Ngawi (ANTARA) - Pagi itu, Novi, tidak sekadar datang ke pos gizi. Warga Ngawi itu datang sebagai ibu hamil dengan risiko Kekurangan Energi Kronis (KEK), yaitu kondisi yang berpotensi melahirkan bayi dengan berat badan lahir rendah yang menjadi salah satu faktor risiko awal stunting.
Kondisi KEK pada ibu hamil umumnya ditandai dengan lingkar lengan atas kurang dari 23,5 sentimeter. Kondisi ini menjadi salah satu indikator risiko karena berkaitan dengan kecukupan asupan gizi selama kehamilan yang berpengaruh pada tumbuh kembang janin.
Pagi itu, semangkuk “sup matahari” mengepul hangat di hadapan Novi. Isinya sederhana namun padat gizi. Mulai dari wortel, kentang, daging ayam, hati ayam, telur bebek, patin dan tak lupa daun kelor yang mudah ditemukan di sekitar rumah.
Sup siap santap itu merupakan hasil olahan para relawan di Pos Gizi Dapur Sehat Atasi Stunting. Sup itu bukan satu-satunya menu sehat untuk ibu hamil yang dimasak di tempat itu. Masih ada enam menu lainnya.
Namun sup itu menu sehat favorit Novi di Pos Gizi.
Di Pos Gizi tersebut, Novi bercerita, dirinya tidak hanya disuguhi makanan jadi, namun juga diajari cara memasak menu sehat untuk memperbaiki asupan gizi sejak masa kehamilan.
“Saya sebagai ibu hamil terbantu, masakan yang didemokan dapat saya praktikkan,” kata Novi.
Itulah sekelumit cerita Novi yang kini tengah berjuang mengatasi risiko stunting pada bayi yang akan dilahirkannya.
Membenahi dari Hulu
Persoalan stunting sebenarnya bukan hanya milik orang yang tengah mengandung, namun sudah dimulai sejak dari remaja.
Stunting tidak selalu berangkat dari keterbatasan pangan, tetapi juga kebiasaan makan dan kondisi kesehatan remaja putri sebagai calon ibu.
Namun sayangnya, para remaja putri tidak menyadari persoalan risiko stunting dan KEK.
Untuk itu menurut Program Manager PASTI WVI Hotmianida Panjaitan, diperlukan edukasi dengan pendekatan khusus kepada para remaja putri. Terutama untuk memberikan kesadaran terhadap pentingnya asupan gizi bagi remaja putri agar tidak memiliki risiko melahirkan bayi stunting di masa depan.
PASTI WVI merupakan inisiatif untuk mempercepat penurunan stunting melalui pemberdayaan masyarakat.
Hotmianida Panjaitan mengatakan salah satu pendekatan yang mudah pada remaja putri dimulai dari pengenalan mengenai anemia (kurang darah) dan dampaknya pada kesehatan ibu serta janin.
Anemia dapat mengakibatkan ketidakcukupan asupan energi dan nutrisi pada ibu hamil, yang berdampak pada pertumbuhan dan perkembangan janin. Apabila gangguan tersebut berlanjut akan memicu stunting pada anak di kemudian hari.
Sementara kesadaran mengenai anemia di kalangan remaja di Ngawi masih sangat kurang, Asupan gizi ataupun tablet penambah darah tidak begitu diminati. Hasil riset Generasi Berencana (GenRe) di Kabupaten Ngawi menunjukkan konsumsi tablet tambah darah pada remaja masih rendah.
Upaya edukasi terhadap pentingnya mengatasi anemia pada remaja dibutuhkan pendekatan yang lebih kreatif agar pesan kesehatan bisa diterima dengan baik.
Hotmianida mengatakan, pendekatan kreatif seperti lomba menjadi salah satu cara agar remaja mau berpartisipasi dan terlibat.
“Membuat remaja kumpul itu agak sulit. Kalau tidak menarik, mereka tidak mau datang. Karena itu kami mengatasinya dengan mengadakan kegiatan seperti lomba,” ujarnya.
Melalui pendekatan tersebut, remaja tidak hanya menjadi penerima informasi, tetapi juga didorong untuk menyampaikan kembali pesan kepada teman sebayanya, termasuk melibatkan remaja laki-laki dalam upaya pencegahan stunting.
Dari dapur ke meja makan
Tidak hanya di tingkat remaja, upaya melawan stunting juga harus ditumbuhkan melalui keluarga.
Di tingkat keluarga inilah, intervensi dilakukan melalui kegiatan seperti Dapur Sehat Atasi Stunting (Dashat). Melalui Dashat warga belajar mengolah bahan pangan lokal menjadi menu bergizi dengan biaya terjangkau.
Salah satu contohnya adalah menu seperti “sup matahari”, yang memanfaatkan telur bebek hasil produksi desa serta daun kelor yang ditanam di pekarangan rumah warga.
Pemafaatan bahan lokal ini dinilai mampu menekan biaya sekaligus memastikan ketersediaan sumber gizi di tingkat rumah tangga.
“Satu porsi bisa sekitar Rp10.000, tergantung bahan yang digunakan,” kata relawan pos gizi, Partini.
Inisiatif lain yang berkembang di Ngawi adalah “arisan telur”, yaitu skema gotong royong warga untuk meningkatkan konsumsi protein hewani.
Ketua TPPS Desa, Dwi Ratnawati mengatakan arisan telur di wilayahnya dilaksanakan sejak Oktober 2025.
Laporan menunjukkan ibu hamil yang terlibat dalam program ini mengalami kenaikan berat badan dan melahirkan bayi dengan berat di atas 2,5 kilogram. Di sisi lain, tingkat kehadiran warga ke posyandu juga dilaporkan meningkat.
Laporan setempat juga mencatat jumlah kasus stunting menurun dari sekitar 33 kasus menjadi 12 kasus, meski belum dapat dipastikan keterkaitannya secara langsung dengan intervensi yang dilakukan.
Indikasi perbaikan juga terlihat pada tingkat individu, antara lain peningkatan lingkar lengan ibu hamil dari 23 cm menjadi 27 cm serta kenaikan berat badan ibu dan anak.
Namun demikian dampak terhadap penurunan angka stunting secara keseluruhan masih memerlukan pemantauan lebih lanjut.
Kolaborasi
Sejumlah upaya yang berjalan di tingkat desa tidak berdiri sendiri. Ada keterlibatan berbagai pihak dalam mendorong penanganan stunting di daerah.
Inisiatif ini merupakan bagian dari Program PASTI (Partner Akselerasi Penurunan Stunting di Indonesia), yang dijalankan melalui kolaborasi antara Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Tanoto Foundation, PT Amman Mineral Nusa Tenggara, dan PT Bank Central Asia Tbk.
Di lapangan, pendampingan dilakukan oleh Wahana Visi Indonesia (WVI) bersama Yayasan Cipta, pemerintah daerah, serta masyarakat setempat.
Di tingkat desa, bentuk kolaborasi tersebut hadir melalui berbagai kegiatan yang dijalankan bersama warga, seperti pos gizi, dapur sehat, serta inisiatif berbasis komunitas seperti arisan telur.
Sementara itu, data menunjukkan prevalensi stunting di Kabupaten Ngawi mengalami penurunan dari sekitar 28,5 persen pada 2022 menjadi 11,4 persen pada 2024. Capaian ini menjadi bagian dari upaya pemerintah daerah dalam mencapai target zero stunting pada 2027.
Kondisi KEK pada ibu hamil umumnya ditandai dengan lingkar lengan atas kurang dari 23,5 sentimeter. Kondisi ini menjadi salah satu indikator risiko karena berkaitan dengan kecukupan asupan gizi selama kehamilan yang berpengaruh pada tumbuh kembang janin.
Pagi itu, semangkuk “sup matahari” mengepul hangat di hadapan Novi. Isinya sederhana namun padat gizi. Mulai dari wortel, kentang, daging ayam, hati ayam, telur bebek, patin dan tak lupa daun kelor yang mudah ditemukan di sekitar rumah.
Sup siap santap itu merupakan hasil olahan para relawan di Pos Gizi Dapur Sehat Atasi Stunting. Sup itu bukan satu-satunya menu sehat untuk ibu hamil yang dimasak di tempat itu. Masih ada enam menu lainnya.
Namun sup itu menu sehat favorit Novi di Pos Gizi.
Di Pos Gizi tersebut, Novi bercerita, dirinya tidak hanya disuguhi makanan jadi, namun juga diajari cara memasak menu sehat untuk memperbaiki asupan gizi sejak masa kehamilan.
“Saya sebagai ibu hamil terbantu, masakan yang didemokan dapat saya praktikkan,” kata Novi.
Itulah sekelumit cerita Novi yang kini tengah berjuang mengatasi risiko stunting pada bayi yang akan dilahirkannya.
Membenahi dari Hulu
Persoalan stunting sebenarnya bukan hanya milik orang yang tengah mengandung, namun sudah dimulai sejak dari remaja.
Stunting tidak selalu berangkat dari keterbatasan pangan, tetapi juga kebiasaan makan dan kondisi kesehatan remaja putri sebagai calon ibu.
Namun sayangnya, para remaja putri tidak menyadari persoalan risiko stunting dan KEK.
Untuk itu menurut Program Manager PASTI WVI Hotmianida Panjaitan, diperlukan edukasi dengan pendekatan khusus kepada para remaja putri. Terutama untuk memberikan kesadaran terhadap pentingnya asupan gizi bagi remaja putri agar tidak memiliki risiko melahirkan bayi stunting di masa depan.
PASTI WVI merupakan inisiatif untuk mempercepat penurunan stunting melalui pemberdayaan masyarakat.
Hotmianida Panjaitan mengatakan salah satu pendekatan yang mudah pada remaja putri dimulai dari pengenalan mengenai anemia (kurang darah) dan dampaknya pada kesehatan ibu serta janin.
Anemia dapat mengakibatkan ketidakcukupan asupan energi dan nutrisi pada ibu hamil, yang berdampak pada pertumbuhan dan perkembangan janin. Apabila gangguan tersebut berlanjut akan memicu stunting pada anak di kemudian hari.
Sementara kesadaran mengenai anemia di kalangan remaja di Ngawi masih sangat kurang, Asupan gizi ataupun tablet penambah darah tidak begitu diminati. Hasil riset Generasi Berencana (GenRe) di Kabupaten Ngawi menunjukkan konsumsi tablet tambah darah pada remaja masih rendah.
Upaya edukasi terhadap pentingnya mengatasi anemia pada remaja dibutuhkan pendekatan yang lebih kreatif agar pesan kesehatan bisa diterima dengan baik.
Hotmianida mengatakan, pendekatan kreatif seperti lomba menjadi salah satu cara agar remaja mau berpartisipasi dan terlibat.
“Membuat remaja kumpul itu agak sulit. Kalau tidak menarik, mereka tidak mau datang. Karena itu kami mengatasinya dengan mengadakan kegiatan seperti lomba,” ujarnya.
Melalui pendekatan tersebut, remaja tidak hanya menjadi penerima informasi, tetapi juga didorong untuk menyampaikan kembali pesan kepada teman sebayanya, termasuk melibatkan remaja laki-laki dalam upaya pencegahan stunting.
Dari dapur ke meja makan
Tidak hanya di tingkat remaja, upaya melawan stunting juga harus ditumbuhkan melalui keluarga.
Di tingkat keluarga inilah, intervensi dilakukan melalui kegiatan seperti Dapur Sehat Atasi Stunting (Dashat). Melalui Dashat warga belajar mengolah bahan pangan lokal menjadi menu bergizi dengan biaya terjangkau.
Salah satu contohnya adalah menu seperti “sup matahari”, yang memanfaatkan telur bebek hasil produksi desa serta daun kelor yang ditanam di pekarangan rumah warga.
Pemafaatan bahan lokal ini dinilai mampu menekan biaya sekaligus memastikan ketersediaan sumber gizi di tingkat rumah tangga.
“Satu porsi bisa sekitar Rp10.000, tergantung bahan yang digunakan,” kata relawan pos gizi, Partini.
Inisiatif lain yang berkembang di Ngawi adalah “arisan telur”, yaitu skema gotong royong warga untuk meningkatkan konsumsi protein hewani.
Ketua TPPS Desa, Dwi Ratnawati mengatakan arisan telur di wilayahnya dilaksanakan sejak Oktober 2025.
Laporan menunjukkan ibu hamil yang terlibat dalam program ini mengalami kenaikan berat badan dan melahirkan bayi dengan berat di atas 2,5 kilogram. Di sisi lain, tingkat kehadiran warga ke posyandu juga dilaporkan meningkat.
Laporan setempat juga mencatat jumlah kasus stunting menurun dari sekitar 33 kasus menjadi 12 kasus, meski belum dapat dipastikan keterkaitannya secara langsung dengan intervensi yang dilakukan.
Indikasi perbaikan juga terlihat pada tingkat individu, antara lain peningkatan lingkar lengan ibu hamil dari 23 cm menjadi 27 cm serta kenaikan berat badan ibu dan anak.
Namun demikian dampak terhadap penurunan angka stunting secara keseluruhan masih memerlukan pemantauan lebih lanjut.
Kolaborasi
Sejumlah upaya yang berjalan di tingkat desa tidak berdiri sendiri. Ada keterlibatan berbagai pihak dalam mendorong penanganan stunting di daerah.
Inisiatif ini merupakan bagian dari Program PASTI (Partner Akselerasi Penurunan Stunting di Indonesia), yang dijalankan melalui kolaborasi antara Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Tanoto Foundation, PT Amman Mineral Nusa Tenggara, dan PT Bank Central Asia Tbk.
Di lapangan, pendampingan dilakukan oleh Wahana Visi Indonesia (WVI) bersama Yayasan Cipta, pemerintah daerah, serta masyarakat setempat.
Di tingkat desa, bentuk kolaborasi tersebut hadir melalui berbagai kegiatan yang dijalankan bersama warga, seperti pos gizi, dapur sehat, serta inisiatif berbasis komunitas seperti arisan telur.
Sementara itu, data menunjukkan prevalensi stunting di Kabupaten Ngawi mengalami penurunan dari sekitar 28,5 persen pada 2022 menjadi 11,4 persen pada 2024. Capaian ini menjadi bagian dari upaya pemerintah daerah dalam mencapai target zero stunting pada 2027.




