Aktris Shaloom Razade terlibat dalam film horor terbaru garapan sutradara Jay Sukmo berjudul The Bell: Panggilan untuk Mati. Berbeda dengan sosok hantu umumnya, Shaloom mengungkap karakter hantu tanpa kepala dalam film ini memiliki sisi kemanusiaan.
"Awalnya aku tertarik karena ternyata si hantu Penebok ini punya alasan kenapa dia mengumpulkan kepala, bukan sekadar teror saja. Ternyata hantunya ini sebenarnya punya hati," kata Shaloom Razade di XXI Epicentrum, belum lama ini.
Shaloom Razade mengaku sempat merasa tersentuh saat pertama kali mendalami naskah film tersebut. Ia melihat ada kerinduan dari sosok hantu Penebok yang ingin tampil utuh di hadapan orang yang dicintainya.
"Aku malah jadi terharu pas baca skripnya. Ada makna di balik aksi mengumpulkan kepala itu. Dia cuma kepingin ketemu orang yang sangat dicintainya, kepingin orang itu melihat dia seutuhnya. Aku enggak pernah melihat ini dari hantu lain gitu, dan itu yang bikin aku tertarik sama Penebok ini," tutur Shaloom.
Shaloom Razade Pelajari Bahasa Belanda Saat Main di Film The BellTotalitas putri Wulan Guritno ini juga terlihat dari usahanya menghidupkan karakter Isabella, aktivis zaman penjajahan yang memiliki darah keturunan Belanda. Demi memperkuat perannya,
Shaloom mengusulkan karakter Isabella berdialog bahasa Belanda dalam beberapa adegan penting.
"Bahasa Belandanya itu sebenarnya ide saya sendiri. Sebagai apa ya, biar kadang lihat Isabella ini gimana ya cara dia menyampaikan pesan ini ke orang Belandanya, biar Orang Belanda itu mengerti bahwa oh nih Isabella tuh serius dan ya of course dia juga keturunan Belanda gitu," ungkap Shaloom.
Meski sempat merasa tertantang, ia merasa hal itu sangat penting untuk memperkuat karakter Isabella. Shaloom bahkan harus belajar ekstra keras untuk menguasai dialek tersebut.
"Jadi aku kasih ide 'Pak saya ganti ya ke bahasa Belanda', akhirnya nyesel tapi enggak apa-apa, bagus. Terus belajar sama siapa gitu, karena menurut aku itu penting juga buat Isabella," kenang Shaloom.
Senada dengan Shaloom, Budi Yulianto selaku eksekutif produser MBK Production menyebut film ini jadi bentuk kecintaannya terhadap tanah kelahirannya, Bangka Belitung. Ia ingin mengangkat legenda lokal ke kancah nasional.
"Jadi kalau ditanya kenapa film ini ada, ya memang film ini diangkat dari urban legend Belitung, tempat kelahiran saya ya. Kita bawa film ini dengan genre kalau dibicarakan horor mungkin bukan horor juga karena ada romance juga. Jadi perpaduan horor dengan romance juga. Sesuatu yang mungkin berbeda di dunia perfilman Indonesia," papar Budi Yulianto.
Sementara itu, produser Aris Muda menyebut bahwa pemilihan sosok hantu tanpa kepala jadi strategi memberikan penyegaran di tengah jenuhnya pasar film horor yang didominasi kuntilanak dan pocong.
"Artinya pasar kami yang kami sasar adalah para penonton film Indonesia baik horor maupun tidak yang ingin mencari hiburan atau film yang berbeda. Itu yang kami tawarkan salah satunya, meskipun secara keseluruhan film ini adalah ya pasti soal horor menakutkan dan lain sebagainya," tutup Aris.
Film The Bell: Panggilan untuk Mati, dijadwalkan tayang serentak di bioskop mulai 7 Mei 2026.





