akan memberikan pengaruh langsung terhadap hasil konflik tersebut, namun sikap politiknya dan langkah-langkah praktisnya tetap menjadi faktor penting dalam persamaan krisis yang akan datang di Timur Tengah.
.rec-desc {padding: 7px !important;}
Rusia mengemukakan pandangannya terhadap konflik ini dengan kata-kata yang jelas dan tegas: Amerika Serikat dan Israel telah melakukan agresi terhadap Iran, dan dampaknya melampaui Iran dan Timur Tengah.
Konflik ini penuh dengan risiko besar, termasuk meningkatnya ancaman terjadinya bencana kemanusiaan dan pencemaran nuklir jika fasilitas nuklir rusak.
Selain itu, tidak ada solusi militer untuk konflik ini, yang dibutuhkan adalah upaya diplomatik yang gigih dan berkelanjutan.
Tentu saja, Rusia tidak mendukung pembatasan ekonomi apa pun terhadap Teheran, hal ini terlihat jelas dalam perjanjian Rusia-Iran 2025, dan sejalan dengan sikap tegas Moskow bahwa sanksi apa pun yang melampaui wewenang Dewan Keamanan PBB tidak dapat diterima.
Lihat postingan ini di Instagram
Sebuah kiriman dibagikan oleh Republika Online (@republikaonline)